Ilustrasi jemaah haji (Pexels/Anas Jawed)JAKARTA - Kematian jemaah haji di Indonesia masih terbilang tinggi. Pada tahun 2024, terdapat 461 jemaah haji dari Indonesia yang meninggal dunia.“Di tahun lalu, angka kematian rumah kita itu ada 461 orang. Ini masih cukup tinggi,” kata Dr. Mohammad Imran, MKM - Ketua Tim Kerja Pemeriksaan Kesehatan Haji, di acara Kenali dan Penuhi Rekomendasi Pencegahan Penyakit Menular Pernapasan untuk Jemaah Haji & Umrah, di Jakarta Pusat, pada Rabu, 26 Februari 2025.Penyebab tertinggi kematian jemaah haji Indonesia tersebut adalah karena penyakit jantung, yakni mencapai 37,9 persen. Penyebab kematian tertinggi kedua adalah karena penyakit pada paru-paru, yang didominasi oleh pneumonia.“Yang paling banyak memang adalah kelompok penyakit jantung, serangan jantung. Kemudian, yang kelompok kedua penyebab kematian tertinggi adalah penyakit paru, yang tentu saja yang paling banyak adalah pneumonia,” jelasnya.Penyebab lainnya kematian jemaah haji adalah syok akibat infeksi, syok kekurangan cairan, stroke, gagal ginjal, hingga kanker. Dokter Imran mengatakan bahwa sebagian besar penyakit tersebut sudah diderita jemaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.Untuk kelompok usia jemaah haji yang meninggal dunia paling banyak berusia lebih dari 60 tahun, yakni 80,5 persen. 50,1 persen merupakan jemaah haji dengan risti atau risiko penyakit berat dan 31,7 persen merupakan risti sedang.Dengan demikian, pemeriksaan kesehatan bagi jemaah haji yang akan berangkat di tahun 2025 ini harus dilakukan dengan lebih baik lagi. Jemaah haji diwajibkan melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, terutama vaksinasi untuk pencegahan mengalami penyakit menular terutama untuk penyakit pada pernapasan. Selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan kesehatan jemaah haji juga meliputi kesehatan jiwa.“Tidak hanya sekedar kesehatan fisik, tapi juga mengikuti kesehatan jiwa dan kemampuan untuk melakukan aktivitas keseharian yang ringan,” tambah Dokter Imran.