Pelajaran dari Jerman Timur: Demokrasi dalam Bayang-Bayang Aparat Berseragam

Wait 5 sec.

Ilustrasi aparat berseragam. Foto: Round Icons/UnsplashSuatu pagi di Berlin Timur pada dekade 1980-an, seorang guru sekolah mendapati dirinya dipanggil aparat keamanan untuk dimintai penjelasan tentang percakapan yang ia lakukan di ruang makan rumahnya beberapa hari sebelumnya.Ia terkejut. Percakapan itu hanya berlangsung bersama keluarga dan beberapa teman dekat. Belakangan ia mengetahui bahwa salah satu orang yang hadir ternyata menjadi informan negara. Di negara itu, warga tidak hanya takut berbicara di ruang publik, tetapi juga mulai takut berbicara di ruang keluarga. Pemilu tetap ada, pemerintah tetap berjalan, dan kehidupan sehari-hari tampak normal.Namun di balik semua itu, kebebasan perlahan menghilang karena negara mengetahui terlalu banyak dan warga negara terlalu takut untuk berbeda pendapat.Kisah tersebut menggambarkan salah satu ciri utama police state atau negara polisi. Dalam ilmu politik, istilah ini merujuk pada situasi ketika aparat keamanan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan politik dan sosial, sehingga kebebasan sipil, pengawasan publik, dan mekanisme demokrasi melemah. Negara polisi bukan sekadar negara yang memiliki polisi yang kuat. Negara polisi adalah negara ketika aparat keamanan berubah dari pelayan hukum menjadi instrumen utama untuk mempertahankan kekuasaan politik.Ketika Penjaga Hukum Menjadi Penjaga KekuasaanIlustrasi kekuasaan. Foto: ShutterstockFilsuf politik klasik, John Locke, mengingatkan bahwa tujuan utama negara adalah melindungi hak-hak warga negara, bukan mengendalikan mereka. Karena itu, setiap kekuasaan harus dibatasi oleh hukum dan diawasi oleh masyarakat. Ketika alat penegak hukum tidak lagi tunduk pada prinsip tersebut, demokrasi mulai kehilangan fondasinya.Pandangan serupa dikembangkan ilmuwan politik modern Guillermo O'Donnell melalui teori delegative democracy. Menurut O'Donnell, suatu negara dapat tetap memiliki pemilu, parlemen, dan institusi demokrasi secara formal, tetapi substansi demokrasi melemah ketika lembaga pengawas tidak mampu mengontrol kekuasaan eksekutif dan aparat negara.Dalam kondisi demikian, aparat keamanan tidak lagi berfungsi sebagai penegak hukum yang netral, tetapi menjadi salah satu pilar utama kekuasaan. Kritik publik dipandang sebagai ancaman keamanan, lawan politik diperlakukan sebagai musuh negara, dan ruang kebebasan sipil semakin menyempit.Di sinilah bahaya negara polisi bermula. Demokrasi tidak dihancurkan secara tiba-tiba, tetapi dikikis sedikit demi sedikit atas nama stabilitas, ketertiban, atau keamanan nasional.Pelajaran dari Jerman Timur dan BelarusJerman Timur merupakan salah satu contoh klasik negara polisi dalam sejarah modern. Lembaga keamanan negara, Stasi, membangun jaringan pengawasan yang luar biasa luas. Menjelang akhir 1980-an, Stasi memiliki sekitar 91.000 pegawai penuh waktu dan hampir 189.000 informan tidak resmi untuk mengawasi sekitar 16 juta penduduk. Artinya, hampir setiap lingkungan sosial berpotensi menjadi objek pengawasan.Ilustari bendera Jerman. Foto: REUTERS/Hannibal HanschkeAkibatnya, masyarakat hidup dalam budaya ketakutan. Banyak warga melakukan sensor terhadap diri sendiri. Kritik tidak hilang karena masyarakat setuju dengan pemerintah, tetapi karena masyarakat takut menyampaikan pendapatnya.Namun, kekuatan pengawasan yang luar biasa itu tidak mampu menyelamatkan negara. Pada 1989, Tembok Berlin runtuh dan rezim Jerman Timur kolaps. Negara yang memiliki salah satu sistem pengawasan paling kuat di dunia ternyata gagal mempertahankan legitimasi publik dan gagal bersaing secara ekonomi dengan Jerman Barat.Contoh kontemporer dapat ditemukan di Belarus. Menurut berbagai indeks demokrasi internasional, Belarus termasuk negara dengan tingkat kebebasan politik dan kebebasan sipil yang sangat rendah. Oposisi politik menghadapi tekanan berat, media independen dibatasi, dan aparat keamanan memiliki pengaruh yang besar dalam menjaga stabilitas rezim.Belarus menunjukkan bahwa di era modern, negara polisi tidak selalu tampil dalam bentuk yang sama seperti Jerman Timur. Teknologi digital, pengawasan elektronik, dan kontrol informasi kini menjadi instrumen baru yang memperluas kapasitas negara untuk mengawasi masyarakat.Mengapa Aparat Keamanan Mudah Memperkuat Kekuasaan?Para ilmuwan politik menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang membuat institusi kepolisian dan aparat keamanan relatif mudah menjadi alat penguatan kekuasaan.Ilustrasi tentara Jerman. Foto: Michael Kappeler / POOL / AFPPertama, aparat keamanan memiliki kewenangan hukum yang sangat besar. Mereka dapat melakukan penyelidikan, penyidikan, pengumpulan informasi, penangkapan, dan berbagai tindakan lain yang tidak dimiliki institusi negara pada umumnya.Kedua, aparat keamanan memiliki jaringan organisasi yang menjangkau hingga tingkat lokal. Tidak banyak lembaga negara yang memiliki kehadiran sedemikian luas dalam kehidupan masyarakat.Ketiga, informasi merupakan sumber kekuasaan yang sangat penting. Aparat keamanan memiliki akses terhadap data, informasi, dan jaringan yang memungkinkan mereka memahami dinamika politik lebih cepat dibanding institusi lain.Keempat, isu keamanan selalu mudah memperoleh legitimasi publik. Masyarakat tentu menginginkan ketertiban dan keamanan. Karena itu, perluasan kewenangan aparat sering kali diterima tanpa pengawasan yang memadai.Samuel P. Huntington mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat mensyaratkan keseimbangan antara kekuatan institusi keamanan dan kontrol sipil. Ketika keseimbangan itu hilang, peluang penyalahgunaan kekuasaan akan meningkat.Demokrasi Membutuhkan Polisi yang Kuat, bukan Polisi yang Terlalu KuatImplikasi pertama negara polisi adalah melemahnya kebebasan sipil. Warga negara mulai takut menyampaikan kritik, bahkan ketika kritik tersebut sah dan konstruktif.Kedua, kualitas demokrasi menurun. Pemilu mungkin tetap berlangsung, tetapi kompetisi politik tidak lagi berlangsung dalam arena yang setara dan terbuka.Ketiga, inovasi dan kreativitas masyarakat melemah. Kemajuan ekonomi dan ilmu pengetahuan membutuhkan kebebasan berpikir, keberanian mengkritik, serta ruang bagi perbedaan pendapat.Keempat, kepercayaan publik terhadap institusi negara dapat terkikis. Ketika hukum dianggap melayani kepentingan kekuasaan, legitimasi negara perlahan menurun.Pelajaran dari Jerman Timur sangat jelas. Negara dapat membangun jaringan pengawasan yang luas, tetapi tidak dapat memaksa masyarakat untuk mempercayainya. Ketertiban yang dibangun melalui rasa takut mungkin menghasilkan stabilitas jangka pendek, tetapi jarang menghasilkan kemajuan jangka panjang.Karena itu, demokrasi tidak memerlukan aparat keamanan yang lemah. Demokrasi justru membutuhkan polisi yang profesional, kuat, dan efektif. Namun pada saat yang sama, demokrasi juga memerlukan pengawasan yang kuat terhadap aparat tersebut. Sebab ketika penjaga hukum menjadi penjaga kekuasaan, yang pertama kali terancam bukanlah keamanan negara, melainkan kebebasan warga negara.