Karhutla Batasi Ruang Bermain Anak, Psikolog Ungkap Dampaknya

Wait 5 sec.

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: eyes on him/ShutterstockMoms, karhutla yang berkepanjangan membuat anak-anak di wilayah terdampak harus membatasi aktivitas di luar rumah demi menjaga kesehatan. Bermain di taman, berlarian bersama teman, hingga mengikuti kegiatan di sekolah menjadi lebih sulit dilakukan ketika kualitas udara memburuk.Bagi orang tua, membatasi aktivitas anak mungkin menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan asap. Namun, di balik upaya perlindungan tersebut, ada kebutuhan anak yang juga perlu diperhatikan, yaitu kesempatan untuk bermain, bergerak, dan berinteraksi dengan teman sebaya.Psikolog klinis anak, remaja dan keluarga, Roslina Verauli, M.Psi.,Psikolog menjelaskan, pembatasan ruang gerak anak akibat kabut asap dapat menimbulkan dilema. Upaya menjaga kesehatan fisik anak berpotensi membuat kebutuhan psikologis mereka ikut terdampak, terutama ketika lingkungan yang biasa menjadi tempat anak beraktivitas tidak lagi bisa diakses seperti sebelumnya.Anak Bisa Lebih Mudah Marah hingga Mengalami Gangguan TidurIlustrasi anak marah. Foto: Shutter StockKetika anak terus berada di rumah dan kehilangan kesempatan untuk bermain di luar, rutinitas mereka bisa berubah secara signifikan. Anak yang biasanya aktif bergerak dan bertemu teman sebaya mungkin harus menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah.Menurut Roslina, terganggunya lingkungan yang berinteraksi langsung dengan anak, seperti sekolah dan tempat bermain, dapat memicu berbagai respons emosional.“Tentu saja ‘isolasi’ seperti dapat ini memicu peningkatan irritability (mudah marah), kecemasan, insomnia, dan kejenuhan digital pada anak,” jelas Roslina saat dihubungi kumparanMOM beberapa waktu lalu.Perubahan tersebut dapat terlihat melalui perilaku sehari-hari. Sebagian anak mungkin menjadi lebih mudah kesal, merasa bosan, sulit tidur, atau semakin sering meminta menggunakan gawai untuk mengisi waktu.Meski begitu, respons setiap anak bisa berbeda, Moms. Perubahan perilaku tersebut juga tidak serta-merta menandakan adanya gangguan psikologis. Orang tua perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh, termasuk seberapa lama perubahan berlangsung dan apakah hal itu mulai mengganggu aktivitas sehari-harinya.Hak Anak untuk Bermain Ikut Terdampakanak sedih Foto: ShutterstockDampak karhutla terhadap anak bukan hanya berkaitan dengan perubahan suasana hati. Ketika anak kehilangan kesempatan untuk bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya, kebutuhan mereka untuk bereksplorasi dan belajar melalui lingkungan juga bisa ikut terganggu.“Anak-anak terpaksa kehilangan dunia bermainnya, yang dalam jangka panjang dapat menghambat perkembangan motorik dan keterampilan sosio-emosional mereka,” tambah Roslina.Meski demikian, dampaknya tidak bisa disamaratakan pada setiap anak. Pengalaman selama karhutla, durasi pembatasan aktivitas, serta kesempatan anak memperoleh stimulasi alternatif di rumah dapat memengaruhi kondisi masing-masing.Selama kualitas udara belum memungkinkan anak beraktivitas di luar dengan aman, orang tua dapat mencari alternatif kegiatan di dalam rumah. Permainan menyusun balok, menggambar, membaca cerita, bermain peran, atau melakukan gerakan sederhana sesuai kondisi ruangan bisa menjadi pilihan.Orang tua juga dapat memberi ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya. Jika anak merasa bosan, sedih, atau kesal karena tidak bisa bermain di luar, dengarkan keluhannya tanpa langsung menganggapnya sebagai perilaku yang berlebihan.Yang tidak kalah penting, pembatasan aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan anjuran kesehatan setempat. Kebutuhan anak untuk bergerak dan bermain tetap penting, tetapi perlindungan dari paparan asap juga tidak boleh diabaikan, Moms.