Pasangan disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Samiyono (53) dan Sofiatun (50). Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanDi rumah sederhana di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, suara mesin jahit dan aktivitas melipat LKS menjadi rutinitas harian Samiyono (53) dan istrinya, Sofiatun (50). Pasangan penyandang disabilitas ini mengandalkan pekerjaan melipat LKS dan menjahit untuk menyambung hidup, sembari memelihara harapan agar suatu hari usaha dan rezeki mereka bisa bertambah baik.Samiyono bekerja sebagai tukang lipat dan jilid Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan upah Rp 7 per halaman. Setiap hari, Samiyono melipat dan menjilid LKS dengan penghasilan yang bergantung pada banyaknya orderan yang diterima."Seperti LKS ini kan berisi tujuh lembar. Penghasilan saya tinggal dikalikan saja Rp 7 dikali 7 lembar yakni Rp 49 per LKS," katanya kepada kumparan, Rabu (17/6).Samiyono (53) sedang melipat dan menjilid LKS di kediamannya, Rabu (17/6/2026). Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanIa menyadari upah Rp 7 per halaman yang diterimanya tergolong kecil. Akan tetapi, ia tetap bersyukur karena masih memiliki penghasilan sehingga dapur rumahnya tetap ngebul dan keluarganya bisa makan setiap hari.Pria berusia 53 tahun itu awalnya terlahir normal dengan kedua kaki. Namun, pada 1995 ia tertabrak truk sehingga kaki kirinya harus diamputasi."Kala itu saya naik sepeda hendak berangkat kerja di toko bangunan. Tetapi ditabrak truk. Sepeda menimpa saya, lalu kaki dan sepeda saya terlindas ban truk. Kejadian itu mengharuskan kaki saya diamputasi," terangnya.Kehidupan sehari-harinya usai kehilangan kaki kiri terasa berat. Ia tak hanya menghadapi tantangan untuk berjalan, tetapi juga cemoohan dari sebagian orang."Ada yang bilang sudah kehilangan kaki bisa apa. Terkadang saya mau keluar rumah takut mendengar cemoohan," ungkapnya.Samiyono (53) sedang melipat dan menjilid LKS di kediamannya, Rabu (17/6/2026). Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanKini ia bangkit dari keterpurukan. Pekerjaan melipat dan menjilid LKS dipilihnya karena menyesuaikan kondisi fisiknya. Kaki kirinya tidak memungkinkan untuk kembali bekerja berat. Selain itu, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dari rumah.Meski pekerjaan yang dijalaninya relatif ringan, rasa pegal kerap menghampiri. Tak ayal, Samiyono harus melipat dan menjilid LKS dari pagi hingga malam hari sehingga pinggangnya sering terasa pegal.Ia pernah melipat seribu LKS dalam waktu dua hari. Terlebih, ada tenggat waktu yang harus dipenuhi dari atasannya."Melipat dan jilid LKS ini sudah saya tekuni selama sepuluh tahun. Kalau menjelang tahun ajaran baru sekolah di bulan Juni dan Juli lumayan banyak orderan," ucapnya.Pasangan disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Samiyono (53) dan Sofiatun (50). Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanUpah 7 rupiah sekali melipat halaman terkadang belum mampu menutup seluruh kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, ia tetap bersyukur sembari berharap ada rezeki lain yang datang."Kalau sudah masuk tahun ajaran baru, orderan melipat dan jilid LKS sudah sepi. Biasanya saya nganggur lagi," jelasnya.Kendati berdiri dengan satu kaki, Samiyono memiliki prinsip untuk tidak bergantung pada saudara maupun orang lain. Ia berharap suatu saat bisa memiliki usaha sendiri dan memperoleh rezeki yang lebih baik untuk keluarganya."Semoga ke depannya bisa memiliki usaha sendiri," imbuhnya.Senada, istrinya, Sofiatun, juga tak pernah menyerah meski mengalami keterbatasan pada kaki kanan akibat polio. Dalam kesehariannya, Sofiatun bekerja sebagai penjahit."Upahnya tidak tentu, kadang sehari dapat Rp 5 ribu, kadang Rp 10 ribu. Pernah tidak dapat uang karena tidak ada orderan sama sekali," ucapnya.Sofiatun (50) sedang menjahit seragam. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanSofiatun terlahir normal. Namun, saat berusia empat tahun ia mengalami sakit panas dan harus disuntik. Setelah itu, kaki kanannya tidak lagi berfungsi normal.Meskipun kaki kanannya tidak dapat digerakkan, ia tetap menjalani kehidupannya sebagai penjahit sejak 2011."Buka usaha jahit tidak langsung ramai. Butuh waktu beberapa tahun sampai punya pelanggan. Alhamdulillah sampai sekarang masih ada orderan," ungkapnya.Perempuan berusia 50 tahun itu melayani permak gamis, menjahit seragam sekolah, pemasangan badge atribut pramuka, dan pekerjaan lainnya. Tarif jasanya berkisar Rp 5 ribu hingga ratusan ribu rupiah untuk pembuatan seragam sekolah.Kendala yang kerap dialaminya adalah mesin jahit yang sudah berusia tua. Terkadang dinamo mesin jahitnya cepat panas sehingga ia harus berhenti sejenak. Akibatnya, pengerjaan pesanan sering molor.Sofiatun (50) menunjukkan seragam yang selesai dijahitnya. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanKeinginan untuk membeli mesin jahit baru selalu ada. Namun, keterbatasan biaya membuat keinginan tersebut belum terwujud."Mesin jahit ini tidak bisa diajak kerja cepat. Kalau dinamonya panas, ya harus berhenti dulu," ujarnya.Diakuinya, hasil dari menjahit hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan, ia belum bisa menyisihkan uang untuk ditabung."Sementara baru bisa untuk makan tiga kali sehari. Kami tetap bersyukur dan berdoa semoga usaha jahit saya semakin ramai," pungkasnya.