Kasus Mahasiswa Unnes Kirim Chat Mesum, Satgas PPK Sebut Ada 3 Korban

Wait 5 sec.

Ilustrasi UNNES. Foto: Bonie el Ninno/ShutterstockUniversitas Negeri Semarang (Unnes) buka suara terkait peristiwa pengepungan terhadap mahasiswa terduga pelaku kekerasan seksual. Kampus menyebut korban dalam kasus ini diduga berjumlah tiga orang.Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Unnes Surahmat mengatakan, kasus kekerasan seksual itu sebenarnya sudah dilaporkan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Unnes dengan Nomor 020/KS/VI/2026 pada 17 Juni 2026 sekitar pukul 14.30 WIB."Satgas PPK Unnes kemudian menangani SOP dan peraturan yang ada. Tahap awal dalam merespons laporan adalah menggali informasi dari pelapor," ujar Rahmat melalui keterangan tertulis, Kamis (18/6).Ia menjelaskan, pada hari yang sama Satgas meminta keterangan dari pelapor terkait laporan kekerasan tersebut."Dalam proses pemeriksaan tersebut, Satgas mengidentifikasi adanya 3 korban kekerasan seksual," jelas dia.Namun, di tengah proses penanganan perkara, tiba-tiba muncul inisiasi di media sosial X dari kelompok anonim yang menghendaki permintaan maaf secara terbuka dari pelaku kepada korban."Kemudian terjadi eskalasi yang menyebabkan keriuhan pada Rabu malam dan Kamis dini hari. Setelah eskalasi tersebut, terduga pelaku diamankan oleh petugas kepolisian dari Polrestabes Kota Semarang," kata Rahmat.Meski begitu, Satgas PPK terus melakukan pendalaman informasi dan siap bekerja sama dengan Polrestabes Semarang untuk menciptakan suasana dan lingkungan akademik yang aman."Kami memahami bahwa eskalasi keresahan di antara mahasiswa. Kapasitas Satgas PPK dalam melakukan penanganan kekerasan merujuk pada Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 dan Peraturan Rektor Nomor 115 Tahun 2024," kata Rahmat.Sebelumnya, ramai di media sosial ratusan mahasiswa Unnes. mengepung seorang laki-laki terduga pelaku pelecehan seksual.Suasana saat ratusan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengepung seorang laki-laki terduga pelaku pelecehan seksual. Foto: Dok. IstimewaPeristiwa ini terjadi pada Rabu (17/6) malam hingga Kamis (18/6) dini hari di salah satu gedung di kawasan kampus tersebut. Terduga pelaku sempat akan dihakimi massa dan bersembunyi di salah satu pos satpam. Suasana sempat memanas, namun polisi segera melakukan pengamanan dan membawa pelaku.Salah satu korban yang juga mahasiswi kampus tersebut mengatakan, kasus ini bermula saat ia yang merupakan pengemudi jasa titip (jastip) atau antar jemput (anjem) dihubungi oleh pelaku."Awal mula jam 01.00 WIB, dia chat saya menanyakan bisa jastip atau tidak karena memang saya sebelumnya driver jastip. Tapi kemudian malah nanya kakaknya hyper engga, dia juga nanya sudah pernah hb (berhubungan badan) belum," kata korban membacakan chat pelaku kepada dirinya.Korban yang ketakutan kemudian mengirimkan tangkapan layar pelaku ke grup layanan antar jemput yang ia ikuti. Ia ingin para driver wanita untuk berhati-hati jika mendapat chat dari pelaku.Ternyata chat tidak senonoh itu juga menyasar mahasiswi-mahasiswi lain yang menyambi sebagai penyedia jasa anjem atau jastip. Para korban lalu meminta pelaku menyampaikan permintaan maaf dan melakukan klarifikasi."Saya dan teman-teman driver cowok minta untuk klarifikasi dan permintaan maaf karena korbannya banyak. Saya nggak ngira akan seramai, sampai membludak ini karena awalnya diminta bikin video klarifikasi," imbuh dia.