China Perketat Aturan EV, Mulai 1 Juli Wajib Ada Power Cut Off Fisik

Wait 5 sec.

Proses pemadaman mobil listrik Hyundai IONIQ 5 N di Medan. Foto: Damkar Kota MedanPemerintah China melalui Ministry of Industry and Information Technology (MIIT), akan memberlakukan dua aturan baru untuk kendaraan listrik (EV) mulai 1 Juli 2026. Regulasi ini dinilai menjadi salah satu langkah paling 'agresif' dalam meningkatkan standar keselamatan kendaraan listrik di negara tersebut.Disitat dari Car News China, aturan pertama mewajibkan baterai mobil listrik dirancang agar tidak mengalami kebakaran maupun ledakan. Kebijakan ini menjadi pembaruan signifikan dibanding standar sebelumnya, yang hanya mengharuskan kendaraan memberikan peringatan kepada pengguna beberapa menit sebelum potensi kebakaran terjadi.Sebelumnya, MIIT menetapkan standar pengujian yang mewajibkan sistem kendaraan memberikan sinyal peringatan. Setidaknya lima menit sebelum mobil listrik mengalami kebakaran. Namun dalam regulasi terbaru, fokusnya tidak lagi sebatas memberikan peringatan, melainkan mencegah kebakaran dan ledakan terjadi sejak awal.Produsen baterai mobil listrik Gotion Indonesia. Foto: Fitra Andrianto/kumparanUntuk memenuhi ketentuan tersebut, seluruh model EV baru diwajibkan menjalani pengujian difusi termal atau thermal propagation test.Pengujian ini bertujuan memastikan baterai tidak mengalami kebakaran maupun ledakan ketika terjadi thermal runaway, yakni kondisi saat suhu di dalam baterai meningkat secara tidak terkendali, dan berpotensi memicu reaksi berantai pada sel baterai lainnya.Selain itu, terdapat dua indikator pengujian baru yang ikut diperkenalkan. Pertama, baterai harus lolos pengujian benturan dari bagian bawah kendaraan yang dirancang untuk mensimulasikan kondisi jalan nyata.Kedua, baterai wajib mampu menjalani 300 siklus pengisian menggunakan DC fast charger tanpa mengalami kebakaran maupun ledakan. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan baterai tetap terjaga meski digunakan secara intensif dalam jangka panjang.Regulasi baru kedua berkaitan dengan aspek keselamatan saat kondisi darurat. Seluruh mobil listrik baru nantinya diwajibkan memiliki tombol pemutus daya atau power cut off dalam bentuk fisik.Ketentuan ini muncul di tengah tren industri otomotif yang semakin banyak mengurangi penggunaan tombol fisik dan memindahkan berbagai fungsi kendaraan ke layar sentuh atau head unit.Pada sejumlah model kendaraan modern, termasuk mobil listrik asal China, fungsi tertentu bahkan hanya dapat diakses melalui perangkat lunak di layar tengah.Tampang interior mobil listrik Chery Q. Foto: Dok. Autolife ThailandDesain tersebut memang mampu menciptakan tampilan kabin yang lebih minimalis dan modern. Namun dalam kondisi darurat, akses terhadap fungsi-fungsi penting kendaraan dinilai menjadi kurang praktis.Karena itu, MIIT mewajibkan produsen menyediakan tombol pemutus daya fisik yang dapat dioperasikan secara cepat hanya dengan satu sentuhan ketika dibutuhkan.Secara umum, kedua regulasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan keselamatan pengguna kendaraan listrik, tetapi juga memperkuat kepercayaan konsumen terhadap teknologi EV yang saat ini berkembang sangat pesat di China.Aturan baru ini juga diperkirakan akan menciptakan standar baru bagi industri kendaraan listrik nasional. Produsen baterai dan pabrikan otomotif dituntut menghadirkan teknologi yang lebih aman, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pasar mobil listrik bekas di masa depan.Fasilitas CATL di Jerman. Foto: Dok. CATLSelain itu, peningkatan standar keselamatan, diyakini dapat membantu mengurangi kekhawatiran perusahaan asuransi, dalam memberikan perlindungan terhadap kendaraan listrik, yang selama ini dianggap memiliki karakteristik risiko berbeda dibanding mobil bermesin pembakaran internal.Meski regulasi tersebut baru akan berlaku pada Juli mendatang, sejumlah perusahaan mengklaim telah memenuhi standar baru yang ditetapkan pemerintah China.Produsen baterai terbesar dunia, CATL, menyebut produk baterai untuk kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial yang telah diproduksi massal sudah berhasil lulus pengujian terbaru pada Mei 2025.Sementara itu, BYD mengklaim Blade Battery generasi kedua yang digunakan pada kendaraan elektrifikasinya juga telah memenuhi standar baru tersebut.Menurut perusahaan, teknologi baterai tersebut bahkan mampu melampaui sejumlah persyaratan yang diwajibkan dalam regulasi terbaru pemerintah China.