Software Microsoft dan Adobe Dikloning Gratis Dibantu AI

Wait 5 sec.

Logo Microsoft. Foto: Mike Segar/ReutersPengembang perangkat lunak asal Atlanta, Brandon Thomas, meluncurkan paket aplikasi sumber terbuka (open-source) gratis yang mereplikasi ekosistem Microsoft Office dan Adobe Creative Suite. Thomas membangun proyek ArtCraft serta aplikasi perkantoran GridCraft, DeckCraft, dan WordCraft menggunakan model kecerdasan buatan (AI) Claude Opus 5.5 dan bahasa pemrograman Rust.Inisiatif mandiri ini menghadirkan tantangan baru bagi kelangsungan perangkat lunak berbayar berbasis langganan atau fenomena yang di kalangan industri teknologi dikenal sebagai SaaSpocalypse.Thomas merancang seluruh aplikasi kloningan tersebut agar dapat beroperasi tanpa biaya di Windows, MacOS, dan Linux. Langkah ini memicu perdebatan di kalangan pengamat teknologi mengenai motif kekhawatiran para bos Silicon Valley terhadap bahaya AI. Pasalnya, penurunan biaya komputasi AI saat ini terbukti mempermudah pengembang independen untuk meniru perangkat lunak komersial bernilai miliaran dolar secara cuma-cuma.Ilustrasi aplikasi Adobe Photoshop. Foto: ShutterstockThomas, yang memiliki pengalaman 15 tahun di industri rekayasa perangkat lunak, menyatakan proyek tersebut merupakan bentuk protes terhadap skema langganan korporasi yang membebani konsumen."Saya bukan sekadar vibe coder biasa. Saya veteran industri 15 tahun yang pernah membangun sistem transaksi miliaran dolar hingga robotika canggih," tulis Thomas di forum Reddit.Dalam unggahannya di forum Hacker News, ia juga menyatakan inisiatif ini bermula dari kekesalannya terhadap skema biaya pembatalan langganan korporasi yang menjebak pengguna. Ia merilis perangkat lunak tandingan tersebut secara cuma-cuma: "Gratis, tanpa langganan, dan Anda memiliki kode sumbernya sendiri".Adobe sendiri sebelumnya menyepakati penyelesaian hukum senilai 150 juta dolar AS pada 2024 terkait tuduhan menjebak pengguna dalam skema langganan. Sementara itu, Microsoft terus menuai sorotan serupa karena mengubah ekosistem Office dari pembelian putus (one-time purchase) menjadi sistem sewa berkala.Thomas menegaskan perangkat lunak buatannya masih berada dalam fase alfa dan "belum mendekati tahap siap pakai sepenuhnya." Kendati demikian, versi awal Photocraft, kloningan Adobe Photoshop, telah mampu menjalankan fungsi inti manipulasi grafis layaknya software orisinal.Adobe rilis Photoshop versi web gratis. Foto: AdobeKontradiksi seruan perlambatan AI dan perang harga modelKemunculan software tandingan ini terjadi di tengah dinamika kontradiktif di industri kecerdasan buatan. Pada September 2026, CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, hingga bos xAI Elon Musk menyerukan perlunya menahan laju riset AI.Amodei memperingatkan agen otonom AI berisiko mengambil alih sistem jaringan internet dan memicu kerugian hingga ratusan miliar dolar jika tidak segera dibatasi."Saya setuju dengan Dario bahwa kita perlu mengatur laju pengembangan AI terdepan," kata Sam Altman saat menyatakan dukungannya terhadap seruan Amodei, usai sebelumnya ratusan agen AI milik OpenAI dilaporkan meretas platform Hugging Face saat tahap pengujian.Namun, seruan perlambatan tersebut langsung berhadapan dengan strategi komersial kedua perusahaan yang justru merilis model baru berbiaya murah. Anthropic resmi meluncurkan Claude Opus 5.5 dengan efisiensi biaya operasional 40 persen lebih rendah dibanding Opus 5."Claude Opus 5.5 adalah rilis pertama kami sejak kami menyerukan untuk mempercepat perkembangan inovasi," tulis Anthropic dalam situs resminya, Selasa 22 September 2026, seraya menegaskan model tersebut telah lolos evaluasi eksternal.Langkah tersebut langsung direspons oleh OpenAI melalui peluncuran model hemat biaya GPT-6 Sol dan GPT-6 Luna. OpenAI mengklaim GPT-6 Sol mampu menangani alur kerja bisnis dengan biaya hanya 9 persen per tugas dibanding Opus 5, sementara GPT-6 Luna menawarkan biaya per tugas 58 persen lebih hemat.Sikap mendua industri teknologi ini sebelumnya pun sempat disorot oleh salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates. Dalam wawancaranya bersama The New York Times, Gates mengungkapkan bahwa sebagian eksekutif teknologi menyadari laju perkembangan AI yang tak terkendali, tetapi enggan menyuarakannya demi menjaga nilai valuasi bisnis."Secara pribadi, orang-orang yang mengerti betapa hebatnya hal ini, dan betapa cepatnya ini berkembang, mereka sangat khawatir," ungkap Gates kepada The New York Times.Gates menambahkan bahwa para petinggi teknologi saling menahan diri di ruang publik demi melindungi prospek keuntungan korporasi: "'Hei, kawan, jangan katakan itu. Itu buruk bagi kita, triliunan dolar berikutnya yang sedang kita coba kumpulkan'."Kondisi ini pada akhirnya menghadirkan situasi dilematis bagi korporasi teknologi seperti Microsoft. Di tengah peringatan bahaya AI yang mereka gaungkan ke hadapan publik, perang harga model komputasi murah yang mereka pasarkan justru menjadi alat bagi publik untuk memproduksi alternatif software gratis yang berpotensi menyaingi produk inti mereka.