Mewujudkan Ekosistem Industri Biofarmasi Nasional yang Strategis

Wait 5 sec.

Ilustrasi obat-obatan. Foto: ShutterstockDalam beberapa bulan terakhir, media-media nasional menyajikan kabar yang patut disyukuri. Vaksin tifoid dan vaksin dengue produksi dalam negeri telah diluncurkan. Investasi baru untuk memproduksi Obat Derivat Plasma (PODP) dan obat-obatan inovatif biofarmasi di dalam negeri juga mulai berjalan, sebuah langkah strategis yang selama puluhan tahun hanya menjadi wacana karena kompleksitas teknologi dan besarnya modal yang dibutuhkan. Bagi siapa saja yang mengikuti perjalanan panjang industri biofarmasi nasional, capaian-capaian ini sangat layak untuk diapresiasi.Namun selanjutnya, rasanya kita perlu melihat lebih jauh dari pasca peluncuran produk. Vaksin tifoid, vaksin dengue, dan PODP bukanlah garis akhir. Ketiganya adalah milestone dari perjalanan yang jauh lebih panjang dan jauh lebih menuntut yaitu membangun ekosistem industri biofarmasi nasional yang benar-benar mandiri, kompetitif, dan mampu mengikuti laju perkembangan teknologi kesehatan dunia yang bergerak sangat cepat.TantanganHarus diakui, tantangan negara kita adalah bahwa di balik setiap peluncuran produk baru, industri farmasi Indonesia masih menyimpan satu kerentanan struktural yang sudah berlangsung puluhan tahun yaitu ketergantungan pada bahan baku obat impor yang mencapai sekitar 90 persen, sebagian besar didatangkan dari India dan Tiongkok. Kita sudah cukup mampu memformulasi, mengemas, dan mendistribusikan. Tetapi pada bagian hulu, penguasaan bahan aktif, platform teknologi produksi, hingga kapasitas riset yang mampu menghasilkan inovasi orisinal, kita masih banyak bergantung pada pihak lain.Fenomena ini juga tecermin dari pengalaman saat pandemi COVID-19. Dari setidaknya tujuh platform riset yang dikembangkan berbagai lembaga bersama mitra industrinya, hanya dua yang akhirnya berhasil memperoleh izin edar darurat. Lima lainnya terhenti sebelum mencapai tahap komersialisasi. Kalau dicermati, hal tersebut tentu tidak semata-mata karena kurangnya semangat atau kecerdasan para peneliti kita, melainkan cermin dari kesenjangan struktural yang jauh lebih dalam, pendanaan riset yang terputus tepat di titik paling kritis, ketika sebuah kandidat produk harus melompat dari skala laboratorium menuju skala produksi industri yang teregulasi ketat. Titik ini, yang dalam literatur kebijakan riset sering disebut sebagai valley of death, adalah tempat paling banyak inovasi kita gugur, bukan karena idenya buruk, melainkan karena tidak ada jembatan pembiayaan dan kelembagaan yang memadai untuk menyeberanginya.Belajar dari ChinaAda baiknya kita menoleh ke China, negara yang empat dekade lalu berada pada posisi yang tidak jauh berbeda dari kita hari ini, bergantung pada teknologi asing, dengan kapasitas riset domestik yang masih rintisan. Sejak awal 1980-an, pemerintah China merancang kebijakan industri biofarmasi secara berkesinambungan melalui serangkaian rencana pembangunan lima tahunan yang konsisten, tidak terputus oleh pergantian rezim maupun tekanan politik jangka pendek. Negara hadir bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai arsitek ekosistem, yaitu membangun klaster industri regional yang saling melengkapi, mengalirkan pendanaan riset lintas tahap secara masif, dan yang tidak kalah penting, memberi ruang bagi industri domestik untuk belajar meniru sebelum dituntut berinovasi murni.Hasilnya baru terlihat nyata setelah lebih dari tiga dekade. Pangsa pasar biofarmasi Tiongkok terhadap total pasar farmasinya melonjak dari sekitar 4,5 persen pada 2010 menjadi lebih dari 15 persen pada akhir dekade berikutnya, dengan pertumbuhan belanja riset dan pengembangan yang berlipat ganda dalam hitungan tahun, bukan dekade. Kini Tiongkok bertransisi dari sekadar peniru teknologi menjadi salah satu produsen obat biologis dan vaksin generasi baru terkemuka di dunia, meski mereka sendiri masih mengakui pekerjaan rumah yang tersisa, terutama pada kemandirian bahan baku riset dan orisinalitas penemuan target obat baru.Pelajaran yang bisa kita ambil bukan soal meniru skala Tiongkok yang memang jauh lebih besar, melainkan pada pola kebijakannya yaitu konsistensi jangka panjang, keberanian mendukung strategi "belajar dari yang sudah ada" sebagai jembatan menuju kemandirian, serta yang paling penting, negara yang benar-benar berperan sebagai orkestrator.Pentingnya EkosistemDunia biofarmasi hari ini bergerak dengan kecepatan yang sulit dibayangkan satu dekade lalu. Ketika kita masih berkutat pada platform vaksin konvensional, dunia telah beralih ke teknologi mRNA yang mampu memangkas waktu produksi dari bertahun-tahun menjadi hitungan minggu, desain antigen berbasis kecerdasan buatan yang mempercepat penemuan kandidat vaksin dari tahunan menjadi mingguan, hingga sistem penghantaran vaksin lewat hidung atau inhalasi yang mengurangi ketergantungan pada rantai dingin, sesuatu yang sangat relevan bagi negara kepulauan seperti kita. Jika kita hanya berpuas diri dengan pencapaian hari ini tanpa membangun fondasi untuk mengejar arus teknologi tersebut, jarak yang harus kita tempuh esok hari justru akan semakin lebar, bukan menyempit.Melihat penjelasan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sangatlah penting untuk menciptakan ekosistem yang melampaui produk itu sendiri. Meluncurkan beberapa produk biofarmasi baru adalah pencapaian penting institusi dalam satu momen. Mewujudkan ekosistem adalah pekerjaan lintas institusi yang harus terus berjalan, mencakup setidaknya empat pilar. Pertama, regulasi yang adaptif dan mampu mengimbangi kecepatan inovasi, termasuk jalur persetujuan yang lebih cepat untuk teknologi baru dan harmonisasi dengan standar regulasi kawasan agar produk kita lebih mudah diterima pasar regional.Kedua, pendanaan riset yang tidak terputus di tengah jalan, khususnya pada tahap paling mahal dan paling berisiko yaitu transisi dari skala laboratorium menuju skala produksi industri. Terkait hal ini, kehadiran dan peran dari Danantara hari ini rasanya dapat menjadi Game Changer. Ketiga, kemitraan strategis, baik dengan mitra global pemilik teknologi generasi terbaru maupun dengan ekosistem riset domestik, universitas, lembaga riset, dan perusahaan rintisan bioteknologi—yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri tanpa jembatan yang kokoh menuju industri. Keempat, kepastian pasar bagi produk inovasi dalam negeri, sehingga investasi yang telah ditanamkan tidak berhenti pada tahap uji klinis karena tidak ada jaminan produknya akan terserap secara berkelanjutan.Saatnya MewujudkannyaKabar baik peluncuran vaksin tifoid, vaksin dengue, dan investasi pada pengembangan produk inovatif sepertiPODP sesungguhnya adalah bukti bahwa fondasi kita sudah ada dan bekerja. Lebih dari itu, dibutuhkan komitmen untuk menjadikan pencapaian ini sebagai awal dari sebuah sistem yang berkelanjutan.Pemerintah memiliki peran kritikal yang tidak bisa digantikan pihak mana pun dalam hal ini yaitu merancang kebijakan pendanaan riset lintas tahap yang menutup titik-titik kritis kegagalan, mempercepat reformasi regulasi tanpa mengorbankan standar keamanan, membuka jalan kemitraan teknologi dengan mitra global sembari memperkuat kapasitas riset domestik, serta memberi kepastian pasar bagi produk-produk inovasi dalam negeri. Industri, di sisi lain, perlu berani mengambil risiko membangun kapabilitas teknologi generasi baru, tidak lagi hanya dengan platform yang telah terbukti selama puluhan tahun terakhir.Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara berkembang lain yaitu pengalaman produksi vaksin lebih dari seabad, pengakuan mutu dari badan kesehatan dunia, serta pasar domestik yang besar. Modal ini mungkin akan kurang berdampak jika hanya menghasilkan rangkaian pencapaian yang terpisah-pisah. Sebaliknya, jika dirangkai dalam satu ekosistem yang utuh dan didukung secara konsisten oleh semua pemangku kepentingan, modal ini bisa menjadi fondasi bagi kemandirian kesehatan bangsa yang sesungguhnya, tidak hanya untuk hari ini, tetapi untuk menghadapi tantangan kesehatan yang belum kita ketahui bentuknya di masa depan.