Kemenperin Optimistis PMI Manufaktur Terus Membaik Meski Perang Kian Panas

Wait 5 sec.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, saat acara ISAW & Cosmetic Day 2026, Senin (3/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanKementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur terus membaik pada bulan-bulan berikutnya meskipun eskalasi perang AS dan Iran kembali memanas.Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menilai dengan kondisi rantai pasok dan logistik global yang membaik, maka pemulihan PMI Manufaktur dapat terus berlanjut.Pada Juli 2026, PMI Manufaktur Indonesia melesat menjadi 50,2, dari posisi Juni 2026 yang sebesar 46,9. Hal ini seiring dengan operasional sektor manufaktur Indonesia membaik pada awal kuartal III tahun 2026."Ya tentu kita terus menggenjot. Saya sih optimis ya dengan kondisi global yang makin baik, rantai pasok membaik, logistik membaik, saya kira PMI di Agustus maupun September dan selanjutnya akan meningkat lagi," ungkapnya usai acara ISAW & Cosmetic Day 2026, Senin (3/8).Faisol melanjutkan, perang AS dan Iran tidak bisa diprediksi kapan berakhir, hanya saja pemerintah meyakini bahwa deeskalasi akan segera terjadi sehingga blokade salah satu jalur logistik terpenting di dunia, Selat Hormuz, kembali dibuka. Ilustrasi kawasan industri Jawa Barat. Foto: Roy Ismail/Shutterstock"Kita mengikuti dari waktu ke waktu bahwa pembicaraan di antara negara-negara yang terlibat dalam konflik untuk menemukan titik temu dalam negosiasi, misalnya Iran dengan Amerika, di mana Amerika menyatakan akan sudah mendekati kesepakatan untuk pembukaan secara total Selat Hormuz," tuturnya.Kondisi perbaikan ke depan tersebut diharapkan dapat berdampak positif pada sektor manufaktur Indonesia, terutama kaitannya pada kinerja ekspor nasional."Kalau kita bisa ikuti ini saja sangat membantu untuk peningkatan produktivitas di dalam negeri antara lain meningkatkan PMI dan ekspor kita," tandas Faisol.Sebelumnya, S&P Global mengatakan ekspansi volume produksi industri Indonesia kembali meningkat setelah empat bulan penurunan. Para panelis melaporkan peningkatan tersebut umumnya mencerminkan tanda-tanda membaiknya kondisi permintaan, meskipun ekspansi yang lebih kuat terhambat oleh kenaikan harga bahan baku yang berkelanjutan."Data survei Juli menunjukkan peningkatan kembali dalam volume produksi di sektor manufaktur Indonesia, sebagian terkait dengan stabilisasi penerimaan pesanan baru,” kata Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporannya, Senin (3/8).Perbaikan kondisi manufaktur secara keseluruhan tersebut juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan jumlah karyawan, sementara memberikan tekanan pada kapasitas.Ilustrasi aktivitas perakitan mobil-mobil di Mazda Indonesia Plant Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Foto: MazdaSecara bersamaan, volume permintaan baru stabil pada Juli, setelah kontraksi yang solid pada Juni. Perusahaan mengaitkan hal ini dengan kepercayaan klien yang lebih kuat dan peluncuran proyek baru.Sementara pesanan ekspor baru menurun secara signifikan untuk bulan kelima berturut-turut. Seiring stabilnya permintaan, tekanan pada kapasitas meningkat dan menyebabkan akumulasi pekerjaan yang tertunda. Bahkan, peningkatan tersebut merupakan yang besar sejak November 2025.Pada saat yang sama, perusahaan meningkatkan jumlah staf untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meskipun hanya sedikit, sementara persediaan pasca-produksi kembali turun karena produsen berupaya menggunakan stok yang ada untuk membantu memenuhi pesanan."Positif lebih lanjut dalam data datang melalui peningkatan kembali jumlah karyawan, mengakhiri periode empat bulan pengurangan pekerjaan. Tekanan pada kapasitas juga terlihat, dengan penumpukan pesanan yang paling tinggi sejak November lalu,” tutur Usamah.