Harapan Ortu Bocah Down Syndrome yang Meninggal Diduga Dibully: Mohon Keadilan

Wait 5 sec.

Selaras Abdul Wahid (53), ayah Z (10), bocah dengan Down syndrome yang meninggal dan diduga menjadi korban perundungan, saat ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparanSelaras Abdul Wahid (53), tak mampu menahan duka mendalam saat mengenang kepergian putra bungsunya, Z (10). Bocah penderita down syndrome yang sehari-hari menggunakan kursi roda itu meninggal dunia setelah diduga menjadi korban bully oleh dua anak tetangganya, F (8) dan K (11).Selaras menaruh harapan besar pada proses hukum dan penanganan para pelaku. Ia menyadari usia para terduga pelaku yang masih sangat muda, sehingga ia tak menuntut hukuman penjara, melainkan pembinaan."Harapan saya mohon keadilan. Saya enggak ingin anak itu dihukum, saya ingin kedua anak itu dibina oleh lembaga negara untuk dijadikan manusia yang bermanfaat," ujar Selaras saat ditemui di kediamannya, Sabtu (17/10).Bagi Selaras dan istrinya, Z adalah anak kesayangan yang dibesarkan dengan penuh pengorbanan.Karenanya, Selaras memohon agar pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan perhatian serius."Sebelum dia (pelaku) mengerti mana yang baik, mana yang buruk, mana yang hak, mana yang batil, tolong jangan dilepaskan lagi ke masyarakat. Kalau cuma dibina 6 bulan, enggak bisa, saya enggak percaya," ucapnya."Mana keadilannya untuk saya kalau anak ini tidak dibina dan dijadikan manusia yang bermanfaat? Pengin saya itu saja, ingin dibina kedua anak itu sampai dia dewasa menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain," lanjut dia.Awal Mula KasusIlustrasi perundungan atau bullying. Foto: panadda design/ShutterstockPeristiwa ini bermula pada Sabtu (12/9), ketika istri Selaras yang biasa berjualan sari kedelai di pasar berangkat berdagang sekitar pukul 07.30 WIB. Hari itu, Selaras yang baru saja menjalani operasi kencing batu sebulan sebelumnya sedang berada di dalam rumah dan tertidur lelap akibat rasa sakit serta efek obat yang diminumnya.Z seperti biasa ditempatkan di kursi roda di teras depan rumah. Bocah yang juga mengidap katarak dan penyakit jantung bocor tersebut memang lebih merasa nyaman berada di luar ketimbang di dalam kamar.Berdasarkan rekaman CCTV, dua anak terpantau masuk ke area rumah korban sekitar pukul 08.15 WIB dan keluar pada pukul 08.32 WIB. Tak berselang lama, salah satu anak kembali masuk pada pukul 08.37 WIB selama sekitar 10 menit untuk memastikan kondisi Z.Kepulangan sang istri pada pukul 09.20 WIB menjadi awal terkuaknya peristiwa nahas tersebut. Sang ibu mendapati putranya sudah dalam posisi tertelungkup jatuh dari kursi roda dengan kondisi tubuh membiru."Istri saya datang jam 09.20 teriak-teriak, 'Bi, anake wis biru, anake wis biru'. Ternyata ada jeratan tali sepatu di lehernya," kata Selaras.Tali sepatu yang diduga diambil dari tempat penampungan barang bekas di sebelah rumah itu dijeratkan ke leher Z. Tak berhenti di situ, korban juga diduga dijejali cairan sabun colek dan ditaburi daun lamtoro. Korban sempat dilarikan ke RS Eka Chandra Rini, namun dinyatakan telah meninggal dunia.Peristiwa ini rupanya bukan kali pertama Z mendapatkan perlakuan jahat. Selaras mengungkapkan bahwa sepekan sebelum kejadian tersebut, ia sempat mendapati hal mencurigakan pada diri sang anak."Seminggu sebelum kejadian, anak saya itu sudah ada tampar (tali tambang) dikalungkan di lehernya sini, sekitar 1 meteran tebalnya satu jari," ungkapnya.Namun karena keterbatasan fisik dan tak bisa berbicara, korban tak mampu mengadukan apa yang dialaminya.Kasus yang menimpa anak berkebutuhan khusus ini kini ditangani oleh Polrestabes Surabaya.