Kampus di Jogja Ini Jembatani Mahasiswa Papua dan NTT Membangun Daerahnya

Wait 5 sec.

Wisudawan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) saat mengikuti prosesi wisuda. Foto: Dok. Istimewa.Bagi sebagian mahasiswa dari Indonesia Timur, menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar melanjutkan sekolah, tetapi juga menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan teknologi yang masih terjadi di daerah asal mereka. Kondisi inilah yang selama bertahun-tahun ditemui Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), yang menjadi tujuan mahasiswa dari Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, hingga Kalimantan.Rektor UNRIYO, Hari Kusnanto, mengatakan keberadaan mahasiswa dari daerah-daerah terpencil menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi kampus untuk membantu mengembangkan potensi mereka."Saya melihat salah satu yang unggul di UNRIYO adalah banyak mahasiswanya berasal dari Indonesia bagian timur, dari daerah pelosok, terpencil, dan terpinggirkan. Itu menjadi tantangan yang sangat menarik karena semua anak bangsa sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi unggul. Tantangannya bagaimana kita mampu merangkul dan meningkatkan kemampuan mereka," kata Hari saat ditemui tim Pandangan Jogja, Jumat (5/6).Rektor UNRIYO, Hari Kusnanto. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.Ia menjelaskan, sebagian mahasiswa yang berasal dari Papua datang dari wilayah yang belum memiliki akses teknologi yang memadai. Bahkan, ada yang baru mulai terbiasa menggunakan perangkat digital setelah memasuki dunia perkuliahan.Kondisi tersebut membuat kampus harus memberikan pendampingan yang lebih intensif agar mahasiswa mampu mengikuti proses pembelajaran dan mengembangkan kompetensinya."Ada mahasiswa yang berasal dari daerah terpencil di sekitar Merauke maupun Timika yang belum terbiasa dengan teknologi informasi. Padahal mereka harus belajar di program studi yang berkaitan dengan teknologi. Karena itu diperlukan upaya khusus agar mereka bisa berkembang dan memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan mahasiswa lainnya," ujarnya.Mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) mengikuti kegiatan pengembangan soft skills untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan public speaking.Menurut Hari, mahasiswa asal Indonesia Timur saat ini mencapai sekitar 40 hingga 45 persen dari total mahasiswa di UNRIYO. Tingginya minat tersebut didukung oleh akses pendidikan yang relatif terjangkau serta berbagai program beasiswa yang tersedia."Dari sisi biaya, SPP di UNRIYO relatif rendah dan kompetitif. Kami juga banyak membantu mahasiswa melalui berbagai program beasiswa seperti KIP dan beasiswa dari pemerintah daerah. Dengan biaya yang tidak terlalu tinggi, dampaknya bisa sangat besar karena setelah lulus mereka kembali membangun daerahnya masing-masing," tuturnya.Ia mencontohkan, sejumlah penerima beasiswa yang menempuh pendidikan kesehatan di UNRIYO kini telah kembali ke daerah asal dan bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan."Ada yang kuliah S1 Gizi di sini lalu kembali ke Merauke dan menjadi dietitian di rumah sakit. Efeknya sangat bermanfaat untuk daerah."Menurut Hari, dampak pendidikan tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa, tetapi juga masyarakat di daerah asal mereka ketika para lulusan kembali dan berkontribusi melalui profesi yang dijalani."Tracer study menunjukkan lulusan kami terserap ke dunia kerja dengan waktu tunggu yang sangat cepat, paling lama sekitar tiga bulan. Ada yang bekerja sesuai bidangnya, ada juga yang menciptakan lapangan kerja sendiri. Bahkan ada lulusan yang berkarier di bidang yang berbeda dari jurusan yang ditempuh, tetapi tetap berhasil mengembangkan potensinya," ujarnya.Bagi Hari, pengalaman mendampingi mahasiswa dari berbagai daerah terpencil menjadi pengingat bahwa keterbatasan akses bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan kesempatan pendidikan yang tepat, mereka memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi daerah asalnya.