Bitcoin Jatuh di Bawah Rp1,4 Miliar, Pasar Global Bergejolak dan Dampak Peretasan Bybit

Wait 5 sec.

Bitcoin mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan (foto: dok. bitcoin.com)JAKARTA – Bitcoin mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan pada Selasa, 25 Februari, setelah ketidakpastian pasar global akibat kebijakan tarif AS semakin memperburuk sentimen investor kripto yang sudah terpukul oleh peretasan 1,5 miliar dolar AS (Rp24.5 triliun) pada bursa Bybit, pekan lalu.Mata uang kripto terbesar di dunia ini turun di bawah 90.000 dolar AS (Rp1.471.050.000) untuk pertama kalinya sejak 18 November, sempat anjlok hingga 7,5% sebelum akhirnya diperdagangkan di 89.314 dolar AS, turun 5% dalam sehari.Investor global saat ini dalam kondisi waspada terhadap potensi perlambatan ekonomi AS, sementara Presiden AS, Donald Trump, bersiap untuk memberlakukan tarif 25% terhadap impor dari Kanada dan Meksiko mulai Maret. Kebijakan proteksionisme ini meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah AS, yang mengalami kenaikan harga signifikan."Situasi makroekonomi menjadi alasan utama penurunan harga dalam beberapa jam terakhir," kata Marcel Heinrichsmeier, analis aset kripto di DZ Bank. "Pengumuman tarif yang terus berlanjut dan kebijakan proteksionisme Trump kembali menciptakan ketidakpastian, memicu ketakutan akan perang dagang dan inflasi yang kembali meningkat."Selain faktor makro, serangan siber terhadap bursa Bybit pekan lalu juga menambah tekanan negatif di pasar kripto. Peretasan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah kripto, dengan nilai yang dicuri lebih dari dua kali lipat dibandingkan kasus pencurian kripto terbesar sebelumnya.Joseph Edwards, kepala riset di Enigma Securities, mengatakan bahwa kejatuhan harga hari ini kemungkinan merupakan "reaksi tertunda dari peretasan Bybit.""Pasar sempat bertahan dengan baik setelah insiden ini, tetapi biasanya ada harga yang harus dibayar kemudian ketika reaksi awal tidak seketika terjadi," katanya.Dampak buruk tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Ethereum (ETH), mata uang kripto terbesar kedua, turun 9,5% ke 2.386 dolar AS, menyentuh level terendah sejak Oktober 2024. Sementara itu, altcoin lainnya mengalami penurunan lebih tajam, dengan Dogecoin (DOGE), Solana (SOL), dan Cardano (ADA) masing-masing turun sekitar 20% dalam sepekan terakhir, menurut data CoinGecko.Selain faktor eksternal, pasar kripto juga mengalami tekanan akibat kurangnya katalis positif yang bisa mendorong harga lebih tinggi. Awalnya, optimisme bahwa pemerintahan Trump akan mendukung industri kripto melalui kebijakan pro-Bitcoin dan pelonggaran regulasi sempat mendorong harga Bitcoin ke rekor tertinggi 100.000 dolar AS (Rp1,63 miliar) pada Desember. Namun, sejak pelantikan Trump pada Januari, tidak ada langkah konkret yang diambil untuk mendukung pertumbuhan pasar kripto.Ditambah lagi, investor mulai menarik dana dari ETF berbasis Bitcoin. Data LSEG menunjukkan bahwa dana yang keluar dari ETF Bitcoin bulan ini diperkirakan mencapai 644 juta dolar AS, yang merupakan arus keluar terbesar sejak produk ini diluncurkan pada Januari 2024.Dengan kombinasi tekanan makroekonomi, peretasan Bybit, dan kurangnya katalis positif baru, pasar kripto saat ini berada dalam fase bearish. Bitcoin yang sempat mencetak rekor kini harus berjuang mempertahankan level harga di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya aksi jual investor.