Indonesia Sudah Menua. Apakah Negara Sudah Siap Merawat?

Wait 5 sec.

Serial “Negara, Manusia, dan Martabat” — Artikel 1 dari 7Ilustrasi tentang penuaan, dukungan keluarga, dan harapan akan pelayanan kesehatan yang manusiawi bagi warga lanjut usia. Gambar: AI Generated/Dok. Pribadi.Ada perubahan dalam kehidupan yang sering kali baru kita sadari, justru ketika perubahan itu mulai terasa dekat. Orang tua yang dahulu selalu terlihat kuat, perlahan membutuhkan bantuan. Tubuh yang selama bertahun-tahun menjadi penopang kehidupan, sekarang mulai memperlihatkan keterbatasannya. Hal-hal sederhana yang dahulu dapat dilakukan tanpa berpikir panjang, kini membutuhkan perhatian lebih.Kita mungkin menyaksikan perubahan itu pada orang tua kita. Suatu hari nanti, barangkali kita pun akan mengalaminya sendiri.Menjadi tua merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat kita hindari. Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak kita anggap sebagai keniscayaan: menjalani usia tua dalam ketidakpastian, tanpa perlindungan yang dapat diandalkan, dan tanpa kepastian bahwa kita akan tetap diperlakukan secara bermartabat.Di sinilah, pertanyaan tentang penuaan menjadi lebih luas daripada sekadar persoalan usia. Ia membawa kita kepada pertanyaan tentang keluarga, masyarakat, dan bahkan negara.Ketika manusia semakin rentan, apakah negara sungguh-sungguh hadir untuk merawatnya?Indonesia yang Semakin MenuaPerubahan ini bukan sekadar pengalaman yang dialami oleh satu keluarga.Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen dari total penduduk Indonesia. Indonesia pun telah memasuki fase penduduk menua atau ageing population.Angka ini memberi kita satu alasan untuk berhenti sejenak dan mulai memikirkan kembali arah kehidupan bersama.Di balik angka tersebut, ada orang-orang yang telah menjalani puluhan tahun kehidupannya. Ada orang tua yang masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada mereka yang menikmati masa tua bersama keluarga. Ada pula yang mulai menghadapi sakit, kehilangan pasangan, atau membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas yang dahulu terasa begitu biasa.Pengalaman mereka tidak sama.Sebagian memasuki usia tua dengan dukungan keluarga dan sumber daya yang memadai. Sebagian lainnya harus menjalani perubahan tubuh dan kebutuhan hidup dalam keadaan yang jauh lebih terbatas.Karena itu, penuaan penduduk tidak cukup dipahami sebagai perubahan komposisi usia warga negara. Ia juga mengingatkan kita bahwa kebutuhan manusia nyatanya berubah seiring waktu, sementara kemampuan setiap orang untuk menghadapi perubahan tersebut tidak selalu sama.Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak penduduk yang akan menua.Pertanyaannya yang sesungguhnya adalah bagaimana mereka akan menjalani kehidupannya ketika usia bertambah, tubuh berubah, dan kebutuhan akan pertolongan mulai meningkat.Ketika Tubuh Mulai Memiliki BatasSelama tubuh masih terasa kuat, kita jarang memikirkan betapa pentingnya kemampuan untuk mengurus diri sendiri.Kita bergerak, bekerja, bepergian, merencanakan masa depan, dan menjalani berbagai tanggung jawab seolah-olah kemampuan itu akan selalu tersedia. Kita telah terbiasa menjadi orang yang membantu, bukan orang yang membutuhkan bantuan.Namun, kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan.Ada saat ketika berjalan terasa lebih melelahkan. Ada keadaan ketika sakit membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Ada pula kemungkinan bahwa seseorang yang selama ini mandiri, perlahan mulai memerlukan bantuan orang lain untuk menjalani kehidupannya sehari-hari.Perubahan itu tidak selalu datang secara tiba-tiba. Sering kali, ia berlangsung perlahan, bahkan hampir tanpa disadari, sampai pada suatu ketika, kita mulai memahami bahwa hidup tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali kita sendiri.Pada saat itulah, menua membawa pertanyaan yang lebih dalam.Bukan hanya apakah kita akan sakit, tetapi juga apa yang akan terjadi ketika kita sakit. Bukan hanya apakah kita akan membutuhkan bantuan, tetapi juga apakah akan ada seseorang yang dapat kita andalkan ketika bantuan itu benar-benar diperlukan.Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terasa ringan karena mereka memiliki keluarga, tabungan, dan akses terhadap pelayanan yang dibutuhkan. Namun, bagi sebagian lainnya, pertanyaan yang sama dapat menjadi sumber kecemasan yang terus dibawa dalam diam.Ketidakpastian bukan selalu lahir dari penyakit itu sendiri. Ia juga dapat tumbuh dari ketidaktahuan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.Siapa yang akan membantu ketika kita tidak lagi mampu mengurus diri sendiri?Bagaimana jika keluarga kita juga memiliki keterbatasan?Bagaimana jika kebutuhan perawatan datang ketika sumber daya yang kita miliki tidak lagi mencukupi?Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak selalu diucapkan. Namun, bukan berarti pertanyaan itu tidak ada.Dan, ketika semakin banyak orang memasuki usia lanjut, kegelisahan yang semula terasa sangat pribadi pun mulai memperlihatkan dimensi yang lebih luas. Ia bukan hanya persoalan seseorang atau sebuah keluarga. Ia juga menyangkut bagaimana masyarakat dan bahkan negara mempersiapkan kehidupan bagi warganya yang menua.Merawat Bukan Hanya Urusan KeluargaDalam kehidupan kita, keluarga memiliki tempat yang istimewa. Merawat orang tua, mendampingi mereka ketika sakit, dan memastikan mereka tidak menjalani masa tua sendirian merupakan bagian penting dari hubungan antargenerasi.Nilai tersebut tidak seharusnya hilang hanya karena zaman berubah.Namun, kita juga perlu memahami bahwa kasih sayang tidak selalu berarti kemampuan untuk memenuhi setiap kebutuhan perawatan.Anak-anak memiliki pekerjaan dan tanggung jawabnya sendiri. Sebagian tinggal jauh dari orang tua. Sebagian harus membagi waktu antara mencari nafkah, mengurus anak, dan mendampingi orang tua yang membutuhkan bantuan.Tidak semua keluarga memiliki keadaan yang sama. Tidak semua orang tua memiliki pasangan atau anak yang dapat mendampinginya. Bahkan, dalam keluarga yang penuh perhatian sekalipun, ada kebutuhan perawatan yang mungkin melampaui kemampuan mereka.Dalam keadaan seperti itu, menyebut perawatan orang tua semata-mata sebagai tanggung jawab keluarga, tidaklah cukup untuk menjawab persoalan yang sesungguhnya.Kita perlu bertanya bagaimana keluarga dapat tetap menjalankan tanggung jawabnya, ketika kebutuhan semakin besar dan kemampuan mereka terbatas.Negara tidak harus menggantikan keluarga. Negara justru perlu memastikan bahwa keluarga tidak dibiarkan menghadapi seluruh persoalan tersebut sendirian.Perlindungan kesehatan, pelayanan yang mudah dijangkau, dukungan sosial, dan bantuan bagi mereka yang membutuhkan perawatan merupakan bagian dari kehidupan bersama yang perlu kita pikirkan secara sungguh-sungguh.Sebab, pada akhirnya, tidak semua orang dapat menjalani masa tua dengan mengandalkan sumber daya yang dimilikinya sendiri.Di sinilah, kita perlu melihat bahwa perawatan bukan sebagai persoalan pribadi semata, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.Kehadiran Negara yang Dapat DirasakanNegara sering kita kenali melalui sesuatu yang tampak: peraturan, kebijakan, lembaga, dan program pelayanan.Namun, bagi seseorang yang sedang sakit, semua itu memiliki arti yang berbeda.Negara tidak lagi hanya hadir sebagai institusi yang mengatur. Kehadirannya menjadi nyata ketika seseorang membutuhkan pertolongan, ketika keluarga tidak lagi mampu mengatasi seluruh persoalan sendiri, atau ketika ketidakpastian membuat kehidupan terasa semakin berat.Dalam pengalaman seperti itu, seseorang tidak hanya membutuhkan sistem yang secara formal tersedia. Ia pun membutuhkan kepastian bahwa sistem tersebut dapat diandalkan ketika benar-benar diperlukan.Seseorang bahkan ingin memperoleh pertolongan tanpa harus menghadapi kerumitan yang tidak perlu. Ia ingin didengarkan ketika menjelaskan kebutuhannya. Ia ingin diperlakukan dengan baik ketika berada dalam kondisi yang membuat dirinya lebih rentan.Hal-hal itu mungkin terlihat sederhana.Namun, bagi seseorang yang sedang sakit atau menghadapi perubahan tubuh akibat usia, pengalaman tersebut dapat menentukan: apakah ia merasa terlindungi atau justru merasa harus berjuang sendirian.Di sinilah, makna jaminan kesehatan menjadi lebih luas daripada keberadaan program dan prosedur administratif.Jaminan kesehatan bukan hanya tentang apakah perlindungan telah disediakan. Ia juga menyangkut apakah perlindungan tersebut sungguh dapat dirasakan oleh orang yang membutuhkannya.Dan, rasa aman yang lahir dari perlindungan pun tidak hanya berkaitan dengan hasil pelayanan. Ia juga berkaitan dengan bagaimana seseorang diperlakukan selama menjalani proses tersebut.Sebab, manusia yang sedang sakit, tetaplah merupakan manusia yang memiliki martabat. Keterbatasan tubuhnya tidak mengurangi nilai dirinya. Ketergantungannya kepada orang lain tidak membuatnya kehilangan hak untuk dihormati.Negara yang hadir dengan baik, semestinya memahami kenyataan itu.Menua dengan TenangKita tentu tidak dapat meminta kehidupan untuk berhenti berubah. Kita juga tidak dapat berharap bahwa penuaan akan selalu berlangsung tanpa sakit, kehilangan, atau ketidakpastian.Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia.Namun, menerima kenyataan bahwa kehidupan memiliki batas bukan berarti kita harus menerima bahwa setiap kerentanan akan selalu menjadi beban yang ditanggung sendiri.Ada perbedaan nyata antara memahami bahwa manusia dapat jatuh sakit dan membiarkan seseorang menghadapi sakit tanpa pertolongan yang memadai.Ada perbedaan antara menerima bahwa tubuh akan melemah dan menganggap bahwa seseorang yang kehilangan sebagian kemandiriannya harus kehilangan pula kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan bermartabat.Dan, ada perbedaan antara menyadari bahwa keluarga memiliki tanggung jawab terhadap orang tua dan membiarkan keluarga menghadapi kebutuhan perawatan yang melampaui kemampuannya tanpa dukungan yang layak.Perbedaan-perbedaan itulah yang seharusnya menjadi bahan renungan kita ketika membicarakan Indonesia yang semakin menua.Pembangunan pun semestinya tidak hanya berbicara tentang bagaimana masyarakat menjadi lebih produktif, bagaimana ekonomi tumbuh, atau bagaimana negara meningkatkan kapasitasnya. Pembangunan juga perlu memberi perhatian kepada manusia yang pada suatu tahap kehidupannya, tidak lagi memiliki kemampuan yang sama seperti sebelumnya.Sebuah negara tidak dapat dinilai hanya dari apa yang berhasil dibangunnya. Ia juga perlu dilihat dari bagaimana manusia menjalani kehidupan di dalamnya, terutama ketika kehidupan tersebut mulai terasa rapuh.Pada akhirnya, menua bukan hanya perjalanan menuju bertambahnya usia. Ia juga merupakan perjalanan menuju saat ketika kita mungkin membutuhkan lebih banyak perhatian, pertolongan, dan pengertian dari orang lain.Hari ini, kita mungkin sedang merawat orang tua kita. Esok, kita mungkin berada dalam posisi yang sama dengan mereka.Karena itu, pertanyaan tentang bagaimana negara merawat penduduknya yang menua sesungguhnya bukan hanya pertanyaan tentang orang lain.Pertanyaan itu juga menyangkut masa depan kita sendiri.Kita tidak sedang meminta negara untuk menjanjikan kehidupan tanpa kesulitan. Kita hanya berharap bahwa ketika tubuh mulai melemah dan kehidupan menjadi semakin rentan, manusia tetap memiliki alasan untuk merasa aman.Sebab, pada akhirnya, cara sebuah negara memperlakukan warganya yang menua bukan hanya menunjukkan bagaimana negara itu menyediakan perlindungan.Ia juga memperlihatkan seberapa jauh negara tersebut memahami martabat manusia.Dan mungkin, di situlah pertanyaan yang sesungguhnya perlu kita renungkan bersama:Ketika suatu hari kita menjadi tua, apakah kita dapat menjalani kehidupan dengan tenang, tetap dihargai, dan tidak merasa ditinggalkan oleh negara kita sendiri?----- AK20261020-----Negara, Manusia, dan Martabat (#1): Gagasan, pemikiran, dan harapan masa depan, untuk literasi terhadap hal-hal yang menjadi kepentingan publik. Kontak: aji.karmaji@gmail.com.