BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Di balik deretan tanaman hijau, kebun hidroponik, dan lingkungan yang tertata rapi di Kampung Bungas, Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan warga membangun kampung mereka dari nol.Tak ada modal besar, apalagi lampu Aladin yang bisa mengubah keadaan dalam sekejap. Semua berawal dari kesadaran masyarakat yang ingin menciptakan lingkungan lebih baik bagi generasi mendatang.Kisah itulah yang menjadi perhatian Tim Verifikasi Lapangan Lomba Aku Hatinya PKK Tingkat Provinsi Kalimantan Timur saat berkunjung ke Kampung Bungas, pada Sabtu (13/6/2026).Camat Balikpapan Tengah, Ariefdah Aida Kuntjoro, mengatakan keberhasilan Kampung Bungas menjadi bukti bahwa program Aku Hatinya PKK mampu mendorong masyarakat untuk mengelola lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan."Program ini mengajarkan masyarakat agar secara sadar mengelola lingkungannya menjadi asri, indah, nyaman, sekaligus mampu mendukung pemenuhan gizi dan ekonomi keluarga," ujarnya.Menurut Ariefdah, keberadaan Kampung Bungas memiliki keunikan tersendiri karena berada di kawasan padat penduduk di tengah Kota Balikpapan. Berbeda dengan kawasan perumahan modern, wilayah tersebut merupakan kampung murni warga dengan kondisi geografis berbukit yang memiliki keterbatasan lahan.Namun keterbatasan itu justru menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk berinovasi."Kampung Bungas bukan kawasan perumahan. Ini kampung warga yang berada di tengah kota dengan kondisi wilayah yang menantang. Tetapi melalui komitmen bersama, dukungan PKK, pemerintah, dan seluruh stakeholder, kawasan ini berhasil berkembang menjadi lingkungan yang produktif," katanya.Sementara itu, Pelopor Kampung Bungas, Suwanto, mengenang bagaimana seluruh warga saat itu hanya membawa iuran Rp2.000, dua butir telur, dan satu mug beras sebagai konsumsi rapat.Dari pertemuan sederhana tersebut lahirlah gagasan untuk membangun kampung hijau berbasis partisipasi masyarakat."Awalnya bukan Kampung Bungas. Kami hanya punya cita-cita membuat kampung yang hijau dan nyaman. Uang Rp2.000, dua telur, dan beras itu kami kumpulkan untuk makan bersama sambil membahas bagaimana kampung ini bisa berubah," kenangnya.Perjalanan Kampung Bungas dimulai pada 2019 ketika warga RT 69 menggelar rapat sederhana untuk membahas masa depan lingkungan mereka.Semangat gotong royong tersebut terus tumbuh. Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, warga membentuk tim kreatif yang aktif melakukan penyemprotan desinfektan dan membantu masyarakat sekitar.Pada tahun berikutnya, kegiatan kebersihan lingkungan terus berlanjut hingga akhirnya pada 25 Desember 2022 lahir nama Kampung Bungas yang merupakan akronim dari buah, bunga, dan sayuran.Nama itu dipilih setelah melalui berbagai diskusi panjang yang melibatkan masyarakat dari empat RT yang kemudian berkembang menjadi lima RT.Sejak saat itu, pembangunan Kampung Bungas dilakukan secara bertahap melalui roadmap yang telah disusun bersama.Suwanto menegaskan, sejak awal Kampung Bungas tidak pernah dibangun untuk mengejar penghargaan atau lomba."Kami membangun kampung ini bukan untuk lomba. Kami membangun supaya masyarakat merasa nyaman tinggal di sini. Kalau kampung sudah nyaman dihuni, maka indikator lomba akan mengikuti dengan sendirinya," tegasnya. lihat foto Pelopor Kampung Bungas, Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, Suwanto. Foto: BorneoFlash/Niken SulastriSalah satu tonggak penting pembangunan kawasan tersebut adalah hadirnya kebun hidroponik pertama pada 2019 yang menjadi contoh nyata bagi warga bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menghasilkan pangan.Dari satu instalasi hidroponik sederhana, kini Kampung Bungas berkembang menjadi kawasan urban farming yang memanfaatkan pekarangan rumah, lorong kampung, hingga lahan-lahan sempit untuk budidaya tanaman pangan.Berbagai dukungan dari pemerintah daerah, dinas terkait, PKK, hingga dunia usaha melalui program CSR turut mempercepat perkembangan kawasan tersebut.Hasilnya mulai terlihat pada 2025 ketika Kampung Bungas untuk pertama kalinya mengikuti lomba lingkungan dan langsung meraih juara.Meski demikian, Suwanto mengakui membangun kesadaran masyarakat bukan perkara mudah. Tantangan terbesar justru datang dari menjaga semangat warga agar tetap konsisten."Ada saatnya masyarakat semangat, ada saatnya jenuh. Kadang ada yang bilang capek. Tapi kami terus mendekati mereka, mengajak kembali, dan menjaga semangat bersama. Membangun kampung memang proses panjang yang naik turun," ujarnya.Kini Kampung Bungas telah memiliki visi yang lebih besar. Setelah sukses mengembangkan kawasan berbasis lingkungan dan ketahanan pangan, warga menargetkan kampung tersebut menjadi destinasi wisata lingkungan di Kota Balikpapan.Melalui konsep wisata berbasis masyarakat, warga bercita-cita menghadirkan kawasan edukasi lingkungan, pertanian perkotaan, hingga usaha ekonomi kreatif yang tumbuh dari rumah-rumah warga.Target tersebut ditetapkan secara bertahap. Tahun 2027 Kampung Bungas direncanakan masuk dalam pengembangan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), sedangkan pada 2028 diharapkan dapat diresmikan sebagai kawasan wisata lingkungan Kota Balikpapan."Kami ingin seperti kampung-kampung wisata yang berhasil di kota lain. Ada kafe di teras rumah, ada edukasi lingkungan, ada produk warga yang bisa dinikmati pengunjung. Itu mimpi besar kami," kata Suwanto.Baginya, perubahan besar tidak selalu lahir dari program yang megah atau anggaran yang besar. Terkadang, perubahan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten."Merawat pertiwi tidak harus dengan hal besar. Menanam dari halaman rumah sendiri, menjaga lingkungan sendiri, itu juga bentuk cinta kepada Indonesia," tuturnya.Dari iuran Rp2.000, dua butir telur, dan segenggam beras, Kampung Bungas kini menjelma menjadi simbol bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan sebuah kampung. (*)