● Kemampuan membaca anak tidak instan, proses belajarnya lebih ditentukan oleh kualitas interaksi bersama orang tua dan guru.● Buku cetak maupun digital sama efektifnya untuk meningkatkan literasi anak selama digunakan secara interaktif.● Pendampingan membaca bisa dilakukan lewat tanya-jawab, fokus pada satu topik, atau membuat gambar cerita.Tahun ajaran baru sudah dimulai. Pertanyaan yang sama kembali bermunculan di media sosial maupun grup percakapan orang tua: “Anak saya belum bisa membaca. Apakah nanti akan kesulitan mengikuti pelajaran di SD?”Tidak sedikit orang tua yang akhirnya mengikutkan anak ke berbagai les membaca sebelum masuk sekolah dasar karena khawatir akan tertinggal dari teman-temannya.Di sisi lain, guru di kelas menghadapi tantangan yang tidak mudah. Sebab dinamika tersebut memicu kemampuan membaca yang tak merata di antara murid. Ada yang sudah mampu membaca buku cerita sederhana, sementara yang lain masih belajar mengenali huruf atau mengeja suku kata.Lalu, apakah anak memang harus sudah lancar membaca sebelum masuk SD? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa yang paling menentukan bukanlah seberapa cepat anak mampu membaca sendiri, melainkan bagaimana orang dewasa mendampingi proses mereka belajar membaca.Orang tua berperan vitalAktivitas membaca, menurut kerangka Programme for International Student Assessment (PISA), merupakan kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dari berbagai jenis teks untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.Membaca bersama bisa jadi solusi membangun interaksi antara anak dan orang dewasa sekaligus menanam kebiasaan membaca untuk anak yang memasuki usia sekolah. Setidaknya, mereka tetap memperoleh banyak manfaat melalui percakapan selama kegiatan membaca.Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa membacakan buku cerita bukan sekadar kegiatan pengantar tidur atau hiburan. Membaca bersama dapat membantu memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan menyimak, memperkuat pemahaman cerita, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta membangun keterampilan fonologis yang menjadi fondasi belajar membaca.Menariknya, manfaat tersebut tidak hanya berasal dari isi cerita, tetapi juga dari percakapan yang terjadi selama proses membaca. Ketika orang tua atau guru bertanya, “Mengapa tokoh ini sedih?” atau “Kalau kamu menjadi tokoh itu, apa yang akan kamu lakukan?”, anak belajar menghubungkan cerita dengan pengalaman mereka, memperluas cara berpikir, sekaligus memahami isi bacaan secara lebih mendalam.Pendampingan orang dewasa juga tak kalah pentingSeiring berkembangnya teknologi, pilihan bacaan anak kini semakin beragam, mulai dari buku cetak hingga buku cerita digital. Ini sering memunculkan pertanyaan: apakah buku digital lebih baik daripada buku cetak, atau sebaliknya? Baca juga: Apakah kita lebih mudah menyerap informasi dari kertas ketimbang layar? Tergantung jenis layarnya Sentuhan animasi, audiovisual, atau permainan dalam buku digital memang dapat membuat cerita lebih menarik. Namun, jika digunakan secara berlebihan, fitur-fitur tersebut justru dapat mengalihkan perhatian anak dari isi cerita sehingga mengurangi pemahaman mereka.Kualitas interaksi antara anak dan orang dewasa jauh lebih menentukan dibandingkan media yang digunakan. Buku, baik cetak maupun digital, sama-sama dapat mendukung perkembangan literasi apabila digunakan melalui kegiatan membaca yang interaktif yang dilengkapi gambar, mendengarkan cerita, mengenali kosakata baru, memahami alur cerita, serta mulai menghubungkan bunyi dengan tulisan. Karena itu, perbedaan kemampuan membaca di sekolah bukan berarti guru harus menggunakan buku yang berbeda untuk setiap anak. Guru bisa berperan sebagai fasilitator yang membangun diskusi selama membaca. Anak yang belum bisa membaca tetap dapat berpartisipasi melalui gambar dan percakapan. Sementara anak yang mulai membaca dapat membaca secara bergantian. Sedangkan anak yang sudah lancar dapat diajak membuat prediksi, menarik kesimpulan, atau mendiskusikan pesan cerita.Artinya, satu buku yang sama tetap dapat digunakan untuk seluruh kelas. Yang membedakan adalah cara guru memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.Tiga cara sederhana mendampingi anak membacaLalu, bagaimana orang tua dan guru dapat menerapkan kegiatan membaca interaktif?Ada tiga pendekatan yang efektif untuk mendukung perkembangan bahasa dan pemahaman bacaan anak sebagai langkah awal.Pertama, bertanya sebelum, selama, dan setelah membaca (traditional interactive reading). Sebelum membaca, ajak anak mengamati sampul buku dan menebak isi cerita. Selama membaca, berhentilah sesekali untuk mengajukan pertanyaan, misalnya, “Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?” Setelah selesai, diskusikan tokoh, masalah, dan pesan cerita untuk memantik pola pikir kritis sekaligus memahami isi bacaan sang anak.Kedua, fokus pada satu tujuan membaca (interactive reading with focused attention). Orang tua atau guru memilih satu fokus dalam setiap kegiatan membaca, misalnya mengenalkan kosakata baru, memahami emosi tokoh, atau mencari hubungan sebab-akibat dalam cerita. Dengan memiliki satu fokus yang jelas, anak lebih mudah memperhatikan informasi penting dan memahami cerita secara lebih mendalam.Ketiga, mengajak anak menceritakan kembali isi cerita melalui mind map. Setelah membaca, anak diajak menggambarkan tokoh, tempat, masalah, jalan cerita, dan penyelesaiannya dalam bentuk gambar atau peta sederhana. Aktivitas ini membantu anak mengingat isi cerita sekaligus melatih kemampuan mereka mengorganisasi dan menyusun informasi secara runtut. Baca juga: 5 tips membuat anak senang membaca, beserta rekomendasinya Indonesia telah berupaya memperluas akses terhadap buku bacaan melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), distribusi jutaan buku bacaan bermutu, serta penyediaan berbagai buku cerita digital yang dapat diakses secara gratis. Karena itu penting bagi anak untuk bisa menikmati dibacakan cerita oleh orang dewasa, terlepas dari apakah mereka sudah mampu membaca sendiri atau belum terlebih dahulu. Setiap anak punya daya serapnya masing-masing. Yang jauh lebih penting adalah orang tua dan anak banyak menyediakan waktu untuk duduk bersama, membuka sebuah buku, lalu membaca, bertanya, dan berdiskusi bersama untuk tumbuh kembang si buah hati. Baca juga: Refleksi Kurikulum Merdeka: Buku cerita anak perkuat literasi siswa Nilam Pamularsih menerima dana dari Australia Government Research Training Program Scholarship.