Kemenhub Catat 2.458 Penerbangan Terdampak Karhutla sejak Agustus 2026

Wait 5 sec.

Pesawat komersial Airbus A320-214 milik maskapai penerbangan Citilink lepas landas di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Senin (5/10/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTOKementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 11 Agustus hingga 17 Oktober 2026. Gangguan penerbangan akibat kabut asap tersebut terjadi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Sumatera bagian utara.Dengan kondisi itu, Ditjen Perhubungan Udara meminta penyelenggara bandar udara di wilayah terdampak menerapkan langkah mitigasi. Mulai dari Low Visibility Procedures (LVP) bersama AirNav Indonesia dan BMKG, penerbitan NOTAM, dan peningkatan kesiagaan operasional sisi udara.“Penyelenggara bandar udara juga diminta mengoptimalkan pelayanan penumpang di terminal, termasuk informasi penerbangan dan penyediaan masker,” kata Kabag Humas Ditjen Hubud, Norma Rudiyanti salam keterangan tertulis, Minggu (18/10).Ia menjelaskan berdasarkan data posisi 17 Oktober 2026, sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak Karhutla sejak 11 Agustus 2026. Jumlah ini bertambah 437 penerbangan dari posisi 13 Oktober 2026, yang mencatat 2.021 penerbangan.Rinciannya, sebanyak 1.080 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), sedangkan 1.324 penerbangan dibatalkan atau ditunda (postponed). Selain itu, 22 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain (divert), 6 penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan (return to base), dan 26 penerbangan dimajukan jadwalnya (advance).Selain penerbangan domestik, gangguan juga terjadi pada penerbangan internasional. Kemenhub mencatat 14 penerbangan internasional dibatalkan akibat kabut asap.Kabut asap menyelimuti kawasan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTORinciannya, sebanyak 12 penerbangan Singapura–Pontianak pulang pergi pada 12–23 September 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Supadio. Kemudian, dua penerbangan Singapura–Palembang pulang pergi pada 15 Oktober 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II.Pada penerbangan perintis, sebanyak 22 penerbangan juga dibatalkan akibat kabut asap pada 16 Oktober 2026 termasuk dua penerbangan kargo. Pembatalan tersebut terjadi di Korwil Singkep sebanyak enam penerbangan, Korwil Kuala Pembuang empat penerbangan, Korwil Tanah Merah enam penerbangan, dan Korwil Gorontalo enam penerbangan.Dampak MeluasIa juga menjelaskan bahwa dampak kabut asap pada periode 13 aampai 17 Oktober 2026 meluas ke sejumlah bandar udara di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, Kalimantan, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh.Di Sulawesi Tengah, bandar udara yang terdampak meliputi Mutiara SIS Al-Jufrie di Palu, Maleo di Morowali, Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk, dan Sultan Bantilan di Tolitoli. Sementara itu, di Sulawesi Tenggara, gangguan terjadi di Bandar Udara Sangia Nibandera di Kolaka dan Betoambari di Baubau.Pekerja menyapu lantai Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTODampak kabut asap juga menyebar Bandar Udara Sultan Babullah di Ternate dan Oesman Sadik di Labuha, Maluku Utara, serta Bandar Udara Pattimura di Ambon dan Karel Sadsuitubun di Langgur, Maluku.Sementara itu di wilayah Sumatera, bandar udara yang terdampak antara lain Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Japura di Rengat, Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, Sultan Thaha di Jambi, Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga, serta Malikussaleh di Lhokseumawe.“Asap menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Setiap keputusan operasional diambil dengan mengutamakan keselamatan,” ujarnya.