Mukesh Ambani Gunakan "Brain Mapping" untuk Menarik Pengiklan ke IPL

Wait 5 sec.

Miliarder India, Mukesh Ambani, kini menargetkan bisnis kecil dan menerapkan studi neuroscience (foto: x @indianweb2).JAKARTA - Setelah mencapai kesepakatan merger media senilai 8,5 miliar dolar AS (Rp138.9 triliun) dengan Walt Disney, miliarder India, Mukesh Ambani, kini menargetkan bisnis kecil dan menerapkan studi neuroscience yang tidak konvensional. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dari Indian Premier League (IPL), liga kriket paling bernilai di dunia.Hak siar IPL dan turnamen kriket lainnya yang menelan biaya hampir 10 miliar dolar AS (Rp163.4 triliun) bagi Disney dan Reliance dalam beberapa tahun terakhir menjadi beban besar bagi perusahaan gabungan yang kini menjadi raksasa hiburan terbesar di India.Bersiap menghadapi persaingan dengan Netflix dan Amazon di pasar senilai 28 miliar dolar AS (Rp457.6 triliun), Reliance mengadakan seminar tertutup di tujuh kota di India selama satu bulan untuk menarik perusahaan kecil agar beriklan di IPL. Perusahaan menawarkan paket iklan dengan harga mulai dari 17.000 dolar AS atau sekitar Rp266 juta.Dalam dokumen internalnya, Reliance menyatakan bahwa iklan adalah bagian integral dari tayangan IPL. Perusahaan menargetkan 40 juta televisi pintar dan 420 juta perangkat seluler untuk tayangan IPL yang akan berlangsung selama 60 hari mulai 22 Maret.Reliance secara diam-diam mempresentasikan hasil penelitian "brain mapping" kepada agensi periklanan. Studi tersebut mengklaim telah menganalisis neuron peserta dan menunjukkan bahwa iklan yang ditayangkan di platform streaming Reliance memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dibandingkan Google.Strategi Menggenjot Pendapatan IklanLima eksekutif media dan sumber dari Reliance, serta dua presentasi perusahaan, mengungkapkan bahwa Reliance kini fokus menarik pengiklan kecil dengan memperluas inventaris iklan digitalnya. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan streaming."Kita harus menghasilkan uang," kata salah satu eksekutif perusahaan yang memahami strategi ini.Reliance juga berencana memonetisasi ruang kecil pada layar skor di aplikasi seluler setelah memutuskan untuk menghentikan layanan streaming gratis IPL di platform JioHotstar mulai tahun ini. Langkah ini menandakan adanya tekanan pendapatan yang dihadapi perusahaan.Seorang pemilik startup wellness yang menghadiri seminar Reliance di Bengaluru, Anita Devraj, mengungkapkan bahwa meskipun paket iklan IPL lebih murah dari sebelumnya, ia masih merasa lebih hemat untuk beriklan di Instagram dan YouTube.Investasi Hak Siar yang MahalSebelum merger, Reliance dan Disney masing-masing menghabiskan sekitar 3 miliar dolar AS (Rp49 triliun) untuk memperoleh hak siar IPL hingga 2027. Selain itu, mereka juga menggelontorkan miliaran dolar untuk hak siar ICC dan liga kriket lainnya.Namun, investasi besar ini menjadi beban bagi Disney India, yang sempat menggambarkan hak siar ICC sebagai "membebani" dengan perkiraan kerugian mencapai 1,42 miliar dolar AS.Di sisi lain, Reliance melihat IPL sebagai daya tarik utama bagi pengiklan dan penonton. Perusahaan berharap konsumen yang tertarik dengan IPL juga akan berlangganan konten lain seperti film Bollywood dan tayangan HBO.Agar merger ini disetujui oleh otoritas antimonopoli India, Reliance dan Disney berjanji tidak akan menaikkan tarif iklan secara tidak wajar. Namun, tahun ini, Reliance tetap menaikkan tarif iklan IPL streaming hingga 25%.Media Ant, salah satu agensi media di India, menyebutkan bahwa mereka membeli iklan dalam jumlah besar dari Reliance dan menjualnya kembali ke klien dengan harga lebih rendah. Situs web Media Ant menawarkan paket iklan IPL mulai dari 500.000 rupee (Rp94,8 juta), sementara iklan YouTube bisa dimulai dari hanya 10.000 rupee (Rp1,8 juta).Reliance Tantang Raksasa Teknologi ASReliance semakin gencar menantang dominasi Google dan Meta dalam periklanan digital di India. Perusahaan memanfaatkan data pengguna untuk menargetkan iklan berdasarkan usia, pendapatan, dan lokasi, sekaligus menaikkan tarif iklan mereka.Pitch deck Reliance bahkan menyertakan gambar peserta yang mengenakan headset dan monitor detak jantung dalam studi "brain mapping" untuk membandingkan tingkat keterlibatan iklan IPL dengan platform pesaing seperti Instagram dan YouTube.Reliance mengklaim bahwa fokus, keterlibatan, dan daya ingat terhadap iklan mereka hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan iklan di Meta dan Google. Namun, seorang analis streaming dari Informa TechTarget, Daoud Jackson, meragukan strategi Reliance yang mengandalkan penelitian neuroscience ini."Anda tidak akan memenangkan pasar hanya dengan menunjukkan pemindaian otak dalam rapat dewan tahun depan," kata Jackson. "Yang lebih penting adalah grafik keuntungan dan kerugian.