Ilustrasi AS-Israel vs Iran Foto: Dok. ChatGPTIran dan Amerika Serikat telah resmi meneken kesepakatan damai usai kedua negara berperang beberapa bulan ke belakang, namun implementasi kesepakatan damai ini baru akan dibahas.Meski begitu, kesepakatan ini masih rentan batal karena adanya serangan yang dilancarkan Israel-- sekutu AS --terhadap Lebanon yang merupakan sekutu Iran. Kini, pihak Iran dan AS akan segera membahas implementasi kesepakatan damai kedua negara di Swiss.Delegasi Iran Berangkat ke SwissDelegasi Iran telah berangkat ke Swiss, untuk bernegosiasi merumuskan perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (20/6). Delegasi ini nantinya juga akan menagih implementasi dari poin-poin perdamaian untuk menyudahi perang di Timur Tengah."Delegasi akan berangkat untuk menindaklanjuti dan meminta implementasi pihak AS, sebagai bagian komitmen dari perjanjian damai," kata kantor Jubir Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, dilansir kantor berita Iran, IRNA via AFP."Dan pihak AS harus mengambil langkah yang segera, jika tidak, perdamaian akan bersamalah," lanjut Baqaei.Delegasi ini diperkuat dengan sejumlah nama besar Iran, seperti negosiator ulung Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.Iran juga menekankan, bahwa perjanjian damai yang disepakati oleh AS berarti termasuk menghentikan pertempuran yang terjadi di Lebanon. Artinya, tentara Israel dan Hizbullah juga harus ikut berdamai.Padahal, Israel kembali menyerang Lebanon pada Jumat (19/6) dan Sabtu ini.Iran lalu merespons dengan menutup kembali selat Hormuz, begitu mengetahui serangan Israel ini.Iran Ancam Kesepakatan BatalJuru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei memberikan keterangan pers di Kementerian Luar Negeri di ibu kota Teheran, pada 10 Februari 2026. Foto: ATTA KENARE / AFPKementerian Luar Negeri Iran menyatakan, rencana perjanjian damai dengan Amerika Serikat (AS) bisa saja batal jika ada syarat yang tak dipenuhi."Pihak AS harus mengambil langkah dengan segera. Jika tidak, semua kesepakatan akan bermasalah," ucap juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baqaei, dilansir media pemerintah Iran IRNA via AFP, Sabtu (20/6).Peringatan ini disampaikan Iran, usai Israel kembali menyerang selatan Lebanon, pada Jumat (19/6) kemarin. Serangan itu mengakibatkan puluhan warga Lebanon tewas.Padahal dalam kesepakatan Iran-AS, semua konflik bersenjata harus dihentikan. Termasuk antara Israel dan Hizbullah yang ada di selatan Lebanon.Maka, merespons serangan Israel itu Iran juga kembali menutup Selat Hormuz untuk segala jenis pelayaran.Tutup Lagi Selat HormuzIran kembali menutup Selat Hormuz. Hal ini dipicu oleh serangan Israel ke Lebanon, pada Jumat (19/6) yang disebut Israel sebagai pelanggaran kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS)."Sekaligus diumumkan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup untuk segala pelayaran, ini adalah respons dari pelanggaran perjanjian damai, dan jika mereka terus menyerang langkah selanjutnya akan diambil sampai mereka memenuhi kesepakatan perjanjian," kata Komando Militer Pusat Khatam-al Anbiya, dilansir AFP, Sabtu (20/6).Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan serangan Israel ke negara tersebut sejak 2 Maret 2026 lalu telah mengakibatkan 4.057 orang tewas, termasuk 135 petugas kesehatan. Selain itu, 12.121 orang juga tewas akibat serangan itu.Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz , seperti terlihat dari Musandam, Oman, 11 Juni 2026. Foto: REUTERS/StringerSementara pada serangan terakhir Jumat lalu, sebanyak 83 orang tewas dan 141 orang lainnya terluka. Kebanyakan dari mereka tewas di Selatan Lebanon.Sebelumnya diberitakan, Irael tengah bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mempertahankan pasukannya di Lebanon selatan, menurut dua pejabat Israel yang berbicara kepada Reuters, Kamis (18/6).Pembicaraan itu berlangsung sehari setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan sementara yang menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.Seorang pejabat senior Israel yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pemerintahnya tidak berencana menarik pasukan dari wilayah yang telah dikuasai.JD Vance Wakili AS ke SwissWakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Swiss pada Sabtu (20/6) untuk melakukan pembicaraan mengenai implementasi kesepakatan guna mengakhiri perang di Timur Tengah. Ia mengatakan para perunding akan membahas program nuklir Iran dan gencatan senjata di Lebanon.Wakil Presiden AS JD Vance melambaikan tangan saat naik ke pesawat Air Force Two setelah menghadiri pembicaraan tentang Iran di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026). Foto: Jacquelyn MARTIN / POOL / AFP“Saya hanya bisa berada di sana satu atau dua hari. Saya berharap kami akan membuat kemajuan dalam isu nuklir, serta kemajuan dalam isu gencatan senjata Lebanon. Itu adalah dua hal besar yang menurut saya akan menjadi fokus kami,” kata Vance kepada wartawan sebelum berangkat dari Joint Base Andrews, dikutip dari AFP.AS Bantah Selat Hormuz DitutupMiliter Amerika Serikat (AS) membantah klaim Iran bahwa mereka telah menutup Selat Hormuz, dengan menyatakan bahwa jalur perairan penting tersebut tetap terbuka dan pasukan AS terus memantau situasi untuk memastikan kondisi itu tetap berlangsung.“Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” kata juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, Sabtu (20/6) dikutip dari Reuters.“Lalu lintas pelayaran terus berjalan, dan pasukan AS memantau situasi untuk memastikan hal ini tetap demikian," tambahnya.Trump Ancam Patok Tarif di Selat HormuzPresiden AS Donald Trump tiba untuk menghadiri selingan musik sebelum makan malam gala sebagai bagian dari KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Selasa (16/6/2026). Foto: Ludovic Marin/Pool via REUTERSPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan tidak akan ada pungutan tol di Selat Hormuz selama 60 hari pada masa gencatan senjata. Meski begitu, ia menyebut pungutan tetap akan ditarik apabila pungutan itu diberlakukan oleh dan untuk AS.“Tidak akan ada pungutan tol setelah periode 60 hari itu berakhir, kecuali jika pungutan tersebut diberlakukan oleh dan untuk Amerika Serikat, apabila kesepakatan tidak tercapai, sebagai imbalan atas jasa yang diberikan sebagai ‘Malaikat Pelindung’ bagi negara-negara di Timur Tengah, untuk penggantian biaya di masa lalu, sekarang, dan masa depan," ucap Trump dalam unggahannya di Truth Social, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (20/6).