Mubeng Beteng, Tradisi Tapa Bisu untuk Introspeksi Diri di Malam 1 Suro

Wait 5 sec.

Warga mengikuti tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, pada 26 Juni 2025. Foto: Johnkelar/ShutterstockTradisi Mubeng Beteng kembali menjadi salah satu rangkaian peringatan malam 1 Suro yang selalu menarik perhatian masyarakat di Yogyakarta. Ribuan peserta berjalan mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening tanpa percakapan, sebagai bagian dari ritual yang dikenal sebagai Tapa Bisu Mubeng Beteng.Menurut KRT. Wijayapamungkas dari Paguyuban Abdi Dalem, tradisi ini bukan sekadar berjalan kaki dalam diam, melainkan sarana untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri."Mubeng Beteng itu sebenarnya merupakan (momen) introspeksi diri, mawas diri sambil berjalan kita meneng (diam)," ujar KRT. Wijayapamungkas dari Paguyuban Abdi Dalem.Warga mengikuti tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, pada 26 Juni 2025. Foto: Abyzan SBD/ShutterstockIa menjelaskan bahwa makna "hening" dalam tradisi tersebut bukan berarti pasif atau sekadar tidak berbicara. Keheningan justru menjadi ruang bagi setiap peserta untuk merenungkan perjalanan hidup, mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan, serta berupaya memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat."Meneng-nya itu bukan meneng dalam artia pasif, tapi meneng sambil berjalan, sambil ngevaluasi apakah yang saya lakukan yang kemarin (baik atau buruk). Kalau jelek, kita (introspesi) kembalikan kepada yang benar," terangnya.Melalui prosesi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton, masyarakat diajak untuk menata kembali pikiran dan batin menjelang pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Nilai-nilai introspeksi, mawas diri, dan pengendalian diri menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini.Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Mubeng Beteng tetap menjadi pengingat pentingnya meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan memperbaiki langkah untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ke depannya.Tentang Tradisi Mubeng BetengMubeng Beteng merupakan tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta yang digelar setiap malam 1 Suro atau pergantian tahun baru dalam kalender Jawa. Tradisi ini dikenal juga sebagai Tapa Bisu Mubeng Beteng karena seluruh peserta diwajibkan menjaga keheningan sepanjang perjalanan.Rute yang ditempuh mengelilingi kawasan Benteng Keraton Yogyakarta sejauh beberapa kilometer. Selain abdi dalem Keraton, kegiatan ini juga diikuti masyarakat umum dari berbagai daerah.Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki makna spiritual yang mendalam. Karena itu, Mubeng Beteng bukan dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan sebagai momentum untuk introspeksi, membersihkan batin, memohon keselamatan, serta memulai tahun baru dengan niat dan perilaku yang lebih baik.