Ilustrasi orang yang sedang sakit (TungArt7/Pixabay) YOGYAKARTA – Puasa Ramadan menjadi salah satu ibadah yang wajib dilakukan umat Islam yang sudah baligh. Lantas, bagaimana hukum berpuasa bagi orang sakit? Apakah mendapat pengecualian? Yuk, cari tahu jawabannya dalam ulasan di bawah ini.Hukum Berpuasa bagi Orang Sakit Seperti yang kita tahu, puasa Ramadan merupakan rukun Islam keempat. Perintah puasa Ramadan tercantum dalam Al-Qur'an, surah al-Baqarah ayat 183. Ayat ini berbunyi:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.Meski puasa Ramadan termasuk ibadah wajib, Allah SWT memberikan pengecualian bagi orang-orang yang tidak mampu menjalankan ibadah ini selama satu bulan penuh. Adapun kelompok orang yang masuk dalam kriteria ini, yakni orang yang sedang sakit, sedang bepergian atau musafir, serta orang tua renta. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Baqoroh ayat 184, yang berbunyi:أَيَّامٗا مَّعۡدُودَٰتٖۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ"(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.Menyadur laman NU Online, seorang muslim yang sedang sakit diperbolehkan tidak berpuasa apabila menyakitnya menyebabkan bahaya jika tetap menjalankan puasa.Bahkan, jika terlalu memaksakan diri sampai terjadi kematian, maka agama akan memberinya hukum maksiat. Pendapat ini disampaikan oleh Syaikh Nawawi Al Bantani dalam kitab Kaasyifatus Sajaa.اعلم أن للمريض ثلاثة أحوال فإن توهم ضررا يبيح له التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر، فإن تحقق الضرر المذكور ولو بغلبة ظن وانتهى به العذر إلى الهلاك وذهاب منفعة عضو حرم عليه الصوم ووجب عليه الفطر، فإذا استمر صائما حتى مات مات عاصيا، فإن كان المرض خفيفا كصداع ووجع أذن وسن لم يجز الفطر، إلا أن يخاف الزيادة بالصوم"Bagi orang sakit, berlaku tiga kondisi: (1) bila diduga adanya mudarat yang membolehkan bertayamum maka dimakruhkan berpuasa bagi orang yang sakit dan diperbolehkan baginya berbuka; (2) bila mudarat yang diduga tersebut terwujud dengan dugaan yang kuat dapat menimbulkan kerusakan dan hilangnya manfaat suatu anggota badan maka haram berpuasa bagi orang tersebut dan wajib berbuka (alias haram berpuasa)--bila ia tetap terus berpuasa sehingga meninggal dunia maka ia meninggal dalam keadaan bermaksiat; (3) bila sakit yang diderita adalah sakit yang ringan seperti pusing, sakit telinga dan gigi maka tidak diperbolehkan berbuka (alias wajib berpuasa) kecuali bila dikhawatirkan akan bertambah sakitnya dengan berpuasa”.Meski mendapat keringanan, mereka yang tidak berpuasa karena sakit wajib menggantinya di luar bulan Ramadan jika sudah sembuh. Apabila tidak ada harapan sembuh, maka orang tersebut wajib membayar fidyah.Demikian informasi tentang hukum berpuasa bagi orang sakit. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.