Jelang Selat Hormuz Dibuka: 62 Juta Barel Minyak Mentah Siap Banjiri Pasar Asia

Wait 5 sec.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERSGelombang besar pasokan minyak yang sebelumnya tertahan di Selat Hormuz kini siap membanjiri pasar Asia. Berdasarkan data Signal Group yang dikutip dari Bloomberg pada Kamis (18/6), jumlah minyak mentah siap kirim mencapai 62 juta barel yang diangkut 31 kapal tanker raksasa (supertanker). Sebelumnya kapal-kapal tersebut tertahan di Teluk Persia sejak perang Iran dan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Kapal-kapal tersebut kini siap berlayar setelah jalur pelayaran internasional dibuka kembali.Pembukaan jalur ini terjadi setelah adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Secara logistik, pengiriman minyak mentah ini membutuhkan waktu sekitar 1 pekan untuk mencapai India, atau sekitar 3 minggu untuk sampai ke kawasan Asia Timur.Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Sabtu (18/4/2026). Foto: STR/ REUTERSNamun, banjir minyak mentah ini dinilai datang di waktu yang kurang tepat bagi para pelaku industri. Sejumlah pelaku industri berpendapat kilang-kilang di Asia saat ini sebenarnya sudah memiliki pasokan yang cukup hingga bulan depan. Kondisi ini berbeda drastis dibandingkan fase awal perang ketika harga melonjak dan pasar khawatir terjadi kelangkaan besar-besaran. Saat itu, kilang-kilang minyak terpaksa mengunci pembelian dari wilayah yang jauh seperti dilakukan AS. Sedangkan Jepang saat itu mulai menggunakan cadangan daruratnya dan China cenderung menahan diri di pasar.Di saat yang sama, produsen besar di Teluk Persia seperti Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) dan Kuwait Petroleum Corp. tetap aktif memasarkan pasokan mereka dan berhasil mengeluarkan sebagian stok melalui Selat Hormuz. Ilustrasi kilang minyak. Foto: GreenOak/ShutterstockSaking besarnya volume minyak yang akan datang, para pengelola kilang kini mulai mempertimbangkan untuk memasukkan minyak tersebut ke tangki penyimpanan atau terpaksa meningkatkan kembali pengolahan minyak mereka."Kami berasumsi ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli," tulis analis dari Goldman Sachs Group Inc dalam catatannya. Merespons situasi ini, para pelaku industri tampaknya mencoba menjual stok mereka secepat mungkin sebelum Selat Hormuz dibuka sepenuhnya, yang diprediksi akan membuat harga minyak jatuh lebih dalam lagi.