Populer: KUR di Bawah Rp 100 Juta Tak Perlu Jaminan; AS-Jepang Perkuat Yen

Wait 5 sec.

Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFPBerita mengenai pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) di bawah Rp 100 juta tak perlu menggunakan jaminan menjadi berita populer kumparanBisnis, Minggu (2/8). Selain itu, pemberitaan mengenai AS-Jepang perkuat nilai tukar Yen turut menjadi perhatian pembaca. Simak selengkapnya. Pemerintah Minta Warga Lapor Jika KUR di Bawah Rp 100 Juta Diminta JaminanKementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memastikan pengajuan KUR dengan plafon hingga Rp 100 juta tak harus menyerahkan jaminan berbentuk apa pun.Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM sekaligus Juru Bicara Kementerian UMKM, Riza Damanik, meminta masyarakat agar melapor jika ada permintaan jaminan dalam pengajuan KUR di bawah Rp 100 juta.Sesuai Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, pinjaman KUR hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan dalam bentuk apa pun tanpa pengecualian," kata Riza dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (2/8).Dia menegaskan ketentuan itu juga sudah termaktub dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR. Aturan itu mengatur bahwa program tersebut dirancang untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha yang produktif dan layak, tetapi belum memiliki akses terhadap kredit komersial.Berdasarkan ketentuan tersebut, lembaga penyalur KUR tidak diperkenankan meminta agunan tambahan untuk pinjaman dengan plafon hingga Rp 100 juta. Agunan tambahan hanya dapat diberlakukan bagi pinjaman di atas Rp 100 juta, kecuali untuk petani tebu rakyat dan penerima KUR khusus sektor pertanian yang bekerja sama dengan lembaga penjamin kredit.Riza menjelaskan dalam pedoman pelaksanaan KUR memang ada dua jenis agunan, yakni agunan pokok dan agunan tambahan.Agunan pokok merupakan usaha atau objek yang dibiayai melalui KUR beserta kemampuan debitur untuk mengembalikan pinjaman. Sementara itu, agunan tambahan merupakan jaminan berupa sertifikat tanah, BPKB kendaraan, atau aset pribadi lainnya.Ilustrasi kegiatan Rajawali Nusindo, anak usaha RNI Group. Foto: Rajawali Nusindo"Calon penerima KUR hingga Rp 100 juta cukup menggunakan agunan pokok berupa usaha yang dibiayai melalui KUR," ujarnyaIa juga menuturkan saat ini Kementerian UMKM masih menerima laporan masyarakat terkait dugaan permintaan agunan tambahan kepada pemohon KUR skema mikro. Selain itu, terdapat pula laporan mengenai permintaan biaya jasa atau fee dalam proses pengurusan akses KUR.Dari target penyaluran KUR sebesar Rp 290 triliun pada 2026, berdasarkan data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan hingga 22 Juli 2026, realisasi penyaluran KUR telah mencapai Rp 169 triliun kepada 2,65 juta debitur di seluruh Indonesia.Dari jumlah tersebut, sekitar 1,1 juta debitur merupakan pelaku usaha yang baru pertama kali mengakses pembiayaan formal. Sementara itu, sebanyak 511 ribu pengusaha UMKM telah mengalami peningkatan kapasitas usaha atau naik kelas.AS dan Jepang Kompak Dorong Penguatan Yen, Sentimen Pasar Berbalik ArahIlustrasi mata uang Yen, Jepang. Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparanAmerika Serikat (AS) dan Jepang bekerja sama mendorong penguatan yen dalam salah satu pemulihan nilai tukar terbesar sejak mata uang Negeri Sakura itu mengalami tren pelemahan selama bertahun-tahun. Sebelumnya, depresiasi yen memicu lonjakan inflasi di Jepang sekaligus memberi dampak ke pasar keuangan global.Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan New York, Jumat (31/7) yen menguat ke level 157,40 per dolar AS, menjadi posisi terbaik sejak awal Mei. Padahal, dua hari sebelumnya mata uang tersebut sempat berada di kisaran terlemah sejak 1986. Kondisi itu memicu kekhawatiran di Tokyo karena kenaikan biaya impor menekan dunia usaha dan rumah tangga.Penguatan yen dipicu oleh kombinasi intervensi pembelian yen, komunikasi otoritas kepada sejumlah bank yang aktif memperdagangkan mata uang tersebut, serta pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Bessent, yang memiliki pengalaman panjang di industri hedge fund, memberi sinyal bahwa nilai tukar yen saat ini terlalu lemah.Berbeda dengan upaya sebelumnya yang hanya mampu mengangkat yen dalam waktu singkat sebelum kembali melemah, koordinasi antara AS dan Jepang kali ini dinilai sebagai yang paling erat dalam beberapa dekade terakhir. Situasi tersebut meningkatkan risiko bagi pelaku pasar yang selama ini bertaruh terhadap pelemahan yen.Komitmen Bessent terlihat dari foto buku catatannya yang diunggah Reuters saat rapat kabinet di Camp David, Jumat. Dalam bagian bertajuk “To Do”, tertulis catatan: “Buy Japanese Yen (JPY) $5-10 bil.”“Pasar telah meremehkan otoritas,” kata Michiyoshi Kato, penasihat senior tim klien valuta asing dan suku bunga di Sumitomo Mitsui Trust Bank, Tokyo.