Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan komitmen ini dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) peringatan 35 tahun kemitraan ASEAN-Rusia di Kazan, Kamis (18/6), seraya menekankan bahwa pengalaman panjang Moskow di bidang energi atom harus dibarengi dengan alih teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan internasional tertinggi. Di sela-sela pertemuan, Direktur Utama Rosatom Alexey Likhachev mengungkapkan bahwa Indonesia tertarik besar pada teknologi reaktor nuklir terapung, yang dinilai lebih efisien dibandingkan pembangkit konvensional di darat karena karakteristik geografis Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau dan garis pantai panjang.Selain membidik energi hijau, pemerintah juga memastikan proses impor minyak mentah dari Rusia terus berjalan sebagai langkah strategis memperkuat cadangan energi nasional di tengah gangguan rantai pasok global akibat konflik AS-Iran. Komitmen pembelian 150 juta barel minyak secara bertahap hingga akhir 2026 merupakan tindak lanjut kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow beberapa waktu lalu, yang diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan dan melindungi 670 juta penduduk ASEAN dari guncangan eksternal.Menlu Sugiono juga mengapresiasi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) de-eskalasi antara AS dan Iran sebagai bukti keberhasilan diplomasi, namun tetap menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap krisis kemanusiaan di Palestina dan menegaskan komitmen Indonesia memperkuat kemitraan strategis ASEAN-Rusia demi ketahanan, kemakmuran, dan stabilitas kawasan yang berkelanjutan.