Pekerja laboratorium tersebut bertugas di fasilitas riset pencegahan penyakit pes. PeopleImages/ ShutterstockSeorang pekerja laboratorium di Institut Penelitian Antipes di Siberia, Rusia, meninggal dunia hanya beberapa hari setelah jatuh sakit akibat penyakit yang belum diketahui penyebabnya.Laporan mengenai dugaan penyakit pes beredar di media. Namun, badan pengawas kesehatan konsumen Rusia menyebut penyakit tersebut sebagai pneumonia yang penyebabnya belum diketahui. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa penyebab kematian yang resmi belum dikonfirmasi. Karena itu, penyakit pes masih sebatas salah satu kemungkinan penyebabnya.Meskipun kematiannya tragis dan membutuhkan penyelidikan yang serius, kasus ini bukan menjadi alasan untuk panik atau tanda bahwa Wabah Hitam telah kembali. Saat ini, ketersediaan pengobatan, tes cepat, dan pelacakan kontak membuat situasi penyakit pes jauh berbeda dibandingkan di masa lalu.Mengapa muncul dugaan wabah pes?Penyebab kematian teknisi laboratorium tersebut hingga kini masih belum diketahui. Namun, karena tempat bekerjanya merupakan lembaga penelitian yang mempelajari bakteri penyebab penyakit pes, otoritas kesehatan perlu mempertimbangkan penyakit ini sebagai salah satu kemungkinan penyebabnya.Teknisi tersebut mengidap salah satu jenis pneumonia yang menyebabkan kematiannya hanya beberapa hari setelah terinfeksi. Penyakitnya juga menyerupai gejala pes pneumonik.Jenis pes ini menyerang paru-paru—biasanya setelah seseorang menghirup bakterinya—dan bisa berkembang dalam waktu satu atau dua hari. Gejala-gejalanya mencakup demam, batuk, sesak napas, dan dahak yang bercampur darah.Namun, banyak infeksi lain yang menyebabkan pneumonia juga menunjukkan gejala serupa. Hanya pemeriksaan laboratorium yang bisa membedakannya. Otoritas kesehatan biasanya mengelompokkan kasus penyakit pes sebagai dugaan, kemungkinan besar, atau terkonfirmasi. Jadi, penggunaan istilah “dugaan” adalah klasifikasi yang wajar pada tahap awal penyelidikan.Apa yang mungkin terjadi?Kita belum mengetahui bagaimana persisnya pekerja laboratorium tersebut jatuh sakit, dan tidak ada gunanya untuk berspekulasi. Laporan awal media menyebut adanya tabung sampel pecah, tapi kabar ini telah dibantah oleh pihak berwenang.Secara umum, kasus infeksi dari dalam laboratorium memang jarang terjadi. Namun, ketika hal tersebut terjadi, kasusnya biasanya terdokumentasi dengan baik dan cenderung mengikuti pola yang serupa.Kasus penyakit pes yang berasal dari laboratorium terakhir terdokumentasi di Chicago pada 2009. Seperti kasus di Rusia, peneliti tersebut meninggal beberapa hari setelah mengidap penyakitnya. Bakteri penyebab penyakit pes, Yersinia pestis, terkonfirmasi dalam kasus tersebut. Namun, para penyidik tidak berhasil memastikan bagaimana dia bisa terinfeksi. Jika penyakit pes pada pekerja laboratorium di Rusia nantinya terkonfirmasi, penyebab infeksinya mungkin tetap sulit diketahui.Di dalam laboratorium, terdapat beberapa jalur penularan patogen yang menyerang saluran pernapasan, termasuk bakteri penyebab pes pneumonik. Risiko utamanya berasal dari penghirupan tetesan mikro yang terlepas saat tabung pecah, sampel tumpah, atau kultur mikroorganisme ditangani tanpa prosedur keselamatan yang tepat. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui cedera akibat tertusuk jarum suntik dan percikan cairan ke mata. Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. MohamadOuaidat/ Shutterstock Laboratorium yang menangani patogen berbahaya menggunakan fasilitas yang dirancang khusus, peralatan pelindung, dan protokol keselamatan yang ketat. Meskipun langkah-langkah ini membantu mengurangi risiko kecelakaan, potensi bahaya tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.Apa yang sudah diupayakan?Pihak berwenang telah mengidentifikasi hampir 200 orang yang pernah berkontak dengan pekerja laboratorium tersebut sejak ia mulai merasa sakit. Mereka kini berada di bawah pengawasan medis sebagai langkah pencegahan.Pembatasan penyebaran merupakan protokol standar yang sudah lama diterapkan dalam penanganan berbagai wabah penyakit menular. Langkah ini mencakup isolasi dan pengobatan pasien, serta identifikasi, pemantauan, dan penelusuran kontak terdekat, termasuk pemberian antibiotik pencegahan dan karantina jika diperlukan.Pemantauan kontak secara cepat memungkinkan siapa pun yang kemudian jatuh sakit untuk segera diisolasi dan dirawat. Langkah ini juga dilakukan untuk melindungi masyarakat, apa pun penyebab pasti penyakit tersebut.Apakah penyakit pes saat ini berbeda dari Wabah Hitam?Ketika mendengar penyakit pes, kita biasanya membayangkan Wabah Hitam (Black Death): dokter pes dengan topeng menyeramkan dan masyarakat abad pertengahan yang tidak berdaya, terbaring sakit dengan benjolan-benjolan yang menyakitkan dan menutupi tubuh. Wabah Hitam menewaskan jutaan orang di seluruh dunia, tetapi situasi saat ini sangat berbeda.Kita kini mempunyai akses terhadap antibiotik, pemeriksaan laboratorium, dan sistem pemantauan penyakit yang kuat sehingga penyakit pes jauh lebih kecil risikonya bagi kesehatan masyarakat dibandingkan masa Abad Pertengahan.Penyakit pes masih dapat berkembang di wilayah-wilayah masyarakat yang hidup berdekatan dengan hewan pembawa kutu. Hunian yang lebih baik, sanitasi yang bersih, dan pengendalian hama tikus dapat mengurangi paparan terhadap kutu yang terinfeksi bakteri penyebab penyakit pes. Dengan demikian, risiko tergigit kutu dan tertular pes bubonik juga berkurang.Di tempat-tempat penyakit pes menyebar secara alami, kebersihan diri yang baik dan kewaspadaan dalam menangani hewan liar yang sakit, mati, atau hasil buruan juga dapat menurunkan risiko infeksi. Baca juga: Hantavirus ditemukan pada peternak satwa liar di Vietnam: Alarm bagi Asia Tenggara Kasus pes bubonik terjadi sesekali dan jarang menular antarmanusia. Biasanya, ada beberapa ratus kasus setiap tahunnya di seluruh dunia, terutama di Madagaskar dan Republik Demokratik Kongo. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus-kasus di Amerika Serikat (AS), Cina, Mongolia, dan Peru juga mulai rutin dilaporkan.Pes pneumonik jauh lebih jarang terjadi. Penyakit ini dapat berkembang ketika seseorang menghirup bakteri penyebabnya atau ketika pes bubonik yang tidak diobati menyebar ke paru-paru. Pes pneumonik dapat menular dari satu orang ke orang lain, tetapi biasanya membutuhkan kontak dekat dengan seseorang yang sudah mengidap penyakitnya.Persentase pasien yang meninggal akibat penyakit pes bergantung pada seberapa cepat mereka mendapatkan penanganan. Tanpa pengobatan, pes bubonik diperkirakan menewaskan 30% hingga 60% pasien. Sementara itu, pes pneumonik yang tidak diobati berakibat fatal bagi hampir 100% orang yang tertular.Hal terpenting adalah penyakit pes dapat diobati secara efektif dengan antibiotik yang tersedia luas. Sejumlah penelitian terbaru menemukan bahwa jika mendapat pengobatan, hanya sekitar satu dari enam orang yang tertular pes bubonik atau pes pneumonik meninggal akibat infeksi tersebut..Namun, tanda-tanda penyakit pes harus dikenali sejak dini. Sebab, gejala awal pes pneumonik—seperti demam, sakit kepala, tubuh lemas, dan batuk—menyerupai banyak penyakit lainnya. Baca juga: Dari gawai warga, Thailand pantau penyebaran penyakit hingga ke desa: Apa yang bisa dipelajari Indonesia? Sebagian besar dokter di luar wilayah endemik mungkin belum pernah menangani kasus penyakit pes, apalagi menduganya. Oleh karena itu, penting untuk meminimalkan jarak antara terjadinya infeksi, munculnya kecurigaan itu penyakit pes, dan dimulainya pengobatan. Inilah alasan kesadaran mengenai penyakit ini dan tes cepat sangat penting, terutama bagi orang-orang yang mungkin telah terpapar.Risiko bagi masyarakat dari satu kasus dugaan penyakit pes di Siberia ini sangat rendah, baik di Rusia maupun di negara lain. Fokus utama saat ini adalah memantau apakah ada individu dalam pengawasan yang mulai menunjukkan gejala, mengonfirmasi hasil uji laboratorium, dan mengusut bagaimana pekerja laboratorium tersebut bisa terinfeksi.Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.Josephine Bourner tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.