Berbekal Ilmu Perawat saat Kuliah, Mahasiswa Jogja Kerja di Jepang usai Lulus

Wait 5 sec.

Abu Nur bersama keluarga. Foto: Dok.IstimewaBerhasil meniti karier sebagai perawat berlisensi di Jepang menjadi pencapaian yang tidak mudah. Selain harus menguasai bahasa Jepang, calon perawat juga wajib melalui proses penyetaraan profesi yang ketat. Tantangan tersebut berhasil dilalui oleh alumni Program Studi Keperawatan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), Abu Nur, yang kini berkarier di Negeri Sakura.Abu mengaku bekal ilmu yang diperoleh selama kuliah di UNRIYO menjadi salah satu faktor penting yang membantunya beradaptasi dan bekerja di Jepang."UNRIYO itu sistem pembelajarannya sudah sistematis. Materi yang diberikan kepada mahasiswa sudah terkoordinasi dengan baik. Terutama ilmu dasar keperawatan, keperawatan medikal bedah, sampai keperawatan gerontik yang sangat bermanfaat untuk pekerjaan saya sekarang di Jepang," ungkap Abu saat diwawancarai tim Pandangan Jogja, Jumat (5/6).Ilustrasi layanan kesehatan di Jepang. Foto: CanvaMenurutnya, ilmu keperawatan gerontik menjadi salah satu bekal yang paling banyak digunakan dalam pekerjaannya karena mayoritas pasien yang dirawat merupakan kelompok lanjut usia."Mayoritas pasien di Jepang adalah lansia, rata-rata berusia 60 sampai 100 tahun. Karena itu ilmu keperawatan gerontik yang saya pelajari selama kuliah sangat membantu dalam pekerjaan sehari-hari," ujarnya.Perjalanan menuju Jepang tidak berlangsung instan. Setelah lulus, Abu terlebih dahulu bekerja selama dua tahun untuk memenuhi syarat mengikuti program Government to Government (G to G), kerja sama resmi antara pemerintah Indonesia dan Jepang dalam penempatan tenaga kesehatan."Syaratnya harus punya pengalaman kerja minimal dua tahun. Setelah itu mengikuti seleksi program G to G. Sebelum berangkat kami juga mendapatkan pelatihan bahasa Jepang selama satu tahun, enam bulan di Indonesia dan enam bulan di Jepang," jelasnya.Alumni Program Studi Keperawatan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO), Abu Nur, yang kini berkarier di Negeri Sakura. Foto: Dok.IstimewaDalam program tersebut, peserta diberi waktu tiga tahun untuk lulus ujian penyetaraan profesi perawat Jepang. Abu mengaku membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun hingga akhirnya berhasil memperoleh lisensi perawat di Jepang.Keberhasilan tersebut membuka peluang karier yang lebih luas. Saat ini ia dipercaya sebagai nurse leader dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan saat bertugas, termasuk pada shift malam.Meski bekerja di luar negeri, Abu menilai keberhasilannya tidak lepas dari kebiasaan belajar yang dibangun sejak kuliah. Ia juga mendorong mahasiswa yang bercita-cita bekerja di luar negeri untuk mulai mempersiapkan diri sejak kuliah, baik dari sisi kompetensi maupun kemampuan bahasa."Kalau memang punya minat bekerja di luar negeri, mulai saja belajar bahasa negara tujuan sejak kuliah. Ilmu keperawatannya sebenarnya sudah cukup. Tinggal menyesuaikan kemampuan bahasa dan memahami sistem yang berlaku di negara tersebut," katanya.Ilustrasi rumah sakit di Jepang. Foto: CanvaMenurutnya, peluang tenaga kesehatan Indonesia untuk berkarir di Jepang masih terbuka lebar karena kebutuhan perawat terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia."Sampai puluhan tahun ke depan Jepang masih membutuhkan tenaga kesehatan. Bahkan dengan tenaga kerja dari luar negeri pun kebutuhan mereka masih belum terpenuhi," ujarnya.Bagi Abu, keberhasilannya berkarir di Jepang menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional apabila memiliki kompetensi yang baik dan kemauan untuk terus belajar."Ilmu yang saya dapatkan di UNRIYO sangat bermanfaat dan membantu saya dalam proses belajar maupun saat mengikuti ujian lisensi perawat Jepang. Bekal itu yang akhirnya mengantarkan saya bisa bekerja dan berkembang sampai sekarang," pungkasnya.