Sentimen MSCI Masih Pengaruhi IHSG Pekan Depan, Ini Proyeksi Analis

Wait 5 sec.

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menurun di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTOIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan depan. Pasar diselimuti kekhawatiran atas usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan rekapitulasi status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.Ketidakpastian ini berpotensi menekan minat investasi, terutama dari pemodal asing. Analis sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan saat ini bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan krisis kepercayaan terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal domestik."Kondisi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemulihan harga saham. Investor kini mempertimbangkan apakah risiko berinvestasi di Indonesia masih sebanding dengan potensi imbal hasilnya," kata Hendra kepada kumparan, Sabtu, (17/10).Hendra mencatat, kecemasan pasar tercermin dari aksi jual bersih (net sell) investor asing senilai Rp 3,4 triliun pada perdagangan Jumat, (16/10). Sepanjang 2026, akumulasi net sell asing telah menembus Rp 114 triliun.Ia menambahkan, jika Indonesia benar-benar kehilangan status Emerging Market, dana pasif global akan merombak portofolionya. Investor aktif juga berpeluang besar memangkas kepemilikan saham Indonesia.Dampaknya meliputi penurunan daya tarik investasi, merosotnya permintaan saham domestik, hingga lonjakan volatilitas pasar.Meski demikian, Hendra menekankan bahwa usulan MSCI belum final. Pembenahan konkret dari pemerintah dan otoritas bursa menjadi kunci utama memulihkan kepercayaan pasar.Langkah perbaikan perlu berfokus pada transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen, pengawasan konsentrasi kepemilikan, pemenuhan kriteria free float, serta penegakan hukum atas transaksi tidak wajar."Pasar membutuhkan bukti implementasi yang konsisten, bukan sekadar pengumuman kebijakan," tegasnya.Hendra juga mengingatkan pentingnya konsistensi kebijakan fiskal. Efektivitas belanja negara, transparansi anggaran, stabilitas rupiah, dan kepastian regulasi menjadi pertimbangan utama investor.Secara teknikal, IHSG masih berisiko melanjutkan pelemahan jika belum ada katalis positif yang kuat.Level psikologis 5.000 menjadi area support krusial. Jika tertembus, IHSG berpotensi terseret menuju 4.880. Sebaliknya, jika tekanan jual mereda, IHSG berpeluang menguat menuju resistance 5.280 hingga 5.400."Kenaikan indeks harus dikonfirmasi oleh peningkatan volume beli dan penurunan net sell asing agar tidak sekadar menjadi rebound teknikal," jelas Hendra.Sentimen MSCI Masih MembayangiLayar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menurun di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTOSenior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, sepakat bahwa sentimen MSCI masih membayangi pergerakan IHSG pekan depan. Investor akan mencermati proses evaluasi pasar, transparansi data kepemilikan saham, kualitas free float, serta risiko penyesuaian bobot saham Indonesia.Kondisi tersebut membuat investor asing cenderung mengambil sikap bertahan (wait and see)."Pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi otoritas pasar modal dengan MSCI serta realisasi reformasi pasar," kata Nafan.Terkait rencana sanksi bagi tiga emiten (BREN, DSSA, dan CUAN) yang melanggar aturan, Nafan menilai langkah itu merupakan sinyal positif penegakan hukum.Namun, dampaknya terhadap IHSG belum akan signifikan jika penindakan bersifat parsial. Pasar membutuhkan penegakan aturan yang konsisten secara menyeluruh."Ini bisa menjadi katalis positif jangka panjang bagi kepercayaan investor, asal diikuti reformasi yang kredibel," ujar Nafan.Selain isu MSCI, pergerakan dana asing, nilai tukar rupiah, suku bunga global, imbal hasil US Treasury, dan harga komoditas akibat dinamika geopolitik tetap perlu diwaspadai.Dari dalam negeri, efektivitas reformasi pasar modal dan rilis data ekonomi terkait arah kebijakan moneter Bank Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar.Nafan memproyeksikan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways to bearish selama tekanan jual asing dan isu MSCI belum mereda.Meski begitu, peluang penguatan teknikal tetap terbuka jika muncul aksi beli selektif. Investor disarankan lebih cermat memilih saham berfundamental kuat dan bervaluasi murah, serta tetap disiplin mengelola risiko.