Ilustrasi anak belajar di dalam kelas. Foto: hxdbzxy/ShutterstockSebagai pelajar, seringkali ada perasaan seolah kita ini tahu segalanya. Cukup dengan mencari informasi di TikT͏ok, Instagram, atau X, rasanya semua jawaban sudah tersedia. Ini tentu saja bikin kita merasa selalu "up-to-date" dengan isu-isu yang sedang ramai dibicarakan. Tetapi, coba jujur saja pada diri sendiri, apakah kita betul-betul mengerti apa yang kita baca tersebut, ataukah kita cuma terjebak dalam apa yang dinamakan literasi semu?Literasi semu merupakan suatu keadaan di mana seorang mahasiswa merasa dirinya sudah literat hanya karena sering "melihat" atau terpapar banyak sekali konten informasi. Padahal, esensi dari informasi itu sendiri belum benar-benar pahami secara mendalam. Kita ini menjadi generasi yang cenderung 'headline-driven', artinya merasa cukup hanya dengan melihat judul berita tanpa pernah sungguh-sungguh membaca isinya. Di dalam kelas, misalnya, seringkali diskusi cuma mengandalkan potongan-potongan informasi dan bukan hasil dari membaca yang lebih serius. Sungguh disayangkan bahwa data malah menunjukkan Indonesia masih di posisi bawah, dalam hal literasi membaca. Berdasarkan survei World’s Most Literate Nations (WMLN), kita pernah pada peringkat ke-60 da͏ri total 61 negara. Untuk kita sebagai mahasiswa, yang sering disebut sebagai "intelektual muda," angka semacam ini seharusnya menjadi pengingat yang cukup keras. Kita memang memiliki akses internet yang sangat cepat, akan tetapi minat membaca buku atau jurnal ilmiah malah tampak jalan di tempat.Kenapa Mahasiswa Terjebak Literasi Semu?Salah satunya itu kita jadi kecanduan sama 'infinite scroll'. Seperti yang kita tahu, media sosial memang bisa bikin kita ketagihan. Video-video pendek yang durasinya cuma 15 detik itu memberikan semacam kepuasan yang instan, yang pada akhirnya membuat otak jadi malas untuk fokus pada bacaan yang lebih panjang. Akibatnya itu, kita merasa lebih gampang belajar melalui TikTok atau YouTube daripada harus membaca bukunya sendiri. Lalu ada juga soal budaya lisan yang pindah ke layar. Saat teknologi mulai masuk, kita langs͏ung saja ikut ke budaya digital tanpa sempat memperkuat budaya lisan kita. Ini berar͏ti orang jadi lebih mudah percaya pada apa yang mereka lihat di sosial media. Solusi terbaik tentu dimulai dari kita sendiri. Lantas, sebagai mahasiswa, apa yang bisa kita lakukan?1. Coba lakukan detoks digital. Berikan waktu, setidaknya 30 menit setiap hari, untuk membaca tanpa ada gangguan notifikasi sama sekali. Kegiatan ini membantu melatih fokus o͏tak kembali.2. Terapkan metode 'Jeda dan Renungkan'. Jadi, sebelum buru-buru membagikan informasi atau bahkan mengutip sesuatu, ada baiknya berhenti sebentar. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri.3. Berikan komitmen "Satu Hari, Satu Artikel Lengkap." Luangkan sedikit waktu tiap hari untuk membaca minimal satu artikel yang panjang, sampai tuntas, bukan hanya ringkasannya saja. Ini merupakan latihan dasar untuk membiasakan pikiran kita mengerti konteks secara utuh.KesimpulanJebakan literasi semu, itu sebuah ancaman yang nyata sekali bagi masa depan kita nanti. Menjadi mahasiswa bukan cuma untuk meraih gelar pendidikan, melainkan juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Kita harus bisa menunjukkan bahwa mahasiswa di Indonesia bukan hanya pandai melakukan scrolling, namun juga mahir memahami dan mengkritisi beragam informasi. Literasi yang kuat, itu adalah modal utama agar kita menjadi generasi yang mampu berpikir mandiri.