Ilustrasi bendera Irak. Foto: ShutterstockIrak mendevaluasi nilai mata uangnya sebesar 13 persen terhadap dolar AS. Hal ini dilakukan di di tengah tekanan ekonomi akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang mengganggu ekspor minyak negara tersebut.Dikutip dari Bloomberg, Minggu (18/10), Bank Sentral Irak menetapkan harga jual dolar kepada masyarakat sebesar 1.520 dinar atau naik dibandingkan dengan posisi sebelumnya pada 1.320 dinar.“Setiap guncangan harga minyak di masa lalu selalu mendorong Irak ke dalam kesulitan. Hal itu terjadi pada 2008, 2014, dan 2020. Penutupan Selat Hormuz dan mengeringnya pendapatan minyak pada 2026 menjadi episode berikutnya. Baghdad harus memilih antara membayar gaji pegawai sektor publik dan mempertahankan nilai dinar, dan mereka memilih opsi pertama,” kata Ziad Daoud, kepala ekonom Bloomberg.Adapun Bank Sentral Irak juga sudah menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan keuangan saat ini serta berdasarkan rekomendasi kabinet.Meski demikian, Bank Sentral Irak menegaskan bahwa cadangan devisa Irak masih cukup untuk membiayai perdagangan luar negeri, menyelesaikan transaksi kartu perbankan di luar negeri, serta menyediakan uang tunai bagi para pelancong.Langkah Irak itu merupakan devaluasi pertama yang dilakukan negara Arab Teluk sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran. Adapun Irak merupakan salah satu negara dengan ketergantungan tertinggi terhadap minyak di dunia.Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Asif 31/ShutterstockNegara itu menghadapi krisis sejak Iran merespons kampanye pengeboman AS-Israel yang dimulai pada akhir Februari dengan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan jalur utama ekspor minyak Irak dan negara-negara Arab Teluk lainnya sehingga mereka terpaksa memangkas pengiriman minyak.Berdasarkan estimasi Bloomberg, ekspor minyak mentah Irak rata-rata saat ini hanya sekitar 1,25 juta barel per hari sejak awal Maret. Angka itu turun dibandingkan dengan hampir 3,5 juta barel per hari pada tahun lalu.Cadangan devisa juga ikut berkurang. Irak memiliki cadangan devisa sekitar USD 100 miliar ketika perang dimulai, jumlah tersebut turun menjadi USD 80 miliar pada Agustus seiring merosotnya penerimaan minyak. Sementara itu, biaya gaji pegawai sektor publik saja mencapai sekitar USD 5 miliar per bulan.Dengan kondisi itu, IMF mengatakan Irak telah mengajukan permohonan program bantuan baru. Ia menyatakan IMF bermaksud mendukung permintaan itu.“Kami akan memberikan bantuan pendanaan dan dukungan kebijakan kepada Irak. Pemerintah Irak telah meminta sebuah program, dan kami akan memberikan dukungan yang sangat kuat kepada Irak,” kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva. Foto: Nicholas Kamm / AFPMeski demikian, Georgieva tidak memberikan perincian mengenai jenis program yang akan diberikan maupun besaran pendanaan dari IMF. Georgieva juga kembali menegaskan bahwa IMF telah mencatat kemajuan signifikan dalam pembahasan mengenai kemungkinan program baru untuk Lebanon.“Tugas terpenting bagi kami adalah mengakui adanya perbedaan kondisi di kawasan MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara) serta memusatkan upaya pada negara-negara yang lebih rentan. Dalam hal ini, program untuk Irak dan program untuk Lebanon akan memberikan dampak yang besar,” ujarnya.