Merawat Mimpi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Wait 5 sec.

Ilustrasi para pekerja Indonesia (Digambar dengan AI)Banyak yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia dalam keadaan yang tidak sedang baik-baik saja. Pendapat ini nampaknya tidak keliru jika kita mengacu kepada beberapa aspek, misalnya kondisi rupiah yang hingga hari ini masih dalam tekanan yang cukup dalam. Menurut para ahli, melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal yang selama ini kerap dituding menjadi faktor penyumbang utama atas menurunnya nilai tukar rupiah, tetapi juga diakibatkan oleh faktor internal, yaitu fundamental ekonomi kita.Seperti yang diutarakan oleh pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Imron Mawardi S P M Si yang mengatakan “selain faktor eksternal, faktor internal juga berkontribusi, ketidakstabilan politik dan ekonomi domestik, seperti penurunan harga komoditas dan kebijakan yang tidak konsisten, membuat investor merasa ragu dan menarik investasinya, hal itu memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.” Senada dengan Prof Imron, dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr. rer. pol. Deniey Adi Purwanto menyatakan "salah satu faktor utama pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS saat ini adalah kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah, rencana pemerintah untuk meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran besar, memicu kekhawatiran terkait keberlanjutan fiskal Indonesia."Tentu banyak indikator yang menggambarkan realitas ekonomi kita sekarang ini, namun saya rasa keterangan di paragraf awal bisa menjadi acuan dasar untuk kita agar segera berbenah demi memperbaiki ekonomi. Tentu melalui langkah-langkah kebijakan ekonomi yang konkret dan tepat, karena jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka dikhawatirkan akan berdampak semakin buruknya perekonomian Indonesia.Sebetulnya, sebelum nilai tukar rupiah tertekan seperti sekarang ini, sudah terdapat tanda-tanda awal bahwa ada persoalan cukup serius terkait realitas sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, yaitu tentang penyusutan kelas menengah. Berdasarkan laporan Mandiri Institute bartajuk ‘Demographic Insight Dinamika kelas menengah di 2025’ yang dirilis pada Februari 2026, jumlah penduduk kelas menengah menyusut 1,2 juta jiwa dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta.Dengan angka penurunan ini, maka proporsi kelas menengah tergerus dari posisi 17,1 persen pada 2024 menjadi 16.6 persen pada 2025, senada dengan laporan di atas, sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timnoel Siregar menyatakan bahwa penurunan kelas menengah terjadi seiring terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal.Selain penyusutan kelas menengah, kita juga sedang dihadapkan kepada menurunnya lapangan pekerjaan formal, seperti yang tertuang di dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa porsi pekerja formal di Indonesia kembali mengalami penurunan pada Februari 2026 persentase pekerja formal kini berada di angka 40,58 persen, menyusut dari 40,60 persen pada periode yang sama tahun lalu.Gambaran di atas terkait pelemahan nilai mata uang rupiah, penyusutan kelas menengah hingga minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan formal adalah sebuah potret nyata tentang situasi ekonomi negara kita, anak-anak muda kita betul-betul sedang menghadapi kenyataan pahit yang mesti mereka telan, yang mana generasi-generasi sebelumnya tidak mengalami hal sepahit ini. Pada masa-masa sebelumnya pertumbuhan ekonomi kita cukup bagus bahkan pernah sempat menyentuh hingga 8% (pada era pemerintahan Presiden Soeharto) yang berarti bahwa penciptaan lapangan pekerjaan untuk sektor formal demikian besar sehingga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang banyak.Kendati situasi ekonomi yang cukup berat, kita tidak boleh patah arang apalagi pesimis melihat dan merasakan sendiri kondisi sulit sekarang ini, harapan dan mimpi untuk hidup yang lebih baik harus tetap dijaga bahkan dirawat agar kesempatan datang menerpa, maka dari itu mempersiapkan diri dengan cara mengembangkan keterampilan adalah hal yang patut dilakukan terlebih akses ilmu pengetahuan sekarang ini sudah sangat mudah didapatkan.Mengerutu dan mengeluh atas kondisi ekonomi yang terjadi sekarang ini adalah dua hal yang manusiawi namun yakinlah hal itu tidak akan menjadi solusi atas situasi yang sedang bersama kita hadapi, namun sebaliknya situasi dan kondisi krisis harus menjadi bahan refleksi bagi kita untuk mengevaluasi diri agar kita semakin menjadi pribadi yang mandiri dan terus mempersiapkan diri sehingga bukan hanya menanti peluang untuk datang, justru mampu menciptakan peluang di saat krisis sekalipun.