Ilustrasi orang ke toilet (Foto: Freepik/jcomp)JAKARTA - Pernahkah Anda merasa ingin buang air besar (BAB) segera setelah makan? Situasi ini bisa sangat mengganggu, terutama ketika masih menikmati makanan di luar rumah. Namun, faktanya, proses pencernaan dan pengeluaran kotoran dalam tubuh memang saling berkaitan. Saat Anda mengunyah makanan, kemungkinan tubuh juga sedang bersiap untuk membuang sisa makanan yang sudah dicerna sebelumnya.Fenomena ini dikenal sebagai refleks gastrokolik, di mana mengisi perut secara otomatis merangsang pergerakan di usus besar, yang kemudian memicu dorongan untuk BAB. Proses ini bisa terjadi dalam waktu sekitar 15 menit setelah makan. Dr. David Kunkel, seorang gastroenterologis dari UC San Diego Health menjelaskan bahwa ini adalah reaksi alami tubuh yang sudah tertanam sejak lahir, mirip dengan refleks lutut yang bergerak saat diketuk."Ini adalah cara normal tubuh kita bekerja,” kata Dr. Kunkel, MD, dikutip VOI dari laman Self.Namun, respons ini bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang baru merasakan dorongan BAB beberapa saat setelah makan. Tetapi ada juga yang langsung merasa ingin ke toilet saat masih di meja makan. Jika hal ini sering terjadi dan mengganggu, bisa jadi refleks gastrokolik Anda terlalu aktif."Yang bisa sangat mengganggu dan mengganggu kualitas hidup,” ujar Dr. Kunkel.Meskipun terlihat seolah-olah makanan yang baru saja masuk langsung keluar. Kenyataannya, proses pencernaan memakan waktu lebih lama. Menurut Dr. Kyle Staller, direktur GI Motility Laboratory di Massachusetts General Hospital, makanan yang Anda makan membutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk benar-benar melewati sistem pencernaan."Faktanya, butuh waktu lebih lama bagi zat-zat tersebut untuk bergerak melalui saluran pencernaan Anda,” tutur Staller.Saat Anda makan, perut akan membesar untuk memberi ruang bagi makanan baru. Pada titik tertentu, reseptor peregangan di dinding perut mengirim sinyal ke sistem saraf otonom. Kemudian, memberi sinyal kepada usus besar untuk mulai berkontraksi. Kontraksi inilah yang mendorong sisa makanan lama di usus besar menuju rektum, sehingga Anda merasa ingin BAB.Pada bayi, refleks ini lebih kuat karena mereka makan lebih sering dan belum bisa mengontrol kebiasaan BAB. Seiring bertambahnya usia, Anda cenderung menekan dorongan ini agar tidak mengganggu aktivitas, tetapi refleksnya tetap ada.Pada beberapa orang, refleks gastrokolik bisa menjadi terlalu aktif, sehingga keinginan untuk BAB setelah makan terasa sangat mendesak atau bahkan disertai nyeri perut. Hal ini sering terjadi pada penderita Irritable Bowel Syndrome (IBS), terutama pada jenis IBS-D (dengan dominasi diare) dan IBS-M (kombinasi diare dan sembelit).Menurut Dr. Staller, IBS berkaitan dengan komunikasi yang terganggu antara otak dan usus. Saraf di saluran pencernaan menjadi lebih sensitif, sehingga pemicu kecilnya, seperti hanya beberapa suapan makanan. Hal ini bisa membuat usus besar berkontraksi secara berlebihan, hingga menyebabkan dorongan mendesak untuk BAB.Selain IBS, faktor lain yang bisa memicu refleks gastrokolik yang terlalu aktif meliputi:- Stres dan kecemasan: Saat Anda cemas, otak bisa memperkuat sensasi yang berasal dari usus, sehingga dorongan untuk BAB terasa lebih kuat.- Intoleransi makanan: Sensitivitas terhadap makanan tertentu, seperti gluten atau produk susu, bisa menyebabkan reaksi pencernaan cepat yang menyerupai refleks gastrokolik.- Keracunan makanan: Jika tubuh mendeteksi sesuatu yang berbahaya dalam makanan, sistem pencernaan akan bekerja lebih cepat untuk mengeluarkannya, sering kali dalam bentuk diare.Cara Mengurangi Keinginan BAB Setelah MakanJika dorongan untuk BAB setelah makan tidak mengganggu Anda, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, jika kondisi ini memengaruhi kenyamanan atau aktivitas, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menguranginya:1. Kurangi Konsumsi KopiKopi terkenal sebagai pemicu BAB karena dapat merangsang kontraksi usus besar dalam waktu kurang dari lima menit setelah diminum. Baik kopi berkafein maupun tanpa kafein dapat meningkatkan produksi hormon cholecystokinin, yang memperkuat refleks gastrokolik.2. Makan dalam Porsi Kecil Tapi SeringSemakin banyak makanan yang masuk sekaligus, semakin besar kemungkinan refleks gastrokolik dipicu. Dr. Kunkel menyarankan untuk mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering guna mengurangi efek peregangan di perut.3. Hindari Makanan Berlemak TinggiMakanan tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga perut tetap penuh lebih lama dan lebih mungkin memicu refleks gastrokolik. Meskipun lemak penting untuk kesehatan, mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan dapat memperburuk masalah ini.4. Konsumsi Obat AntispasmodikJika perubahan pola makan tidak membantu, dokter mungkin akan merekomendasikan obat antispasmodik seperti dicyclomine (Bentyl) atau hyoscyamine (Levsin) untuk mengurangi kontraksi usus besar. Obat ini bisa digunakan sebelum situasi di mana BAB mendesak akan sangat mengganggu, misalnya saat bepergian atau menghadiri acara penting.5. Tangani IBS Secara MenyeluruhJika refleks gastrokolik yang terlalu aktif adalah bagian dari IBS, pengobatan jangka panjang dapat membantu. Ini bisa mencakup:- Diet rendah FODMAP untuk mengurangi fermentasi di usus.- Terapi perilaku kognitif (CBT) untuk mengelola stres yang berkontribusi pada gejala.- Penggunaan obat neuromodulator, seperti antidepresan dosis rendah, untuk menstabilkan komunikasi antara otak dan usus.