Dari "Inggih" ke "Mengapa?": Budaya Sendiko Dawuh dalam Pendidikan Modern

Wait 5 sec.

Ilustrasi Sendiko Dawuh "ketaatan dan penghormatan". Foto: Dokumentasi pribadiPendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mempelajari nilai, norma, dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Melalui pendidikan, siswa tidak hanya belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya, tetapi juga belajar bagaimana bersikap, berinteraksi, dan memandang dunia di sekitarnya. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan pola pikir seseorang.Dalam masyarakat Jawa, terdapat nilai budaya yang dikenal dengan istilah sendiko dawuh. Istilah ini menggambarkan sikap patuh dan hormat kepada orang yang memiliki otoritas, seperti orang tua, guru, maupun pemimpin. Nilai tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Jawa. Dalam lingkungan sekolah, budaya ini sering terlihat ketika siswa mengikuti arahan guru tanpa banyak bertanya atau membantah.Di sisi lain, pendidikan modern menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu menyampaikan pendapat secara terbuka. Siswa tidak lagi hanya diharapkan menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi individu yang mampu menganalisis, mempertanyakan, dan mencari solusi atas berbagai persoalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah budaya sendiko dawuh masih relevan dalam pendidikan modern yang menekankan pentingnya berpikir kritis?Memahami Budaya Sendiko Dawuh dalam Tradisi JawaSendiko dawuh berasal dari bahasa Jawa yang secara sederhana dapat diartikan sebagai kesediaan untuk menaati atau menjalankan perintah yang diberikan oleh seseorang yang dihormati. Nilai ini berakar kuat dalam budaya Jawa yang menjunjung tinggi rasa hormat, kesopanan, dan keharmonisan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap sendiko dawuh tercermin melalui perilaku menghargai orang tua, mendengarkan nasihat guru, serta mematuhi aturan yang berlaku dalam masyarakat.Dalam dunia pendidikan, budaya ini sering terlihat melalui hubungan antara guru dan siswa. Guru dipandang sebagai sosok yang memiliki pengetahuan dan pengalaman sehingga layak dihormati dan diikuti arahannya. Tidak jarang siswa merasa bahwa membantah atau mempertanyakan pendapat guru merupakan tindakan yang kurang sopan. Akibatnya, sikap patuh menjadi salah satu karakter yang dianggap baik dalam lingkungan sekolah.Seorang anak mencium tanganorang tua dalam sebuah pedesaan tradisional, yang menggambarkan rasa hormat budaya. Foto: Daniel lee/PexelsPada dasarnya, sendiko dawuh memiliki nilai positif karena mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, menjaga etika, dan membangun kedisiplinan. Namun, ketika nilai tersebut dipahami secara berlebihan, muncul kemungkinan bahwa siswa menjadi terlalu pasif dan enggan menyampaikan pendapatnya. Di sinilah muncul tantangan bagi pendidikan modern yang menuntut keseimbangan antara sikap hormat dan kemampuan berpikir kritis.Hidden Curriculum dalam Praktik PendidikanKetika membahas pendidikan, banyak orang hanya berfokus pada kurikulum formal yang berisi mata pelajaran, materi pembelajaran, dan tujuan pendidikan. Padahal, di balik kurikulum formal terdapat hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Hidden curriculum merupakan nilai, norma, dan kebiasaan yang dipelajari siswa secara tidak langsung melalui kehidupan sehari-hari di sekolah.Contoh hidden curriculum dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas sekolah. Siswa diajarkan untuk datang tepat waktu, mematuhi aturan sekolah, menghormati guru, dan menjaga ketertiban kelas. Nilai-nilai tersebut memang tidak selalu tertulis dalam buku pelajaran, tetapi terus diajarkan melalui praktik dan budaya sekolah.Budaya sendiko dawuh dapat dipahami sebagai bagian dari hidden curriculum. Melalui interaksi sehari-hari, siswa belajar bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati dan ditaati. Mereka terbiasa mendengarkan arahan guru, mengikuti instruksi tanpa banyak bertanya, dan menganggap kepatuhan sebagai perilaku yang baik. Dengan demikian, sekolah secara tidak langsung menjadi ruang yang mereproduksi nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat.Walaupun memiliki tujuan positif, hidden curriculum juga dapat menghasilkan dampak yang tidak disadari. Ketika kepatuhan lebih dihargai dibandingkan keberanian bertanya, siswa mungkin merasa ragu untuk mengemukakan pendapat atau mempertanyakan informasi yang diterimanya. Akibatnya, proses belajar menjadi kurang dialogis dan cenderung berjalan satu arah.Dari "Inggih" ke "Mengapa?": Perspektif Critical PedagogyBerbeda dengan pendekatan pendidikan yang menekankan kepatuhan, critical pedagogy atau pedagogi kritis menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif dalam proses pembelajaran. Tokoh yang paling dikenal dalam pendekatan ini adalah Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan asal Brasil yang mengkritik model pendidikan tradisional yang hanya menjadikan siswa sebagai penerima informasi.Menurut Freire, pendidikan seharusnya membantu peserta didik mengembangkan kesadaran kritis terhadap realitas sosial yang mereka hadapi. Siswa perlu diberi ruang untuk berdialog, bertanya, dan mengemukakan pendapat sehingga mereka tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif. Pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang membuat siswa sekadar menghafal, melainkan pendidikan yang mendorong mereka untuk memahami dan merefleksikan berbagai persoalan dalam kehidupan.Dalam konteks budaya sendiko dawuh, pedagogi kritis mengajak kita untuk melihat bahwa sikap hormat kepada guru tidak harus menghilangkan keberanian untuk bertanya. Seorang siswa dapat tetap menghormati gurunya sambil mengajukan pertanyaan, berdiskusi, atau menyampaikan pandangan yang berbeda secara santun. Dengan kata lain, kata "inggih"yang melambangkan kepatuhan perlu berjalan berdampingan dengan kata "mengapa" yang mencerminkan rasa ingin tahu dan pemikiran kritis.Dilema antara Kepatuhan dan Berpikir Kritis dalam Pendidikan ModernSalah satu tantangan terbesar dalam pendidikan saat ini adalah menemukan keseimbangan antara membangun karakter yang santun dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Di satu sisi, budaya sendiko dawuh memiliki banyak manfaat. Sikap hormat kepada guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan kondusif. Selain itu, nilai ini juga membantu siswa memahami pentingnya etika dalam kehidupan sosial.Namun, di sisi lain, budaya kepatuhan yang terlalu kuat dapat menimbulkan beberapa persoalan. Banyak siswa merasa takut bertanya karena khawatir dianggap tidak sopan atau menentang guru. Tidak sedikit pula siswa yang memilih diam meskipun belum memahami materi yang diajarkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas peserta didik.Fenomena tersebut masih dapat ditemukan di berbagai sekolah. Ketika guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, suasana kelas sering kali menjadi hening karena siswa takut memberikan jawaban yang salah. Sebaliknya, ketika guru menjelaskan materi, hanya sedikit siswa yang berani mengajukan pertanyaan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya kepatuhan masih memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam praktik pendidikan.Pendidikan modern sebenarnya membutuhkan siswa yang mampu berpikir mandiri, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan ruang belajar yang tidak hanya menghargai kepatuhan, tetapi juga menghargai keberanian untuk bertanya dan berpendapat.Ilustrasi anak belajar bertanya. Foto: Nasirun/PexelsRelevansi Budaya Sendiko Dawuh di Era Pendidikan ModernPerkembangan zaman tidak berarti bahwa budaya sendiko dawuh harus ditinggalkan. Nilai-nilai seperti rasa hormat, kesopanan, dan penghargaan terhadap guru tetap penting untuk dipertahankan dalam dunia pendidikan. Namun, nilai tersebut perlu dipahami secara lebih fleksibel agar tidak menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik.Dalam konteks pendidikan modern, guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Oleh karena itu, hubungan antara guru dan siswa perlu dibangun melalui komunikasi yang lebih dialogis.Budaya sendiko dawuh dapat tetap relevan apabila dimaknai sebagai sikap hormat yang tidak menghilangkan ruang untuk berdiskusi. Dengan demikian, siswa dapat tetap menjaga etika dalam berinteraksi dengan guru sekaligus berani mengajukan pertanyaan, memberikan pendapat, dan berpikir secara kritis. Pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang hanya menghasilkan siswa yang patuh, tetapi juga siswa yang mampu memahami, menganalisis, dan merespons berbagai tantangan sosial secara bijaksana.Pada akhirnya, budaya sendiko dawuh tidak dapat dipandang hanya sebagai bentuk kepatuhan semata. Nilai ini merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, menjaga sopan santun, dan membangun hubungan sosial yang harmonis. Dalam lingkungan pendidikan, nilai-nilai tersebut sering kali hadir melalui berbagai kebiasaan dan praktik sehari-hari yang secara tidak langsung membentuk sikap peserta didik.Namun, di tengah tuntutan pendidikan modern yang semakin menekankan kemampuan berpikir kritis, budaya kepatuhan juga perlu dimaknai secara lebih terbuka. Menghormati guru bukan berarti harus menerima semua hal tanpa mempertanyakannya. Justru, proses belajar yang baik adalah ketika siswa mampu berdialog, mengemukakan pendapat, dan mengajukan pertanyaan dengan tetap menjunjung sikap santun.Oleh karena itu, tantangan pendidikan saat ini bukanlah memilih antara kepatuhan atau pemikiran kritis, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan. Siswa tetap dapat memegang nilai sendiko dawuh sebagai bentuk penghormatan kepada guru, sambil mengembangkan keberanian untuk bertanya, berdiskusi, dan berpikir secara reflektif. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang tahu cara berkata "inggih", tetapi juga generasi yang berani bertanya "mengapa" demi memahami dunia secara lebih mendalam.