Bank Indonesia Hitung Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi ke Inflasi

Wait 5 sec.

Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono, Aida Budiman, dan Ricky Gozali mengikuti raker dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTOBank Indonesia (BI) menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi mulai memberikan dampak terhadap inflasi domestik. Kendati begitu, dampaknya masih dinilai terkendali dan inflasi tetap berada dalam sasaran bank sentral.Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan, salah satu risiko inflasi yang saat ini menjadi perhatian adalah rambatan tekanan harga global atau imported inflation, terutama dari kenaikan harga minyak dan komoditas dunia.Menurutnya, dampak rambatan global tersebut paling cepat terlihat pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), termasuk BBM non-subsidi.“Secara langsung, kedua faktor tadi tentunya kalau yang rambatan global langsung kita lihat kepada administered prices atau harga-harga yang ditentukan oleh pemerintah, seperti kemarin ini ada perubahan harga BBM non-subsidi, ada yang naik seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, tetapi ada juga yang turun, yaitu Dexlite dan Pertamina Dex, tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi,” ujar Aida dalam konferensi pers, Rabu (18/6).BI memperkirakan penyesuaian harga BBM non-subsidi tersebut memberikan tambahan tekanan yang relatif terbatas terhadap inflasi nasional.“Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi,” kata Aida.Meski terdapat tekanan dari harga energi global, BI masih meyakini inflasi sepanjang tahun ini akan tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.“Dengan hal itu semua, memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen, jadi paling tinggi kita 3,5 ini masih dalam target tersebut,” tuturnya.Sebelumnya Pertamina mengerek harga produk bahan bakar minyak jenis Pertamax (RON 92) dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.BI Waspadai Risiko El NinoSelain tekanan dari harga global, BI juga mulai mengantisipasi risiko cuaca yang berpotensi mempengaruhi pasokan pangan dalam negeri. Fenomena El Nino diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Oktober atau November 2026.Aida mengatakan gangguan cuaca berpotensi mempengaruhi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food), meskipun berbagai langkah koordinasi telah dilakukan untuk menjaga pasokan dan distribusi pangan.BI bersama pemerintah pusat dan daerah terus menjalankan program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Serentak (GPIPS) guna menjaga stabilitas harga bahan pangan.Inflasi Pangan Naik, 13 Provinsi Dipantau KhususDeputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menambahkan inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan.Namun demikian, inflasi kelompok volatile food mencapai 6,24 persen yoy dan menjadi sumber tekanan utama di sejumlah daerah.Dari hasil pemantauan BI, sebanyak 25 provinsi masih mencatat inflasi dalam rentang sasaran. Meski begitu, terdapat 13 provinsi yang mulai menunjukkan tren kenaikan inflasi dan mendapat perhatian khusus.“Dari pantauan kami di daerah pada Mei 2026 ini Inflasi di 25 provinsi masih berada dalam rentang sasaran Namun demikian terdapat 13 provinsi yang kami pantau secara khusus Karena sudah mulai bergerak ke atas di daerah sasaran,” ungkap Ricky.Beberapa daerah dengan inflasi relatif tinggi antara lain Papua Barat sebesar 5,94 persen, Aceh 5,12 persen, dan Kalimantan Tengah 4,55 persen.Menurut Ricky, tekanan inflasi tersebut dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.BI Siapkan Mitigasi Dampak InflasiUntuk mengantisipasi risiko inflasi ke depan, BI bersama 46 kantor perwakilan di daerah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).Langkah tersebut difokuskan pada upaya menjaga ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta menjaga stabilitas harga pangan di berbagai wilayah, terutama jika dampak El Nino mulai terasa pada semester kedua tahun ini.“Untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi pangan Dengan bersinergi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID. Termasuk melalui program gerakan pengendalian inflasi pangan sejahtera atau GPIPS. Ini adalah guna untuk menjaga ketersediaan pasokan Pelancaran distribusi serta stabilitas harga pangan di berbagai daerah,” kata Ricky.