Nozawa Masako, Pengisi Suara Son Goku di Dragon Ball, Protes Suaranya Ditiru AI

Wait 5 sec.

Son Goku Dragon Ball. Foto: Shutterstock Gen AIDi tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), teknologi ini semakin banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Bahkan, AI kini mampu meniru suara manusia, termasuk suara karakter anime yang terdengar mirip dengan aslinya. Namun, kemampuan tersebut juga menimbulkan persoalan, terutama ketika suara pengisi suara digunakan tanpa izin.Salah satu yang menyoroti masalah ini adalah Nozawa Masako, pengisi suara Son Goku dalam anime Dragon Ball. Untuk pertama kalinya, Nozawa berbicara secara terbuka mengenai penggunaan suaranya oleh AI tanpa persetujuan. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak bisa diterima.Selain dikenal sebagai pengisi suara Goku, Nozawa juga mengisi suara Hoshino Tetsuro, karakter utama dalam anime Galaxy Express 999.Dalam wawancara bersama NHK, Nozawa mengungkapkan bahwa awalnya ia tidak begitu menyadari suaranya telah ditiru menggunakan AI dan digunakan tanpa izin. Namun, setelah menonton sebuah video yang diduga menggunakan suaranya, ia menyadari bahwa suara dalam video tersebut bukanlah suara asli yang ia hasilkan.Nozawa pun menyayangkan penggunaan suaranya tanpa persetujuan. Ia bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai pencurian yang tidak bisa dimaafkan. Menurutnya, suara merupakan bagian dari identitas seseorang sekaligus hasil dari pekerjaan yang ia tekuni selama ini.Karena itu, ia menegaskan bahwa izin tetap harus diminta sebelum suaranya digunakan, meskipun hanya sebagian. Baginya, penggunaan suara oleh AI tidak seharusnya mengabaikan hak pengisi suara yang bersangkutan.Di sisi lain, Nozawa mengakui bahwa AI kini mampu meniru suara manusia dengan sangat mirip. Meski begitu, ia menilai kemiripan suara saja tidak cukup untuk menggantikan penghayatan seorang pengisi suara saat memerankan karakter.Menurutnya, menghidupkan sebuah karakter membutuhkan perasaan yang tulus. Bahkan, suara tangisan sekalipun akan terdengar berbeda ketika disampaikan dengan penghayatan yang mendalam. Hal inilah yang membuat peran seorang pengisi suara tidak bisa sekadar digantikan oleh teknologi peniru suara.Ilustrasi Dragon Ball. Foto: ShutterstockNozawa juga menanggapi penyusunan pedoman mengenai penggunaan suara yang dihasilkan AI. Ia berharap aturan tersebut dapat dipatuhi oleh semua pihak dan menjadi acuan dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.Ia turut menyampaikan pesan kepada generasi muda yang ingin berkarier sebagai pengisi suara. Menurutnya, mereka perlu terus berlatih agar memiliki ciri khas dan mampu menghidupkan karakter yang diperankan. Sebab, menjadi pengisi suara bukan sekadar membaca naskah, melainkan juga menyampaikan setiap kata dengan penghayatan agar karakter terasa lebih hidup.Meski menyuarakan keberatannya terhadap penggunaan AI tanpa izin, Nozawa ternyata juga mengagumi kemajuan teknologi tersebut. Ia bahkan merasa seolah-olah berbagai hal yang pernah diimpikannya saat kecil kini dapat menjadi kenyataan berkat perkembangan AI.Japan Actors Union Rilis Pedoman Penggunaan Suara AIIlustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/ShutterstockDi tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai penggunaan suara pengisi suara oleh AI, Japan Actors Union mengumumkan telah menyusun pedoman pertama mereka terkait penggunaan suara yang dihasilkan teknologi tersebut. Organisasi ini memiliki sekitar 2.600 anggota, termasuk para pengisi suara.Dalam pedoman tersebut, pengisi suara atau pihak manajemennya harus diajak berkonsultasi dan memberikan persetujuan sebelum suara mereka digunakan untuk melatih AI maupun menghasilkan suara tiruan.Ketentuan serupa juga berlaku untuk penggunaan AI dalam proses sulih suara ke bahasa lain. Artinya, persetujuan perlu diperoleh untuk setiap bahasa yang digunakan, bukan sekadar mengandalkan izin untuk satu bahasa tertentu.Sementara itu, penggunaan AI untuk mempelajari dan menghasilkan suara aktor yang telah meninggal dunia juga menjadi perhatian. Dalam hal ini, kehendak terakhir aktor tersebut harus dihormati. Persetujuan juga perlu diperoleh dari keluarga yang ditinggalkan atau pihak terkait lainnya.Japan Actors Union turut menetapkan langkah yang dapat diambil apabila terjadi pelanggaran. Organisasi tersebut akan meminta penghentian distribusi dan penjualan konten yang menggunakan suara AI tanpa izin. Selain itu, pihak yang melanggar akan diminta membayar sejumlah uang yang setara dengan hasil penjualan konten tersebut, terhitung sejak pertama kali suara digunakan tanpa persetujuan.