Jalan Sunyi Kuli Bangunan Kudus Jadi Ulama: Tahqiq Ratusan Buku, Raih MUI Award

Wait 5 sec.

Supriyanto menunjukkan berbagai kitab di teras rumahnya yang berada di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Senin (3/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanSupriyanto merupakan seorang ulama asal Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia telah menulis ratusan kitab. Bahkan, karyanya itu diapresiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).Pria kelahiran 1986 itu dikenal akrab sebagai Mbah Riyan. Sebuah nama yang diambil dari nama Supriyanto. Ia merupakan ulama yang kerap mentahqiq yakni menganalisis, mengoreksi serta memverifikasi kitab-kitab keilmuan Islam.Ia mentahqiq kitab dari sebuah manuskrip yang belum terbit atau belum diverifikasi dan hendak dicetak. Proses mentahqiq, merupakan cara memverifikasi sebuah manuskrip yang perlu diverifikasi atau bahkan ditulis ulang. Termasuk mengamati tanda baca seperti titik dan komanya.Kemudian, apabila ada perbedaan versi kalimat, harus dijelaskan di mana letak perbedaan kalimatnya dan makhrajnya.Dalam proses mentahqiq itu, ia mencari referensi dari berbagai sumber. Mulai dari sesama pentahqiq maupun dari sumber lainnya seperti perpustakaan di Arab Saudi.Supriyanto yang juga akrab disapa Mbah Riyan sehari-harinya berprofesi sebagai kuli bangunan. Di sisi lain ia juga seorang ulama yang mentahqiq ratusan kitab sejak 2013-an. Berbagai kitab yang ditahqiq di antaranya fiqih, tasawuf, hadis, nahwu dan lainnya.Contoh kitabnya yakni Kitab Umdatul Awam, Qurotul Ain, Qohwah Al-Qudsiyyah Al-Malbunah dan lainnya. Selain mentahqiq 150-an kitab, ia juga menulis kitab."Saya mentahqiq kitab pertama itu pada 2013 saat masih kuliah di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, -red). Saya mentahqiq kitab Al-Faroidus Saniyyah karya dari KH. M. Sya'roni Ahmadi," katanya, Senin (3/8).Supriyanto menunjukkan berbagai kitab di teras rumahnya yang berada di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Senin (3/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanIa mengenyam bangku sekolah dasar di SD 3 Wates. Kemudian melanjutkan di Mts Nahdlatul Muslimin. Lalu, bersekolah di MA Nahdlatul Muslimin. Setelah lulus bangku MA ia melanjutkan ke LIPIA.Mbah Riyan mengaku memilih mentahqiq kitab-kitab Islam karena masih banyak manuskrip dari para ulama nusantara yang belum ditahqiq. Ia mentahqiq agar generasi penerus bisa mempelajari berbagai kitab-kitab karya ulama dari sebuah manuskrip yang belum diterbitkan."Selesai mentahqiq saya taruh di website supaya orang bisa mengakses. Dulu juga pernah saya posting di Facebook, saya beri link kumpulan kitab-kitab yang sudah saya tahqiq supaya orang bisa download," sambungnya.Seakan tak mau tenar, ia tidak menarik biaya apa pun dari kebolehannya mentahqiq kitab-kitab. Kepiawaiannya mentahqiq itu membuat berbagai penerbit menghubungi dirinya."Ada penerbitan Turats Ulama Nusantara ada juga penerbit dari Mesir yang izin untuk menerbitkan kitab yang sudah saya tahqiq. Saya persilakan karena niat saya memang untuk saya sebarluaskan," terangnya.Sebagai seorang kuli bangunan dan juga pentahqiq kitab-kitab Islam, ia tak pernah berharap pada apa pun. Hal terpenting baginya yakni bisa membantu para generasi muda yang membutuhkan referensi.Kendati sudah ratusan kitab-kitab Islam berhasil ditahqiq olehnya. Tantangan selalu muncul. Utamanya saat meneliti kitab-kitab klasik."Meneliti kitab klasik itu rumit. Contohnya ketika seorang penulis yang saya tulis membuat ungkapan. Padahal itu masih berupa manuskrip. Terkadang ungkapannya dari kitab yang lain lagi. Nah itu tantangannya," ujarnya.Supriyanto menunjukkan berbagai kitab di teras rumahnya yang berada di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Senin (3/8/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanKesulitan yang kedua yakni terkadang ada penyebutan nama yang belum jelas. Misalnya penyebutan nama Al-Shibab."Kadang kan disebut nama misalnya Shihab. Nah Shihab yang mana karena banyak nama-nama Shihab," ungkapnya.Ayah empat anak itu mengaku dapat membagi waktu antara bekerja sebagai kuli bangunan dan mentahqiq kitab-kitab. Supriyanto atau Mbah Riyan dikenal juga dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi. Nama itu muncul di berbagai kitab yang telah diterbitkan oleh penerbit.Soal membagi waktu, ia mengaku sudah terbiasa sejak menempuh studi di LIPIA. Selama tinggal di Jakarta, ia kerap mencari penghasilan dengan berjualan donat di daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat."Ketika kuliah di LIPIA saya sudah menikah. Sehingga harus mencari penghasilan. Saya jualan donat di Pasar Senen. Selain itu jualan kebab juga di daerah Ragunan," jelasnya.Dapat Penghargaan dari MUI, tapi Memilih Tak DatangJalan sunyi seakan dipilihnya. Kepiawaiannya mentahqiq kitab-kitab Islam itu membuatnya diganjar penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia kategori "Karya Tulis Keislaman" pada Juli 2026 silam. Namun, ia memilih tidak datang."Saya dihubungi MUI mendapatkan penghargaan tidak saya angkat. Saya menyampaikan mohon maaf tidak bisa hadir. Saya lebih nyaman seperti ini saja," ungkapnya.Nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi dipilihnya sebagai nama yang tertera di kitab yang dicetak. Harjo diambil dari nama kakeknya. Ia mengaku terinspirasi dengan kisah kakeknya itu yang kesehariannya menggembala kambing."Beliau jatuh bangun menghidupi keluarganya. Untuk mengenang beliau saya pakai nama Hajo sebagai nama pena saya. Sedangkan Al-Jawi artinya Jawa karena saya tinggal di Jawa," imbuhnya.