Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (ANTAM), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/9/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTOHarga logam mulia atau emas kembali mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir, setelah sempat menyentuh Rp 3 juta per gram pada April tahun ini. Penurunan harga ini dinilai dapat menjadi momentum bagi investor yang memiliki tujuan investasi jangka panjang.Pengamat keuangan Ariston Tjandra mengatakan investor tidak perlu terlalu fokus menunggu harga emas mencapai titik terendah sebelum membeli. Menurutnya peluang kenaikan harga emas dalam jangka panjang masih terbuka lebar, ditopang oleh permintaan yang kuat dari bank sentral berbagai negara.Dia menjelaskan, harga emas memang telah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, sulit memprediksi secara akurat level terendah yang akan dicapai harga logam mulia tersebut.“Jadi koreksi harga emas yang sekarang ini pun bisa untuk pembelian emas untuk jangka panjang,” kata Ariston kepada kumparan, Minggu (15/6).Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas belakangan adalah optimisme pasar terhadap potensi tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.Ilustrasi emas Antam. Foto: Dok. AntamPasar saat ini menantikan perkembangan terkait rencana kesepakatan damai yang disebut berpotensi tercapai dalam waktu dekat. Jika terealisasi, kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan ketidakpastian global dan memengaruhi pergerakan sejumlah aset keuangan.Ariston menambahkan, berkurangnya ketegangan geopolitik dapat mendorong investor keluar dari aset dolar AS sehingga mata uang tersebut melemah. Dalam kondisi tersebut, harga emas dan nilai tukar rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS.“Dengan perdamaian ini, selat hormuz akan dibuka penuh untuk jalur perdagangan terutama minyak. Harga minyak akan turun. Beban ekonomi berkurang, investor akan keluar dari aset dolar AS sehingga nilai tukar dolar AS akan melemah,” terang Ariston.Sementara itu, pengamat uang Lukman Leong mengatakan penurunan harga emas sebelumnya dipicu oleh penguatan dolar AS yang didorong data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan pasar.“Namun emas rebound cukup kuat menjelang akhir pekan oleh harapan kesepakatan damai AS Iran yang mungkin akan bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.Warga menunjukan Emas di Galeri 24, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanMenurut dia, fluktuasi harga emas saat ini lebih menarik bagi pelaku perdagangan jangka pendek. Namun bagi investor yang berorientasi jangka panjang, koreksi harga justru membuka peluang untuk melakukan akumulasi.Lukman menilai apabila kesepakatan damai antara AS dan Iran benar-benar tercapai, harga emas masih berpotensi kembali menguat dalam waktu relatif cepat.“Fluktuasi ini menarik trader short-term, dan turunnya harga emas ini justru merupakan peluang bagi investor jangka panjang. Apabila memang terjadi kesepakatan damai, tentunya harga emas bisa kembali naik cepat dan bagusnya beli lagi,” jelasnya.Berdasarkan catatan kumparan, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam sempat mencapai Rp 3.135.000 per gram pada perdagangan Senin (2/3). Namun kini, harga logam mulia berada di level Rp 2.711.000 per gram pada Sabtu (13/6).