Ekonom Proyeksikan Rupiah Berpeluang Menguat Pekan Depan

Wait 5 sec.

Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFPNilai tukar rupiah berpeluang menguat hingga ke level Rp 17.682 per dolar AS pada pekan depan. Tren ini didorong oleh masih derasnya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik serta masuknya devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri.Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, mengatakan bahwa tren penguatan rupiah masih terbuka. Kendati demikian, pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif di tengah berbagai sentimen global yang membayangi pasar.“Kami melihat jika tren penguatannya terjadi, level Rp 17.682 itu kemungkinan bisa dicapai. Walaupun untuk resistansinya ini agak lebar, bisa ke Rp 18.221 lagi, sekitar segitu,” kata Myrdal kepada kumparan, Sabtu (13/6).Menurutnya, penguatan rupiah pada pekan lalu didorong oleh masuknya dana investor asing ke sejumlah instrumen keuangan domestik, mulai dari pasar saham, Surat Utang Negara (SUN), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).Selain itu, realisasi devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri juga ikut menopang pergerakan mata uang garuda. Sejumlah eksportir disebut melakukan konversi valuta asing ke rupiah, sehingga meningkatkan pasokan dolar di pasar domestik.Meski demikian, Myrdal menilai pergerakan rupiah pada pekan depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama terkait perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta hasil rapat Federal Reserve (The Fed).Menurut dia, apabila kesepakatan damai antara AS dan Iran terealisasi dan akses pelayaran melalui Selat Hormuz kembali dibuka, maka arus modal asing berpotensi semakin deras mengalir ke pasar keuangan Indonesia.Selain itu, pasar juga menunggu keputusan The Fed terkait arah suku bunga acuan. Myrdal berharap bank sentral AS tidak kembali menaikkan suku bunga agar kondisi likuiditas global tetap mendukung aliran dana ke negara berkembang.“Suku bunga The Fed ke depannya kita harapkan tidak mengalami perubahan, atau peluang kenaikan suku bunganya menjadi lebih rendah untuk tahun ini,” imbuhnya.Di dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait BI-Rate. Menurut Myrdal, stabilitas rupiah yang saat ini cukup terjaga memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuannya.Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFPSementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai indeks dolar AS melemah pada Jumat (12/6) di tengah perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya optimisme terhadap tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi masih relatif tinggi. Harga produsen pada Mei tercatat naik lebih tinggi dari perkiraan, sehingga mendorong pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun.Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 5 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.“Kendati proyeksi dikerek naik, Bank Dunia memberikan catatan bahwa ketergantungan pemerintah terhadap konsumsi sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek ini tetap disertai risiko,” kata Ibrahim.Risiko tersebut salah satunya adalah terbatasnya ruang fiskal dan beban subsidi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak global.Pada perdagangan Jumat sore (12/6), rupiah ditutup menguat 128 poin ke level Rp 17.860 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.988 per dolar AS. Untuk perdagangan Senin pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran level tersebut.