BI dan Bank Sentral China Perkuat Mata Uang Lokal, Rupiah Bisa Lebih Stabil

Wait 5 sec.

Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFPBank Indonesia (BI) dan bank sentral China People's Bank of China (PBoC) meneken kerja sama peningkatan penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) untuk menstabilkan nilai rupiah.Hal tersebut merupakan hasil pertemuan tingkat tinggi atau high level meeting (HLM) Joint Work Program di Shanghai, China, pada 11 Juni 2026. Sinergi tersebut untuk menstabilkan keuangan regional yang lebih luas, sekaligus mendukung upaya kedua bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan kerja sama BI dan PBoC bersama Bank Mandiri menjadi langkah strategis yang sangat positif untuk mendorong transaksi nilai tukar non dolar AS.Ilustrasi Uang Yuan China. Foto: Andrzej Rostek/Shutterstock"Apalagi kalau kita lihat China merupakan mitra dagang utama Indonesia yang seharusnya memiliki transaksi nilai tukar yang sangat besar. Dampak jangka menengah-panjangnya adalah akan menciptakan Rupiah yang lebih stabil terutama terhadap USD," katanya saat dihubungi kumparan, Minggu (14/6). Kerja sama tersebut mencakup penjajakan untuk peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) dan menegaskan kembali komitmen untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral serta memperkuat konektivitas pembayaran lintas batas antara Indonesia dan China.Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan China dan Indonesia, sebagai ekonomi utama dan mitra strategis di kawasan, memiliki tanggung jawab bersama untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan keuangan bilateral. Penguatan kerja sama ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap kemakmuran dan stabilitas kawasan, sekaligus mendukung ketahanan ekonomi kedua negara. "Ke depan, kerja sama keuangan akan memperkuat transaksi mata uang lokal antara Indonesia dan Tiongkok, mengembangkan infrastruktur keuangan, serta memperluas kerja sama antarbank sentral, termasuk pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangannya, dikutip Minggu (14/6).Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kiri), dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida Budiman (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Ja Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTOAda 4 kunci dalam pertemuan tersebut, pertama penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai LCT antara BI-PBOC-HKMA yang mencakup Indonesia dan Hong Kong. Lalu, MoU mengenai mengenai Pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia antara BI dan PBoC guna mendukung pengembangan ekosistem RMB domestik melalui penyediaan likuiditas Renminbi yang memadai untuk kegiatan perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan.Kemudian, peluncuran implementasi pembayaran QR lintas batas Indonesia China didukung oleh kerangka LCT. Terakhir, launching kepesertaan Bank Mandiri sebagai direct participant dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS).