Kasus kekerasan seksual yang mencuat ke permukaan sering kali menyisakan luka ganda bagi para korban. Salah satu yang muncul ke publik dan menjadi sorotan di media sosial adalah kasus di Cornell University, Amerika Serikat. Namun, alih-alih mendapatkan keadilan dan perlindungan penuh, tidak sedikit korban yang justru disudutkan oleh tuduhan publik dan mendapatkan pertanyaan skeptis.Lantas, mengapa masyarakat kerap kali lebih cepat menghakimi respons atau latar belakang korban ketimbang mengusut tuntas tindakan pelaku?Melalui diskusi dalam podcast SuarAkademia, Lucia Peppy Novianti, kandidat doktor ilmu psikologi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa maraknya pengungkapan kasus kekerasan seksual belakangan ini tidak serta-merta menandakan peningkatan kejadian secara mendadak semata. Maraknya pengungkapan kasus di ruang publik lebih disebabkan oleh makin terbukanya wadah bagi korban untuk bersuara berkat perkembangan media sosial dan menguatnya dukungan komunitas. Baca juga: Kasus Cornell 7 harus jadi alasan kita mengevaluasi strategi pencegahan kekerasan seksual Keberanian untuk mengungkapkan trauma yang selama ini terpendam timbul ketika korban merasa ada pihak yang siap mendampingi dan memvalidasi pengalaman mereka.Sayangnya, korban kekerasan seksual seringkali mendapat pertanyaan mengapa tidak langsung melawan saat kejadian. Peppy menegaskan bahwa respons manusia terhadap situasi teror kekerasan tidak sesederhana reaksi menghadapi ancaman fisik biasa. Korban sering kali mengalami kondisi kelumpuhan sementara (tonic immobility) atau pembajakan emosional yang membuat tubuh membeku sehingga tidak mampu berteriak maupun merespon. Peppy mengungkapkan bahwa korban membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun untuk mengungkapkan karena diliputi evaluasi rasa bersalah pada diri sendiri (self-blaming) serta kecemasan akan kehilangan dukungan dari keluarga atau orang terdekat. Fenomena victim blaming dan rape culture yang masih terjadi di tengah masyarakat turut memperberat beban psikologis korban.Publik kerap menghubungkan peristiwa kekerasan dengan hal-hal yang tidak relevan, seperti cara berpakaian, lokasi beraktivitas, hingga riwayat relasi antara korban dan pelaku.Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.