Kegiatan SenengMinton 2026, Kudus, Sabtu (17/10/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanFestival SenengMinton menjadi lompatan awal bagi anak usia dini mengenal olahraga bulu tangkis. Lewat kemasan lomba, anak-anak diajak untuk menyukai olahraga tepok bulu. Anak-anak tidak langsung memegang raket bulu tangkis. Mereka diajak untuk bermain terlebih dahulu. Sebuah permainan sederhana yang dikonsep agar anak bergerak dan mengikuti beragam gerakan pada olahraga bulu tangkis.Tujuh permainan menjadi bagian yang harus dilalui peserta lomba yang merupakan anak-anak Sekolah Dasar (SD) jenjang kelas 1, 2, dan 3. Ketujuh rintangan permainan itu adalah Service to Target, Run, Shuttle Run, Drive Target, Pyramid Shuttlecock, Throwing The Shuttlecock, dan Zig Zag Run. Sambutan positif adanya Festival SenengMinton ini datang dari orang tua siswa, Eka Prasetiawan. Eka mengantarkan putrinya sebagai peserta lomba suporter. Kendati putrinya, Rummy Naifah Salimi yang bersekolah di SD 1 Barongan tidak mengikuti lomba Festival Seneng Minton, ia menilai ajang ini memberikan manfaat. Kegiatan SenengMinton 2026, Kudus, Sabtu (17/10/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan"Anak saya suka bulu tangkis dan ikut ekstrakurikuler bulu tangkis di sekolah. Keikutsertaan di Festival SenengMinton bisa melatih kreativitas, ketangkasan dan keberanian untuk tampil di muka umum," katanya kepada kumparan, Sabtu (17/10). Tampil perdana lewat keikutsertaan ssebagai peserta lomba suporter, Eka mengaku banyak ilmu yang didapatkan putrinya. Apalagi, anaknya itu baru saja menekuni olahraga bulu tangkis. Meski tak berlomba secara langsung, putrinya tentu melihat cara rekan-rekannya berlomba menaklukkan tujuh rintangan permainan Festival SenengMinton. "Saya melihat anak-anak dikenalkan dasar-dasar permainan bulu tangkis. Mereka belajar ketangkasan, kedisiplinan serta kerja sama. Semoga dari sini muncul bibit atlet bulu tangkis tangguh yang mampu mengharumkan Indonesia," terangnya. Di sisi lain, putrinya baru saja menekuni olahraga bulu tangkis. Berawal dari teman-temannya yang lebih dulu menekuni olahraga tepok bulu, perlahan buah hatinya itu akhirnya tertarik olahraga bulu tangkis. Kegiatan SenengMinton 2026, Kudus, Sabtu (17/10/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan"Semenjak ikut ekstrakurikuler bulu tangkis, dia lebih percaya diri. Kelincahan dan keaktifannya mulai terlihat serta tidak lagi saki-sakitan," ujarnya. Ia percaya Festival SenengMinton menjadi titik awal mengenalkan bulu tangkis ke anak-anak usia dini. Menurutnya, penting Festival SenengMinton ini untuk terus digelar ke depannya."Anak dikenalkan dulu sehingga menjadi senang. Setelah itu menjadi cinta sampai akhirnya menjadi atlet bulu tangkis dan membawa nama baik Indonesia ke kancah internasional," jelasnya. Eka mendukung Festival Seneng Minton ini berjalan berkelanjutan. Rasa syukur ia sampaikan kepada Pengkab PBSI Kudus dan Bakti Olahraga Djarum Foundation yang telah menyelenggarakan Festival SenengMinton ini. "Semoga keduanya semakin sukses dan memberikan apresiasi luar biasa untuk anak-anak," imbuhnya. Sementara itu, Rummy Naifah Salimi senang dapat menjadi peserta lomba suporter. Memberikan semangat rekan-rekannya berlomba melewati tujuh permainan di Festival SenengMinton."Saya ikut karena memang senang dengan bulu tangkis. Bermain bulu tangkis itu seru dan banyak teman," ujarnya. Muhammad Irfan Maulana, Guru Olahraga SD 1 Barongan, membawa 15 anak hari ini untuk mengikuti Festival SenengMinton ini. Tahun lalu, ia dan siswa sudah ikut serta, kini kembali lagi untuk meramaikan acara yang digagas oleh Pengkab PBSI Kudus dan Bakti Olahraga Djarum Foundation."Kemarin kami mengadakan proses seleksi untuk memilih peserta. Anak-anak yang tidak ikut jadi peserta, mereka diajak untuk tetap datang sebagai suporter untuk mendukung teman-temannya.Irfan memahami perlombaan yang tersaji di Festival SenengMinton ini sebagai dasar permainan bulu tangkis. Sebuah inovasi apik yang menurutnya mampu menarik minat anak-anak. "Anak-anak tidak langsung diajak untuk bermain dari teknik. Tetapi diperkuat dulu fisiknya, ada lari bolak-balik, mereka perkenalan dengan yang namanya shuttlecock, ada lempar-lempar, dan sebagainya. Itu membuat anak-anak mempunyai motivasi yang lebih," ujarnya kepada kumparan, Sabtu (17/10). Guru yang mengajar pelajaran olahraga itu sepakat kalau anak-anak harus diajak untuk bersenang-senang terlebih dahulu. Terlebih, mereka merupakan anak-anak yang masih duduk di bangku SD kelas 1,2 dan 3."Jangan sampai mereka ikut langsung dikasih teknik, mereka enggak bisa, mereka akan langsung down dan enggak mau latihan lagi," ucapnya. Sederet gerakan yang dilalui di setiap permainan yang ada di Festival SenengMinton diyakini Irfan sebagai landasan untuk anak-anak dalam menekuni olahraga bulu tangkis. Ia yakin anak didiknya mendapatkan manfaat dari festival ini."Sebuah fondasi yang penting untuk anak-anak. Adanya gerakan-gerakan ini membuat kaki anak-anak lebih kuat untuk selanjutnya bisa berlatih dengan maksimal ke teknik-teknik yang lebih sulit," pungkasnya.