Hotel Artotel Wanasaba, Wonosobo, Jawa Tengah. Foto: DN. Mustika Sari/kumparanRealitas kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan logika. Ada kalanya berbagai peristiwa terasa janggal, sulit dipahami, bahkan absurd. Namun, bagi seniman Indo B. Satria, absurditas tersebut bukan semata-mata sesuatu yang perlu dipertanyakan. Ia justru melihatnya sebagai potongan-potongan yang dapat dirangkai menjadi sebuah komposisi, lalu dihadirkan dalam bentuk karya seni.Gagasan tersebut tergambar dalam lukisannya yang berjudul "The Window of Serene Absurdity". Karya ini menampilkan beragam figur, objek, dan lanskap yang berpadu dalam satu komposisi visual.Indo B. Satria, pelukis "The Window of Serene Absurdity". Foto: DN. Mustika Sari/kumparanAlih-alih menyampaikan pesan melalui simbol-simbol yang memiliki arti tunggal, Indo membiarkan setiap elemen hadir sebagai bagian dari gambaran realitas yang absurd.Bagi Indo, objek-objek dalam lukisan tersebut tidak dimaksudkan untuk mewakili makna tertentu secara terpisah. Ia lebih tertarik pada bagaimana berbagai elemen itu disusun dan berinteraksi dalam satu kesatuan karya."Saya menggambarkan realitas ini hari ini udah absurd. Lalu dari realitas yang absurd itu, itu bagaimana saya membacanya, cara melewatinya. Saya dengan cara menganggap itu sebagai potongan-potongan komposisi penyusun kehidupan aja,” ujar Indo saat menjelaskan gagasan di balik karyanya.Melalui pendekatan tersebut, ia mencoba mengolah absurditas menjadi sesuatu yang indah. Bukan dengan menghilangkan kejanggalan yang ada, melainkan dengan merangkai berbagai potongan realitas ke dalam komposisi visual yang dapat dinikmati sebagai karya seni.Tidak Ada Makna Tunggal dalam Setiap ObjekSalah satu hal yang menarik dari "The Window of Serene Absurdity" adalah kebebasan yang diberikan kepada penikmat seni untuk membangun interpretasinya sendiri. Indo tidak secara khusus menetapkan arti dari setiap figur atau objek yang muncul dalam lukisan tersebut.Menurutnya, karya itu secara keseluruhan memang berbicara tentang absurditas. Namun, ia tidak ingin penonton terpaku pada upaya mencari arti khusus di balik setiap elemen yang ditampilkan.Pendekatan ini berkaitan dengan orientasi artistik Indo yang menitikberatkan pada aspek formal atau kebentukan. Ia ingin penonton terlebih dahulu mengalami karya melalui bentuk, susunan, dan komposisi visualnya, alih-alih diarahkan pada emosi atau pesan tertentu.Dengan demikian, pengalaman setiap orang ketika melihat lukisan tersebut bisa berbeda. Seseorang mungkin merasa senang, sementara orang lain bisa saja merasakan hal yang berbeda, bergantung pada pengalaman dan kondisi perasaan masing-masing.Bagi Indo, perbedaan interpretasi tersebut justru menjadi bagian menarik dari pengalaman menikmati seni. Lukisan menjadi semacam stimulus yang membuka ruang bagi penonton untuk menghubungkan apa yang mereka lihat dengan sudut pandang pribadi.Lanskap sebagai Ruang ImajinasiPilihan visual Indo dalam lukisan ini juga berkaitan dengan caranya memandang waktu dan realitas. Ia kerap menggunakan lanskap sebagai latar karena ingin menghindari kesan bahwa sebuah karya hanya merujuk pada periode tertentu.Menurutnya, latar berupa bangunan perkotaan, misalnya, dapat memberikan petunjuk yang lebih kuat mengenai zaman modern atau kontemporer. Sebaliknya, lanskap memberinya ruang untuk membangun suasana yang tidak terikat secara jelas pada satu masa.Ia juga sengaja memadukan objek dan figur dari konteks yang berbeda. Dalam karyanya, figur yang mengingatkan pada era Renaisans dapat hadir berdampingan dengan sosok anak muda skena masa kini.Perpaduan tersebut bukan dimaksudkan untuk menjelaskan suatu periode sejarah tertentu. Sebaliknya, Indo ingin menghindari pembatasan perspektif agar lukisannya tidak harus dibaca sebagai representasi dari satu zaman atau sudut pandang saja."The Window of Serene Absurdity" Dipajang di Hotel Artotel Wanasaba"The Window of Serene Absurdity" menjadi salah satu karya Indo B. Satria yang ditampilkan di artspace Artotel Wanasaba, Wonosobo. Kolaborasi ini merupakan pengalaman pertamanya bekerja sama dengan pihak hotel. Sebelumnya, ia lebih sering terlibat dalam kegiatan bersama galeri, pameran seni, dan art fair.“Jadi aku dihubungi ada partner namanya Bu Windi Salomo. Dulu Bu Windi bagian dari Artotel juga. Bu Windy kebetulan ngelola galeri, saya kenal di sana. Lalu Bu Windi merasa karya saya dengan Artotel Wanasaba ini punya keselarasan. Lalu setelah saya baca, oke saya tertarik dengan proyek ini,” terangnya.Indo B Satria menampilkan dua karya di artspace itu, dengan rencana penambahan karya lainnya. Ia mengaku menikmati proses kolaborasi tersebut, terutama karena mendapatkan kebebasan dalam berkarya tanpa intervensi visual yang membatasi pendekatannya.