DeepSeek, sedang bersiap untuk meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru, R2 (foto: x @NasdaqTurk)JAKARTA – Perusahaan rintisan asal China, DeepSeek, sedang bersiap untuk meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru, R2, lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Menurut beberapa sumber yang mengetahui operasional perusahaan, peluncuran yang awalnya dijadwalkan pada Mei kini dipercepat, meskipun tanpa detail spesifik mengenai tanggal rilisnya.Langkah ini dilakukan setelah model sebelumnya, DeepSeek R1, mengguncang pasar global dengan performa yang mengungguli banyak model AI Barat, meskipun dibangun menggunakan chip Nvidia yang lebih rendah daya komputasinya. Peluncuran R1 bahkan memicu penurunan nilai pasar lebih dari 1 triliun dolar AS di berbagai sektor teknologi.DeepSeek menjadi sorotan karena pendekatannya yang berbeda dibandingkan raksasa teknologi China lainnya. Didirikan oleh Liang Wenfeng, seorang mantan manajer dana kuantitatif yang dikenal tertutup, DeepSeek lebih berorientasi pada riset dibandingkan perusahaan komersial pada umumnya.Liang, yang lahir di Guangdong pada tahun 1985 dan merupakan lulusan teknik komunikasi dari Universitas Zhejiang, menjalankan DeepSeek dengan struktur manajemen yang lebih datar. Budaya kerja di perusahaan ini berbeda dari industri teknologi China yang terkenal dengan sistem hirarkis dan budaya kerja “996” (bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari dalam seminggu). Di DeepSeek, karyawan, termasuk lulusan baru, diberikan kendali penuh atas proyek mereka dengan jam kerja yang lebih fleksibel.“Liang memberi kami kepercayaan penuh dan memperlakukan kami sebagai ahli di bidang masing-masing,” kata Benjamin Liu, seorang peneliti berusia 26 tahun yang pernah bekerja di DeepSeek. “Saya memiliki kebebasan penuh dalam mengembangkan bagian penting dari sistem AI mereka.”Alih-alih berfokus pada pengembangan aplikasi berbasis AI seperti yang dilakukan Baidu dan Tencent, DeepSeek lebih memilih menyempurnakan kualitas model AI mereka. Strategi ini terbukti berhasil, karena model R1 mereka dapat bersaing dengan model AI kelas dunia dengan biaya yang jauh lebih rendah.Investasi Besar dan Dukungan ChinaDeepSeek dapat berkembang berkat investasi besar-besaran dari High-Flyer, perusahaan dana kuantitatif milik Liang. Sejak 2020, High-Flyer telah mengalokasikan sekitar 70% pendapatannya untuk riset AI dan membangun dua klaster superkomputer. Salah satunya, Fire-Flyer II, memiliki 10.000 chip Nvidia A100 dan berperan penting dalam pengembangan model AI terbaru mereka.Keputusan untuk berinvestasi besar dalam komputasi AI ini sempat menarik perhatian regulator China, terutama karena akumulasi chip dalam jumlah besar. Namun, pihak berwenang akhirnya tidak mengintervensi, sebuah keputusan yang terbukti krusial ketika Amerika Serikat memberlakukan larangan ekspor chip A100 ke China pada tahun 2022.Kini, pemerintah China mendukung penuh DeepSeek dan bahkan telah menginstruksikan perusahaan untuk tetap rendah hati dalam berinteraksi dengan media guna menghindari perhatian berlebih dari negara-negara Barat.Salah satu faktor utama keberhasilan DeepSeek adalah pendekatan mereka dalam merancang arsitektur AI yang lebih efisien. Model mereka menggunakan teknik Mixture-of-Experts (MoE) dan Multihead Latent Attention (MLA), yang memungkinkan pengolahan data dengan konsumsi daya komputasi yang lebih rendah. Pendekatan ini membuat harga layanan DeepSeek 20 hingga 40 kali lebih murah dibandingkan OpenAI, menurut perkiraan analis di Bernstein.Namun, kesuksesan DeepSeek juga menimbulkan kekhawatiran di Barat. Beberapa negara, termasuk Korea Selatan dan Italia, telah menghapus aplikasi DeepSeek dari toko aplikasi nasional mereka karena masalah privasi. Sementara itu, beberapa pengusaha AI di Barat, termasuk CEO Scale AI, Alexandr Wang, menuduh bahwa DeepSeek memiliki hingga 50.000 chip Nvidia kelas atas yang dilarang diekspor ke China, meskipun belum ada bukti konkret atas klaim tersebut.Dampak Terhadap Kompetisi GlobalDeepSeek kini telah diadopsi oleh berbagai entitas pemerintah dan perusahaan China, termasuk 13 pemerintah kota dan 10 perusahaan energi milik negara. Raksasa teknologi seperti Lenovo, Baidu, dan Tencent juga telah mengintegrasikan model DeepSeek ke dalam produk mereka.Pemerintah China melihat DeepSeek sebagai bukti bahwa negara mereka mampu menyaingi dominasi AI global, terutama di tengah ketegangan perdagangan dan embargo teknologi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.Sementara itu, pesaing DeepSeek di Barat mulai menyesuaikan strategi mereka. OpenAI baru-baru ini menurunkan harga layanan mereka, sementara Google Gemini memperkenalkan paket langganan yang lebih murah. DeepSeek juga mendorong inovasi dalam industri AI, dengan beberapa perusahaan mulai mengadopsi pendekatan mereka yang lebih hemat biaya.Dengan rencana percepatan peluncuran R2, dunia kini menunggu untuk melihat bagaimana DeepSeek akan terus mengguncang industri kecerdasan buatan global.