Investor Pasar Modal Tembus 32 Juta, BEI Ingatkan Risiko Penipuan Digital

Wait 5 sec.

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanJumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus 32 juta single investor identification (SID), dengan mayoritas berasal dari kalangan generasi muda. Seiring pertumbuhan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti pentingnya penguatan literasi keuangan dan kewaspadaan terhadap risiko penipuan digital agar investor dapat mengambil keputusan investasi secara bijak.Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI, Umi Kulsum, mengatakan sebagian besar investor muda mengenal investasi melalui platform digital. Karena itu, peningkatan jumlah investor perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai produk investasi, risiko, serta keamanan dalam bertransaksi.“Pertumbuhan jumlah investor harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman dan ketahanan investor. Untuk itu, diperlukan penguatan literasi dan kesadaran investasi yang membentuk tiga karakter utama investor, yaitu investor yang cerdas, investor yang waspada, dan investor yang tangguh,” kata Umi dalam agenda Ring the Bell for Financial Literacy di Kantor BEI, Rabu (14/10).Menurut Umi, investor yang cerdas perlu memahami manfaat dan risiko produk investasi yang dibeli. Sementara itu, investor yang waspada harus mampu memverifikasi informasi dan menjaga keamanan saat bertransaksi di platform digital. Adapun investor yang tangguh perlu disiplin dalam berinvestasi dan tidak mengambil keputusan secara impulsif.Audiensi kumparanBisnis bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (17/7/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanBEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self-regulatory organization (SRO), serta pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat edukasi pasar modal di berbagai wilayah Indonesia.“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa semakin luas akses masyarakat ke pasar modal juga harus diiringi dengan kemampuan untuk mengambil keputusan investasi secara logis dan sesuai dengan risiko investor masing-masing,” ujar Umi.OJK Ingatkan Investor Muda Tidak Mudah FomoKepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek (DPLE) OJK, Edi Broto Suwarno, mengatakan dominasi generasi muda dalam pasar modal perlu diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan.Berdasarkan data Agustus 2026, sekitar 55,25 persen investor individu di pasar modal berusia 30 tahun ke bawah. Jika digabungkan dengan kelompok usia 31–40 tahun, proporsinya mencapai 80,64 persen.“Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia saat ini semakin dekat dengan generasi muda kita,” kata Edi.Meski partisipasi anak muda terus meningkat, Edi menilai masih ada tantangan dalam memastikan investor memahami produk keuangan yang dipilih, termasuk risiko yang menyertainya.Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, kelompok usia 26-35 tahun mencatat indeks literasi keuangan sebesar 78,70 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 96,27 persen.Namun, indeks literasi keuangan di sektor pasar modal secara keseluruhan baru mencapai 17,78 persen. Sementara itu, indeks inklusinya sebesar 1,34 persen.Menurut Edi, kemudahan membuka rekening investasi dan melakukan transaksi melalui aplikasi belum tentu diikuti kemampuan memahami risiko. Begitu pula dengan banyaknya informasi investasi di media sosial yang tidak selalu menjamin kualitas informasi yang diterima masyarakat.Karena itu, ia mengingatkan investor muda agar tidak membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan di media sosial, mengikuti rekomendasi orang lain, atau takut tertinggal tren investasi (fear of missing out atau FOMO).Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ambruk tajam pada awal perdagangan Senin (2/2). Pada 17 menit awal setelah pembukaan, IHSG sempat anjlok 5,03 persen atau 418,75 poin ke level 7.910,85. Foto: Argya D. Maheswara/kumparan “Jangan membeli produk investasi yang tidak kita pahami. Menjadi investor cerdas tidak berarti harus menjadi ahli keuangan, tetapi setiap investor perlu memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk mengambil keputusan secara independen atau mandiri,” ujar Edi.Ia menambahkan, investor perlu memahami kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek perusahaan sebelum membeli saham. Hal ini penting karena membeli saham berarti memiliki sebagian kepemilikan dalam suatu perusahaan.Edi menegaskan, investasi bukan perlombaan untuk menjadi kaya dalam waktu singkat. Investasi seharusnya menjadi bagian dari perencanaan keuangan untuk membangun kesejahteraan secara berkelanjutan.