sumber: dokumen pribadi“Sebentar lagi tidurnya.”Kalimat sederhana itu mungkin sering terucap saat malam hari. Setelah menyelesaikan tugas kuliah, menghadiri rapat organisasi, bekerja, atau menjalani aktivitas yang melelahkan, banyak orang memilih meluangkan waktu untuk dirinya sendiri sebelum tidur. Ada yang menonton series, bermain game, mendengarkan musik, atau sekadar scrolling media sosial tanpa tujuan tertentu.Awalnya hanya beberapa menit. Namun tanpa disadari, waktu terus berjalan hingga larut malam dan jam tidur kembali terabaikan.Fenomena ini cukup sering terjadi, terutama pada mahasiswa dan dewasa awal yang memiliki jadwal padat setiap harinya. Setelah menghabiskan sebagian besar waktu untuk memenuhi tuntutan akademik, pekerjaan, maupun tanggung jawab lainnya, malam hari sering dianggap sebagai satu-satunya kesempatan untuk menikmati waktu pribadi.Dalam psikologi, perilaku tersebut dikenal sebagai revenge bedtime procrastination. Istilah ini menggambarkan kebiasaan menunda tidur secara sengaja demi mendapatkan waktu santai setelah seharian dipenuhi berbagai kewajiban. Seseorang sebenarnya sadar bahwa tubuhnya membutuhkan istirahat, tetapi tetap memilih terjaga lebih lama untuk mencari hiburan atau melepas penat.Menariknya, banyak orang yang melakukan hal ini sebenarnya mengetahui konsekuensinya. Mereka sadar bahwa tidur terlalu malam akan membuat tubuh lebih lelah, sulit berkonsentrasi, dan kurang berenergi keesokan harinya. Namun setelah menjalani hari yang panjang, keinginan untuk memiliki sedikit waktu bagi diri sendiri sering kali terasa lebih penting daripada kebutuhan untuk segera tidur.Di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial menjadi salah satu aktivitas yang paling sering membuat waktu tidur tertunda. Penelitian pada mahasiswa di Jakarta menemukan bahwa mayoritas partisipan mengaku sering terlambat tidur karena mengakses media sosial seperti TikTok dan Instagram. Berbagai konten yang terus muncul membuat seseorang semakin sulit berhenti, apalagi ketika aktivitas tersebut dilakukan pada malam hari saat tidak ada lagi tuntutan yang harus diselesaikan.Meski sering dianggap sepele, kebiasaan ini berbeda dengan insomnia. Pada insomnia, seseorang mengalami kesulitan untuk tidur meskipun sudah berusaha. Sebaliknya, pada revenge bedtime procrastination, seseorang sebenarnya mampu tidur tepat waktu, tetapi memilih tetap terjaga karena ingin memperpanjang waktu santainya.Kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengatur dan mengendalikan dirinya sendiri atau self-regulation. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan regulasi diri yang lebih rendah cenderung lebih mudah menunda waktu tidur demi memperoleh kesenangan jangka pendek. Setelah menjalani hari yang melelahkan, kemampuan untuk mengontrol diri pun dapat menurun sehingga seseorang lebih sulit menghentikan aktivitas yang sedang dinikmatinya.Padahal, kurang tidur tidak hanya menyebabkan rasa kantuk pada pagi hari. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, tingkat stres, hingga kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.Ironisnya, aktivitas yang awalnya dilakukan sebagai bentuk hadiah untuk diri sendiri justru dapat mengurangi kualitas istirahat yang sebenarnya dibutuhkan tubuh. Me time memang penting, tetapi bukan berarti harus dibayar dengan waktu tidur yang terus dikorbankan.Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi bagaimana mendapatkan lebih banyak waktu di malam hari, melainkan bagaimana memberi ruang untuk diri sendiri tanpa harus mengorbankan kebutuhan istirahat. Sebab terkadang, bentuk self-care yang paling sederhana justru adalah tidur yang cukup.Oleh: Vanya Luvena Khairiputri, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.