Ilustrasi peserta didik belajar di dalam kelas (Sumber: Foto oleh El Jusuf dari Pexels: https://images.pexels.com/photos/35548841/pexels-photo-35548841.jpeg)Seiring berjalannya waktu, dunia pendidikan terus mengalami berbagai perubahan yang mengikuti perkembangan zaman. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat pada metode pembelajaran atau pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada kurikulum yang selalu mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan masyarakat. Namun, di balik perubahan yang tampak wajar tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang sering hilang dari perhatian, yaitu siapa yang sebenarnya menentukan pengetahuan yang layak diajarkan di sekolah?Kurikulum selama ini sering dipandang sebagai pedoman yang netral dan objektif dalam mengatur proses pendidikan. Padahal, setiap materi yang diajarkan, setiap nilai yang ditanamkan, hingga setiap pengetahuan yang dianggap penting untuk dipelajari merupakan hasil dari berbagai keputusan sosial, politik, dan budaya. Dalam situasi seperti ini, apakah kurikulum benar-benar hadir sebagai alat pendidikan yang netral bagi semua pihak, atau justru menjadi ruang tempat berbagai kepentingan menentukan pengetahuan mana yang dianggap sah untuk diwariskan kepada generasi berikutnya?Kurikulum dan Kepentingan SosialKurikulum seringkali dipahami sebagai seperangkat pedoman pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Namun, dibalik susunan materi yang tampak objektif, terdapat berbagai kepentingan sosial yang turut mempengaruhi isi dan arah kurikulum. Realitas yang mungkin jarang disadari, seperti adanya proses pemilihan pengetahuan yang dianggap penting untuk diajarkan kepada generasi muda. Di balik tujuan pendidikan yang terlihat mulia, tersimpan berbagai nilai, ideologi, dan kepentingan kelompok yang ikut menentukan wajah pendidikan. Seakan menunjukkan bahwa kurikulum tidak pernah lahir dari ruang yang benar-benar netral.Penulis mengutip dari artikel berita sociology.institute pandangan sosiolog pendidikan Michael Apple yang menyatakan bahwa dalam teks fundamentalnya, Ideologi dan Kurikulum (1979) dan kemudian dalam Pengetahuan Resmi, Apple berpendapat kurikulum tidak pernah sekadar kumpulan pengetahuan netral yang muncul di ruang kelas dan buku teks. Kurikulum selalu merupakan bagian dari tradisi selektif seseorang, visi suatu kelompok tentang apa yang dianggap sebagai pengetahuan yang sah. Menurutnya, kelompok yang memiliki pengaruh lebih besar cenderung memiliki kesempatan lebih luas untuk menentukan pengetahuan apa yang dianggap sah dan layak diajarkan di sekolah. Dari pandangan tersebut, kita dapat memahami bahwa kurikulum bukan sekadar kumpulan mata pelajaran, melainkan juga cerminan kepentingan sosial yang hidup dalam suatu masyarakat. Kepentingan tersebut dapat memengaruhi cara peserta didik memahami sejarah, budaya, maupun realitas sosial di sekitarnya.Situasi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai dan cara pandang. Peserta didik pada akhirnya belajar memahami dunia melalui pengetahuan yang telah dipilih dan disusun oleh berbagai pihak yang memiliki kewenangan. Jika demikian, apakah kurikulum masih dapat dianggap sebagai perangkat pendidikan yang sepenuhnya netral, atau justru menjadi representasi dari kepentingan sosial yang bekerja di balik sistem pendidikan?Michael Apple dan Mitos Netralitas KurikulumPemahaman pemikiran Michael Apple dibutuhkan untuk menganalisis bagaimana kurikulum tidak pernah terlepas dari kepentingan sosial yang berkembang di masyarakat. Michael Apple merupakan tokoh sosiologi pendidikan yang banyak mengkritisi anggapan bahwa kurikulum bersifat netral dan bebas dari pengaruh kekuasaan. Apple mengungkapkan bahwa pengetahuan yang diajarkan di sekolah bukanlah sesuatu yang hadir secara alami, melainkan hasil seleksi sosial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Jika kita kaitkan dengan realitas pendidikan saat ini, kurikulum berperan bukan hanya sebagai pedoman pembelajaran, melainkan juga sebagai alat yang menentukan pengetahuan apa yang dianggap penting untuk diketahui peserta didik. Dalam konteks ini, pengetahuan yang masuk ke dalam kurikulum seringkali mencerminkan nilai, ideologi, dan kepentingan kelompok yang memiliki pengaruh lebih besar dalam sistem pendidikan. Namun, ketika kurikulum dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya objektif, maka proses seleksi pengetahuan tersebut menjadi sulit untuk dipertanyakan. Dominasi nilai tertentu yang terselubung di balik materi pembelajaran akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak bermasalah. Salah satu tujuan pendidikan adalah membentuk cara berpikir peserta didik secara kritis, tetapi apa yang terjadi jika pengetahuan yang mereka pelajari sejak awal sudah dibatasi oleh kepentingan kelompok tertentu?Melampaui Mitos Netralitas PendidikanDi balik kurikulum yang tampak objektif dan tersusun rapi, tersimpan berbagai kepentingan sosial yang turut menentukan arah pendidikan. Mitos netralitas pendidikan bukan sekadar perdebatan akademik, melainkan sebuah realitas yang memengaruhi cara peserta didik memahami dunia di sekitarnya. Dampaknya pun terlihat jelas, sekolah tidak hanya menjadi ruang untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi arena tempat nilai, ideologi, dan cara pandang tertentu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itu artinya kurikulum tidak pernah benar-benar polos, karena selalu lahir dari konteks sosial yang melingkupinya. Bagaimana mungkin pendidikan dianggap sepenuhnya netral jika pengetahuan yang diajarkan merupakan hasil pilihan dan keputusan manusia?Memahami bahwa pendidikan tidak netral bukan berarti menolak keberadaan kurikulum, melainkan mengajak kita untuk lebih kritis terhadap proses di balik pembentukannya. Kurikulum yang selama ini dianggap sebagai pedoman pembelajaran ternyata juga menjadi cerminan relasi kekuasaan, nilai budaya, dan kepentingan sosial yang hidup dalam masyarakat. Pendidikan yang seharusnya membebaskan cara berpikir peserta didik dapat kehilangan maknanya apabila tidak memberi ruang untuk mempertanyakan pengetahuan yang dianggap benar. Jika kita terus mempertahankan mitos bahwa pendidikan selalu netral, jangan heran apabila sekolah hanya menjadi tempat reproduksi gagasan yang diwariskan tanpa pernah benar-benar dipertanyakan.