Jemaah Haji Rentan Terkena ISPA yang Disebabkan oleh RSV, Apa Itu?

Wait 5 sec.

Ilustrasi haji (Unsplash)JAKARTA - Waktu tunggu haji yang panjang tak jarang membuat umat Islam baru bisa beribadah haji ketika sudah memasuki usia lanjut. Dengan usia lanjut dan harus melakukan berbagai kegiatan ibadah yang padat, para jemaah haji sangat rentan terkena penyakit.Salah satunya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang disebabkan oleh beberapa virus, seperti respiratory syncytial virus (RSV). RSV merupakan virus yang bisa masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut, yang menyerang paru-paru.“Seiring meningkatnya jumlah lansia yang mengikuti ibadah haji dan umrah3, melakukan konsultasi kepada tenaga medis menjadi langkah penting sebelum keberangkatan haji dan umrah, untuk meningkatkan perlindungan terhadap para jemaah terutama terhadap ISPA yang salah satunya disebabkan oleh RSV (Respiratory Syncytial Virus) di tanah suci,” kata dr. Mohammad Imran, MKM, Ketua Tim Kerja Pemeriksaan Kesehatan Haji, di Jakarta Pusat, pada Rabu, 26 Februari 2025.RSV dapat menular melalui inhalasi atau kontak dengan droplet saluran napas dari mereka yang terinfeksi. Gejala umum pasien yang terinfeksi RSV adalah hidung tersumbat, batuk, mengi, dan demam ringan.RSV seringkali dikaitkan sebagai penyakit anak-anak. Namun, lansia juga sangat rentan terkena RSV karena kekebalan tubuhnya mulai menurun.Menurut studi yang dilakukan pada negara- negara berpendapatan tinggi diperkirakan 470.000 individu yang berusia ≥60 tahun di rawat inap dan sekitar 30.000 individu meninggal di rumah akibat infeksi RSV. Sementara di Asia Tenggara diperkirakan terdapat 24,5 juta kasus ISPA karena RSV pada orang dewasa ≥60 tahun, dan secara khusus di Indonesia diperkirakan terdapat 9,788,487 kasus ISPA RSV.Saat ini, RSV telah dikaitkan dengan beban penyakit yang tinggi, terutama pada lansia. Selain itu, Lansia dengan kondisi tertentu, seperti gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure), asma, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang memiliki risiko rawat inap, berkembang jadi pneumonia, tingkat kematian akan lebih tinggi jika terinfeksi RSV.Namun, hingga saat ini belum tersedia pengobatan khusus untuk mengattasi RSV pada orang dewasa, yang semakin menyulitkan penanganannya. Oleh karena itu, tindakan preventif terutama vaksinasi terhadap RSV merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.“Kelompok peserta dengan usia di atas 60 tahun umumnya mengalami Penurunan Kekebalan Terkait Usia (ARDI) yang membuat semakin rentan terhadap infeksi penyakit, salah satunya RSV,” kata Dr.dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp. K.F.R MARS. AIFO-K dari Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia.“Mengingat tingginya angka morbiditas dan mortilitas terkait infeksi RSV pada kelompok dewasa usia lanjut sangat penting bagi kita untuk memprioritaskan vaksinasi. Terutama pada individu dalam populasi berisiko tinggi, termasuk mereka yang sudah lansia dan memiliki kondisi medis kronis,” tambahnya.Oleh karena itu, kerja sama yang baik antara pemerintah dan berbagai pihak sangat penting untuk memenuhi kebutuhan vaksin tersebut, salah satunya dengan GlaxoSmithKline (GSK) Indonesia. Ini karena dengan vaksinasi akan melindungi banyak individu dari risiko kematian dari berbagai penyakit, termasuk yang disebabkan oleh RSV.“Sebagai pemimpin global dalam penyediaan vaksin, GSK memasok vaksin ke lebih dari 160 negara, melindungi individu sepanjang hidup mereka dari berbagai penyakit. Setiap tahun, vaksinasi berperan penting dalam mencegah sekitar 3.5-5 juta kematian di seluruh dunia,” pungkas Presiden Direktur GlaxoSmithKline (GSK) Indonesia, Manishkumar Munot.