Balikpapan Bidik Pengurangan Sampah 50 Persen, Warga Diminta Mulai Pilah Sampah dari Rumah

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan  menargetkan pengurangan volume sampah hingga 50 persen melalui penguatan budaya pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga predikat Balikpapan sebagai kota bersih, sekaligus mendukung agenda nasional pengelolaan lingkungan berkelanjutan.Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai regulasi sebagai landasan pengelolaan sampah, mulai dari peraturan daerah hingga peraturan wali kota yang mengatur pemilahan sampah dan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam mengurangi timbulan sampah yang selama ini masih menjadi tantangan di kawasan perkotaan.“Pemerintah Kota Balikpapan sudah memiliki peraturan daerah maupun peraturan wali kota yang mengatur pemilahan sampah. Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai dalam berbagai aktivitas perdagangan juga terus dibatasi sebagai upaya mengurangi pencemaran lingkungan,” kata Bagus, saat ditemui Kegiatan Aksi Bersih-Bersih Pantai Bandara Lama, pada Minggu (21/6/2026).Ia menjelaskan, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Keterlibatan masyarakat, dunia usaha, komunitas, hingga lingkungan keluarga menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif.Oleh karena itu, Pemkot Balikpapan terus mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) yang kini mulai banyak diterapkan sebagai solusi pengurangan sampah rumah tangga.“Kalau pemilahan sampah dilakukan secara konsisten dari rumah, maka beban sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang hingga 50 persen. Penggunaan kompos dan maggot menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan masyarakat,” ujarnya.Bagus menilai pola lama yang hanya mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sudah tidak lagi relevan di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi Kota Balikpapan.Sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan menghadapi tantangan baru berupa peningkatan jumlah penduduk dan produksi sampah. Karena itu, pengurangan sampah dari sumbernya menjadi langkah strategis yang harus dilakukan sejak sekarang.“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Kalau semua pihak bergerak bersama, mulai dari rumah tangga, sekolah, komunitas, hingga perusahaan, maka persoalan sampah akan jauh lebih mudah ditangani,” katanya.Selain mendorong pengurangan sampah dari sumbernya, Pemerintah Kota Balikpapan  juga menaruh harapan besar pada proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik yang direncanakan melayani kawasan Balikpapan Raya.Menurut Bagus, proyek tersebut akan menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah perkotaan sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan.“Kami berharap pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat segera direalisasikan. Ini bukan hanya solusi terhadap persoalan sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa energi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.Bagus menegaskan bahwa menjaga kebersihan kota merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah Kota Balikpapan telah menerbitkan surat edaran yang mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memperkuat budaya gotong royong.Upaya tersebut dinilai penting agar Balikpapan tetap mampu mempertahankan berbagai penghargaan di bidang lingkungan yang selama ini berhasil diraih.“Selama ini Balikpapan dikenal sebagai kota yang bersih. Prestasi itu tidak boleh berhenti hanya sebagai penghargaan, tetapi harus menjadi budaya yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.Ia berharap gerakan pengurangan sampah dapat menjadi kebiasaan baru masyarakat sehingga manfaat lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan dapat dirasakan hingga anak cucu di masa mendatang.“Lingkungan yang bersih adalah investasi jangka panjang. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi yang akan datang,” tutupnya. (*)