Berawal dari Royalti Lagu, Andien Bangun Sekolah Gratis untuk Anak Pemulung

Wait 5 sec.

Penyanyi Andien saat konferensi pers launcing album ke sembilan berjudul Sehidup Semusik di Jakarta, Kamis, (25/6/2026). Foto: Agus ApriyantoPenyanyi Andien Aisyah memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sejak 2022, ia mendirikan Sekolah Anak Percaya, sekolah gratis yang ditujukan bagi anak-anak pemulung agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak.Sekolah Anak Percaya berada di bawah naungan Andien Foundation. Andien mengawali inisiatif tersebut dengan memanfaatkan royalti lagu berjudul Percaya yang ia jual melalui skema non-fungible token (NFT) pada masa pandemi COVID-19.“Waktu itu lagi zaman COVID, terus aku menjual lagu ini royaltinya secara NFT. Nah, waktu itu hasil dari NFT tersebut kemudian kami jadikan modal untuk mendirikan Sekolah Anak Percaya ini,” ujar Andien di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.Penyayi Andien berkolaborasi dengan Diskoria pada The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung, Sabtu (3/10/2026). Foto: Dzaki Fadilah/kumparanAndien bercerita, gagasan mendirikan sekolah tersebut muncul setelah ia berulang kali mengunjungi kampung pemulung dan berinteraksi dengan anak-anak di sana. Dari kunjungan tersebut, ia melihat bahwa pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian.Ia juga mengetahui bahwa sejumlah pihak yang mengelola sekolah gratis maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) masih memiliki keraguan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di kampung pemulung.“Jadi akhirnya aku bilang, ‘Ya udah kalau memang belum ada solusinya, justru aku yang ingin jadi solusinya. Yuk kita cari solusinya bareng.’ Akhirnya di tahun 2022 itu mendirikan Sekolah Anak Percaya,” ucapnya.Penyayi Andien berkolaborasi dengan Diskoria pada The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung, Sabtu (3/10/2026). Foto: Dzaki Fadilah/kumparanSekolah Anak Percaya pertama kali didirikan di Kampung Pemulung Pondok Kopi. Seiring berjalannya waktu, sekolah tersebut berkembang ke sejumlah lokasi lain, yakni Joglo, Jurang Mangu, dan Rawa Bebek. Pada Oktober 2026, Andien kembali membuka titik belajar kelima di Kampung Apung.Berbeda dari lokasi sebelumnya, sebagian besar warga di kawasan tersebut bekerja sebagai pengupas kerang. Andien mengaku baru pertama kali melihat kondisi lingkungan di Kampung Apung. Ia juga menemukan banyak anak yang putus sekolah di kawasan tersebut.