Menanam Pundi-Pundi, Menanti Kebebasan: Cerita Para Napi Nusakambangan

Wait 5 sec.

Para narapidana di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah saat memanen udang vaname, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparanSekelompok pria berbaju oranye di Pulau Nusakambangan, Cilacap saling berjibaku menjaring udang vaname yang telah panen dari sebuah kolam. Di tepinya, terdapat keranjang besar bertumpuk-tumpuk berisi hasil tangkapan udang vaname yang jumlahnya tak terhitung.Ditaksir, dalam setiap satu keranjangnya, terkumpul udang vaname seberat 50 kilogram. Dalam dua bulan terakhir, ada 70 ton udang vaname yang berhasil dipanen. Itu semua adalah hasil budidaya yang diurus setiap hari oleh para narapidana Lapas Permisan Nusakambangan.“Ya kita sehari-harinya kasih pakan, kasih vitamin gitu. Kasih pakan sehari lima kali. Jam 6 pagi, jam 10 pagi, jam 2 siang, jam 6 sore, sama jam 10 malam,” tutur salah satu narapidana Lapas Permisan, Rafik (28), Sabtu (20/6).“Vitamin kadang pagi sama sore, dua kali,” sambungnya.Ada sebanyak 20 kolam udang vaname dalam lahan 7,5 hektar di Nusakambangan, serta 15 narapidana yang dikerahkan untuk mengurusnya. Setiap satu narapidana harus merawat satu kolam dengan luas 3.000 meter persegi, salah satunya Rafik.Rafik, seperti halnya narapidana lain, dipercaya untuk merawat kolam ini karena masa tahanannya akan usai. Oleh karena itu, pihak lapas memberikan ruang kepada narapidana untuk menjalani asimilasi.“Ya dua tahun lah (akan keluar dari tahanan),” ungkap Rafik.Narapidana lain yang juga merawat kolam udang vaname ini, Aldi (29) memiliki sisa durasi masa tahanan yang lebih singkat dari Rafik. “Kalau saya 5 Agustus nanti (keluar),” kata Aldi.Sebelum dikerahkan, mereka pun hanya dibekali arahan secara umum dalam merawat udang vaname. Selebihnya, mereka pelajari sendiri dengan praktik langsung.Para narapidana di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah saat memanen udang vaname, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan“Otodidak semua. Ya dari vendor kan cuma ngasih arahan aja. Anak-anak yang langsung eksekusi aja,” ungkap Aldi.Dengan dilibatkannya dalam tambak udang ini, mereka mengaku senang sebab dapat memiliki kesibukan di tengah kejemuan dalam tahanan. Terlebih, kemampuan mereka pun bertambah.“Yang jelas itu senang, lebih produktif, lebih pengalaman, dan tambah relasi. Tambah skill juga,” ujar Aldi.Selain itu, mereka juga mendapatkan premi. Tiap bulan, setiap narapidana di tambak udang vaname memperoleh Rp 1.500.000 per bulan.Rafik menyimpan sebagian besar premi yang diperolehnya. Hal itu untuk ditabungnya dalam menyambut kebebasan yang akan datang.“Ada tabungannya. Untuk bekal nanti setelah dari sini,” sebut Rafik.Sementara itu, Aldi menaruh harapan besar atas kemampuan yang telah dibentuknya di tambak udang vaname. Ia berharap, saat bebas, dapat bekerja di vendor udang.“Ya semoga kalau keluar ini bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, contoh masuk di pihak vendor udang,” tutur Aldi.Selain itu, tepat di seberang Lapas Kembangkuning, terdapat kebun anggur yang telah berbuah. Secara telaten, kebun itu dirawat oleh dua narapidana. Salah satunya adalah Soiri (47) yang lebih piawai.“Saya di sini satu tahun setengah,” sebut Sohiri.Selama mengurus kebun anggur, Sohiri tidak lagi mencemaskan soal statusnya sebagai tahanan. Kejenuhannya pun hilang.“Dalam jalani hukuman di sini ya lupalah maksudnya enggak terlalu dipikir gitu lho. Daripada di dalam, jenuh,” ujar Soiri.Seperti narapidana sebelumnya, Sohiri berharap kemampuannya ini dapat berguna kelak bila sudah bebas dalam satu tahun mendatang. Namun harapannya sederhana, kemampuannya dapat berguna untuk lingkungan sekitarnya.“Insyaallah kalau ada lahan yang kosong, kalau saudara punya, kalau tetangga punya, bisa lah kerja di sana,” tutur Soiri.Jauh lebih unik, terdapat narapidana yang dijuluki sebagai ‘dokter hewan’ oleh rekan-rekannya. Hal itu karena wawasannya sangat kuat mengenai kesehatan kambing yang berada di peternakan yang letaknya tak jauh dari kebun anggur.Suasana kebun anggur di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparanIa adalah Asnawi (31), narapidana yang akan bebas dalam sembilan bulan mendatang. Wawasannya mengenai kesehatan kambing tersebut diperoleh dari pelatihan yang sempat diberikan kepada narapidana selama lima bulan pertama peternakan tersebut pada tahun 2025.“Jadi saya pelajari, saya tanya ini gimana cara ngatasinya dan ciri-ciri dia mau sakit ataupun dia sehat bagaimana, gimana ciri-ciri dan tanda-tandanya. Jadi dikasih tahu,” tutur Asnawi.Ada 620 kambing di peternakan tersebut yang dikelola oleh 12 narapidana, namun kesehatan kambing hanya diawasi oleh Asnawi sebab hanya dia yang mampu. Asnawi pun menjelaskan kesehatan kambing itu dapat terlihat dari posisi kepalanya.“Kalau yang sehat yang pertama dia kepalanya nggak selalu nunduk. Nih semisal ini kan nggak nunduk kepalanya. Ini tanda-tanda kambing sehat,” ujar Asnawi sambil menunjukkan sejumlah kambing.“Tetapi kalau kepalanya sudah nunduk tapi dia diam, itu nggak sehat. Nunduk dan diam, itu nggak sehat. Nah itu ciri-ciri dia mau sakit,” imbuhnya.Meski demikian, Asnawi belum merasa puas dengan wawasannya. Ia ingin mempelajari soal vaksin terhadap kambing.“Kebetulan kemarin itu yang belum saya pelajarin kan kayak vaksin. Untuk vaksin semisal nih untuk sekaligus dua penyakit hilang, kayak kutu sama cacingan,” sebutnya.Adapun dengan merawat kambing-kambing tersebut, Asnawi menerima premi sebesar Rp 300 ribu per bulan. “Lumayan untuk tabungan. Walaupun tidak semua, setidaknya kayak sebulan 300, 100 lah untuk tabungan, yang 200 kita pakai buat jajan kan gitu,” jelasnya.Asnawi mengharapkan kemampuannya ini dapat menjadi bekalnya saat bebas. Khususnya untuk membuka peternakan sendiri.“Ya insyaallah kalau semisal nanti kita bebas, setidaknya sudah ada bekal. Ya siapa tahu kita berminat untuk buka usaha kayak gini juga,” harapnya.