● Asap karhutla terekam sudah menyebar secara nasional hingga ke daerah yang jauh dari titik api.● ISPA mengancam lintas wilayah akibat penyebaran asap.● Perlu ada upaya masif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana berskala nasional ini.Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini merupakan yang terbesar sejak 1997, serta menjadi yang terburuk–dengan luasan kebakaran 677 ribu hektare hanya sepanjang Januari – Agustus 2026.Dibandingkan karhutla besar sebelumnya pada tahun 2019 dan 2023, angka tahun ini lebih tinggi 47% dan 80%. Bukan hanya luasannya saja, dampaknya bagi masyarakat juga lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.Asap tidak hanya berdampak pada masyarakat sekitar, tapi juga ke wilayah-wilayah yang selama ini tak pernah terdampak, seperti Pulau Jawa. Wilayah lain yang jarang terdampak seperti Aceh pun melaporkan pekatnya asap kiriman di wilayahnya. Masalahnya, banyak warga yang abai bisa terpapar bahaya akibat asap karhutla kapan saja. Terlebih jika suatu wilayah tersebut tidak sepekat daerah-daerah terdampak. Baca juga: Hujan deras saja tak cukup memadamkan karhutla: Apa lagi yang diperlukan? Angka ISPA secara nasional sudah meningkatPertengahan Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi asap karhutla Kalimantan di atmosfer Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Partikel PM 2.5 (zat berbahaya pemicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)) bisa terbawa melintasi jarak ratusan kilometer. Di Kemayoran, Jakarta Pusat misalnya, angkanya berkisar 46,7–109,7 µg/m³, tiga sampai tujuh kali ambang aman WHO untuk paparan 24 jam. Jauh hari sebelumnya (per 1 September 2026), Kementerian Kesehatan telah menyampaikan ada kenaikan kasus ISPA di banyak wilayah yang berjauhan dari titik karhutla. Laporan ISPA sudah menembus 14,08 juta kasus dengan puncak mingguan di atas 400 ribu pada Juli – September. Celakanya, 63.711 kasus di antaranya menerpa anak-anak di bawah lima tahun.Serangan ISPA tak perlu menunggu penampakan asap karhutla karena hidung kita memang bukan alat ukur yang bisa diandalkan. Ia hanya menangkap zat yang berbau, sedangkan PM 2.5 nyaris tak berbau dan tak kasat mata karena tujuh kali lebih tipis dari rambut manusia. Baca juga: Bagaimana cara melindungi diri kita dari asap karhutla yang membahayakan kesehatan? Terbuai rasa aman karena jauh dari lokasiDi daerah dekat dengan karhutla, kewaspadaan masyarakat terhadap asap pasti tinggi. Sebab mereka melihat langsung tanda-tandanya, mulai dari jarak pandang yang menyempit, langit berubah oranye, hingga bau sangit yang menempel di baju.Berbeda dengan masyarakat di wilayah yang hanya menerima kiriman asap. Aba-aba itu tidak pernah datang. Ujungnya banyak yang tiba-tiba napasnya berat yang berujung sesak napas.Fenomena tersebut merupakan hal yang wajar. Dalam perspektif Health Belief Model, seseorang cenderung lebih waspada terhadap ancaman kesehatan ketika merasa rentan, menganggap ancaman tersebut serius, meyakini tindakan pencegahan bermanfaat, dan menilai hambatannya relatif ringan. Dalam konteks asap kiriman dari jauh, jarak psikologis dapat melemahkan persepsi kerentanan kita. Semakin jauh seseorang dari sumber bencana, semakin abstrak ancaman yang ia bayangkan.Akibatnya, karhutla kerap dianggap hanya mengancam warga Palangka Raya dan Jambi. Padahal, Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus ISPA di 63 kabupaten/kota. Masyarakat yang tinggal jauh dari titik api cenderung kurang waspada karena asap tipis kerap menyerupai kabut pagi, langit mendung, atau kondisi udara saat pancaroba. Di Jakarta dan sekitarnya, dampak karhutla pun berbaur dengan polusi kendaraan ataupun pabrik-pabrik.Ketika gejala awal seperti tenggorokan gatal dan batuk mulai muncul, sebagian orang juga menganggapnya sebagai keluhan ringan akibat masuk angin, kurang tidur, atau kurang minum. Baca juga: Donasi bencana karhutla: Urunan warga bukan alasan negara lepas tangan Apa yang perlu kita lakukan?Untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat, kampanye kesehatan kita perlu mengombinasikan informasi dan alat ukurnya. Masalah di lapangan bukan semata kurangnya pengetahuan, melainkan belum adanya pemicu yang mendorong masyarakat bertindak. Karena itu, pesan yang disampaikan perlu kita geser, bukan sekadar mengingatkan bahaya asap, melainkan mengajak masyarakat berhenti mengandalkan penglihatan dan penciuman untuk menilai kualitas udara, lalu mulai merujuk pada data pengukuran.Langkah menuju perubahan itu mulai terlihat. Sejak 22 September 2026, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kesehatan telah mengintegrasikan data pemantauan kualitas udara ke dalam SatuSehat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga sudah meminta warga rutin memeriksanya lewat aplikasi resmi.Pekerjaan berikutnya adalah membuat kebiasaan pemeriksaan mandiri benar-benar melekat. Indeks standar pencemar udara (ISPU) punya lima kategori resmi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2020, mulai dari “Baik”, “Sedang”, “Tidak Sehat”, “Sangat Tidak Sehat”, sampai “Berbahaya”.Informasi real-time tentang kondisi udara terkini harus disebarluaskan untuk menjangkau masyarakat. Dan diperlukan partisipasi aktif dari semua pihak terkait. Sekolah bisa mengumumkan angka ISPU di grup wali murid tiap pagi, kantor menampilkannya di layar lobi, puskesmas menempelkannya di papan informasi. Di luar keputusan politik untuk menetapkan status bencana ini sebagai bencana nasional, pada kenyataannya seluruh wilayah di Indonesia berpotensi terkena asap yang bisa merusak kesehatan dari karhutla. Sebab udara tidak mengenal batas administratif. Baca juga: Darurat bencana jadi ruang korupsi akibat 4 celah penyelewengan ini Dicky Indirwan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.