Ketika Pesantren Kehilangan Teladan, Tersisa Panggung "Pertunjukan"

Wait 5 sec.

Dok: aiMendirikan pesantren ternyata tidak selalu sulit. Yang sulit adalah mendidik manusia.Membangun gedung bisa dengan uang. Membeli tanah bisa dengan modal. Membuat papan nama bahkan hanya butuh desain yang menarik dan sedikit promosi. Dalam waktu singkat, sebuah tempat sudah bisa disebut pesantren.Tetapi pendidikan tidak lahir dari tembok.Pendidikan lahir dari keteladanan.Di situlah persoalannya. Banyak orang mampu membangun pesantren, tetapi tidak semua mampu membangun dirinya sendiri. Ada yang pandai berbicara tentang akhlak, tetapi mudah marah ketika dikritik. Ada yang sering mengajarkan keikhlasan, tetapi sibuk menghitung pujian. Ada yang mengajak orang hidup sederhana, sementara dirinya berlomba tampil paling mewah.Maka yang tumbuh bukan pendidikan, melainkan pertunjukan.Santri akhirnya lebih sering melihat panggung daripada teladan. Mereka mendengar nasihat tentang kejujuran, tetapi menyaksikan praktik yang berbeda. Mereka diajari rendah hati, tetapi setiap hari melihat kesombongan dipoles menjadi karisma.Padahal sejak dahulu pesantren besar tidak dibangun oleh bangunan megah. Ia dibangun oleh kewibawaan moral pengasuhnya. Orang datang bukan karena gerbangnya tinggi, melainkan karena akhlaknya tinggi. Bukan karena spanduknya besar, tetapi karena ilmunya besar.Murid tidak hanya belajar dari apa yang didengar. Mereka belajar dari apa yang dilihat.Satu contoh nyata lebih kuat daripada seribu ceramah.Karena itu, tantangan terbesar seorang pendidik bukan bagaimana tampil meyakinkan di depan orang banyak. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana tetap menjadi orang baik ketika tidak ada yang melihat.Sebab masyarakat mungkin bisa terkagum-kagum oleh penampilan. Tetapi pendidikan sejati hanya akan lahir dari keteladanan.Orang bisa menghafal kata-kata seorang guru. Namun yang paling lama tinggal dalam ingatan adalah cara hidupnya. Jika hidupnya tidak menjadi pelajaran, maka yang tersisa hanyalah panggung yang ramai—tanpa pendidikan yang benar-benar terjadi.